HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu
risalah-amman

Syiah dan Risalah Amman

Posted on January 15, 2023January 10, 2023 by admin

Pada tanggal 10 November 2012, harian Republika menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat bertajuk “Menyikapi Fatwa Tentang Fatwa”.

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia itu menulis tanggapan atas tulisan KH. Ma’ruf Amin berjudul “Menyikapi Fatwa MUI Jatim” yang sempat dimuat harian Republika pada tanggal 8 November 2012.

Fatwa yang dimaksud ialah fatwa mengenai kesesatan Syiah, terutama ketika kasus Syiah Sampang merebak.

Jalaluddin menilai bahwa fatwa yang dikeluarkan MUI Jatim dan MUI Sampang adalah sebuah kesalahan. Fatwa ini justru mengakibatkan pertumpahan darah.

“Fatwa salah yang disampaikan oleh lembaga yang mengklaim berhak memberikan fatwa, sama seperti obat yang salah yang diberikan kepada pasien. Alih-alih menyembuhkan, ia bisa membunuh.

Di antara fatwa yang telah ikut serta, atau menyertai terbunuhnya seorang muslim di Sampang, adalah fatwa MUI Sampang.

Pengadilan Tinggi Jawa Timur yang menambahkan lagi hukuman dua tahun di atas dua tahun penjara sebelumnya yang diputuskan Pengadilan Negeri Sampang berkaitan dengan fatwa MUI Jawa Timur.”[1]

Deklarasi Amman

Selain itu, Jalaluddin juga menyebut agar MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin menengok kembali Risalah Amman yang disepakati ulama di seluruh dunia Islam pada tanggal 4-6 Juli 2005.

Terutama poin pertama yang terdapat dalam deklarasi tersebut.

“(1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Malik, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab  Ibadi dan  mazhab Zhahiri adalah Muslim.

Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.”[2]

Jalaluddin juga mengutip kesepakatan para pemimpin Islam sedunia yang tertuang dalam Deklarasi Bogor.

“Mendesak seluruh kaum Muslim, yang mengakui keyakinan mereka dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, untuk menjunjung prinsip-prinsip fundamental tersebut, yang berlaku sama bagi kaum Syiah maupun Sunni sebagai suatu landasan kesamaan bahwa setiap perbedaan keyakinan adalah semata-mata perbedaan pendapat dan penafsiran serta bukan merupakanperbedaan keyakinan yang mendasar atau menyangkut substansi Rukun Islam.”[3]

Akar Masalah

Sayangnya, menurut Fahmi Salim, tulisan Jalaluddin Rakhmat tersebut sama sekali tidak menyebutkan akar masalah yang memicu keluarnya fatwa MUI Jatim mengenai ajaran Syiah yang dibawa oleh Tajul Muluk di Sampang.

Dalam pertimbangan MUI Sampang, Tajul Muluk terindikasi menyebarkan ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam, yakni (a) mengimani imam yang 12 dan menganggap perkataan mereka sebagai wahyu, (b) menganggap Al-Qur’an yang saat ini tidak orisinal, (c) melaknat sahabat Nabi Muhammad Saw., Abu Bakar r.a., Umar r.a., dan Utsman r.a., (d) shalat Jumat tidak wajib, (e) haji tidak wajib ke Mekkah, cukup ke Karbala, (f) nikah mut’ah dianggap sunnah, (g) hanya taat kepada imam 12 dan memusuhi musuh-musuh imam 12 tersebut, (h) shalat hanya dilakukan tiga waktu, (i) aurat yang wajib ditutup hanya alat vital saja, (j) shalat Tarawih, Dhuha, dan puasa Asyuro haram.[4]

Bahkan Jalaluddin sendiri terbukti banyak sekali melecehkan para sahabat Nabi.

Di antaranya, Syiah melaknat orang yang dilaknat Fatimah (Emilia Renita AZ. 40 Masalah Syi’ah, Bandung: IJABI. Cet kedua. 2009. Hlm. 90). Yang dilaknat Fatimah adalah Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. (Jalaluddin Rakhmat. Meraih Cinta Ilahi. Depok: Pustaka IIMaN, 2008. Hlm. 404-405).

Ada pula “Para saahabat mengubah-ubah agama” (Artikel dalam Buletin al Tanwir Yayasan Muthahhari Edisi Khusu No. 298. 10 Muharram 1431 H. Hlm. 3). Para sahabat murtad (Ibid. hlm. 4), dan sebagainya.[5]

Fahmi Salim juga menyebut bahwa sebenarnya deklarasi Amman bukanlah ijma’ ulama. Risalah Amman, juga deklarasi Mekkah dan Bogor lebih bersifat politis.

Persoalan Risalah Amman

Hal ini dipicu dari konflik Sunni dan Syiah yang terjadi di Irak pascatumbangnya Saddam Hussain tahun 2003.

Sunni menuding Syiah menyerahkan kedaulatan Irak kepada Amerika dengan keuntungan politik tertentu. Ribuan kaum Sunni Irak dibantai dan tanah-tanah wakafnya dirampas. Dalam rangka merespons konflik sektarian yang berdarah itu, terjadilah upaya-upaya mediasi dunia Islam seperti pertemuan Amman, Mekkah, dan Bogor.[6]

Deklarasi tersebut lebih disemangati rasa toleransi dalam menyikapi perbedaan fikih, bukan akidah.

Karena itu, isi deklarasi tersebut menggunakan istilah ‘madzhab’. Maka kita bisa lebih mudah mengerti bahwa seseorang tidak boleh dikafirkan hanya karena berbeda madzhab fikih. Di kalangan Ahlus Sunnah, Ja’far al-Shadiq memang dikenal sebagai ahli fikih.[7]

Bukti lainnya adalah fakta bahwa DR. Yusuf Qardhawi yang ikut menandatangani deklarasi ini ternyata menrilis tiga fatwa tentang Syiah Imamiyah 12 dalam kitab Fatawa Mu’ashirah jilid 4 yang terbit pada tahun 2009.

Parahnya lagi, Jalaluddin pun tidak menulis keseluruhan isi poin pertama Risalah Amman. Ia hanya mengutip sebagiannya.

Poin pertama Risalah Amman seharusnya dilanjutkan dengan,

“Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme).

Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati.

Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.”[8]

Dalam poin ini tidak disebutkan sama sekali mengenai Syiah Imamiyah. Karena jelas, percaya kepada Imamah bukanlah ajaran pokok Islam, apalagi masuk dalam ranah toleransi fikih.

Syiah Imamiyah

Ada beberapa penyebab mengapa Syiah Imamiyah tidak termasuk dalam deklarasi ini bahkan telah tampak dengan terang kesesatannya.

1. Syiah memiliki Tuhan dan Nabi yang berbeda dengan kaum Muslimin.

“Kita (Syiah Imamiyah dan Ahlus Sunnah) tidak satu Tuhan, tidak satu Nabi dan tidak satu Imam. Pasalnya, Tuhan yang mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) akui adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya sepeninggal beliau, sedangkan kami (Syiah Imamiyah) tidak mengakui Tuhan yang seperti ini.

Akan tetapi Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah bukanlah Tuhan kami, dan Nabi itu pun bukanlah Nabi kami. (Al-Anwar Annu’maniyyah, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi, jilid 2, hlm. 278, Mu’assasah Al-‘Alami Lil Matbu’at, Beirut, Lebanon).[9]

2. Rukun Iman dan Rukun Islam versi Syiah berbeda.

Rukun Iman versi Syiah, (1) Tauhid, (2) Adalah (percaya pada keadilan ilahi), (3) Nubuwwah, (4) Imamah, (5) Al-Ma’ad (percaya pada hari akhir)

Rukun Islam versi Syiah, (1) Shalat, (2) Puasa, (3) Zakat, (4) Khumus (kewajiban mengeluarkan seperlima harta), (5) Haji, (6) Jihad, (7) Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, (8) Tawalla (membenci apa yang dibenci Rasul saw dan ahlul baitnya), (9) Tabarra (mencintai apa yang dicintai Rasul saw dan Ahlul Baitnya), (10) Amal Shaleh (Lihat buku 40 Masalah Syiah, Emilia Renita Az, Buku pedoman dakwah IJABI).[10]

3. Syiah mengingkari keaslian Al-Qur’an serta pokok-pokok ajaran Islam lainnya yang sangat fundamental dan telah disepakati dai dulu sampai hari kiamat.[11]

Al-Qur’an yang berada di tangan kaum Muslimin sekarang telah terdistorsi dan terkurangi dari teks semestinya. Teks sebenarnya masih ada bersama Al-Mahdi yang masih bersembunyi. (Lihat As-Syiah Al-Itsna Asyariyah wa Tahrifu Al-Quran oleh Muhammad Saif dan Muaqif Ar-Rafidhah min Al-Quran Al-Karim oleh Mamadu Krambery).[12]

Hanya Dalih

Begitulah cara Syiah—khususnya Syiah Imamiyah—berlindung di balik Risalah Amman. Mereka berulang kali berdalih mengadakan taqrib (pendekatan) kepada kaum Ahlus Sunnah.

Namun, nyatanya itu hanyalah kedok yang dibuat-buat.

Persoalan antara Sunni dan Syiah tidak semata mengenai fikih, tetapi telah menyentuh hal-hal yang ushul dan amat fundamental. Ada garis demarkasi yang jelas antara ajaran Sunni dan Syiah.

Terakhir, ada baiknya kita beraca pada sikap institusi Al-Azhar Mesir dalam menyikapi dakwah Syiah.

Grand Syaikh Al-Azhar, Prof. DR. Ahmad Ath-Thayyib menyatakan bahwa Al-Azhar menolak keras penyebaran ajaran Syiah di negeri-negeri Ahlus Sunnah karena akan merongrong persatuan dunia Islam, mengancam stabilitas, memecah belah umat, dan membuka peluang kepada zionisme untuk menimbulkan isu-isu perselisihan madzhab di negeri-negeri Islam.[13]

Allahu a’lam bi ash-shawwab. []


[1] Jalaluddin Rakhmat, Menyikapi Fatwa Tentang Fatwa, http://www.majulah-ijabi.org/artikel/menyikapi-fatwa-tentang-fatwa, diakses pada tanggal 26 April 2016 pkl 11.00 WIB.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Fahmi Salim, Tafsir Sesat, (Jakarta: Gema Insani Press, 2013), hal. 296.

[5] Ibid, hal. 297-298.

[6] Ibid, hal. 299.

[7] Inpas Online, Risalah Amman dan Kampanye Politis Syiah, http://inpasonline.com/new/risalah-amman-dan-kampanye-politis-syiah/, diakses pada tanggal 26 April 2016 pkl 11.00 WIB.

[8] Majulah IJABI, Risalah Amman, http://www.majulah-ijabi.org/taqrib/risalah-amman, diakses pada tanggal 26 April 2016 pkl 11.00 WIB.

[9] Muhammad Istiqamah, Syiah Berlindung di Balik Risalah Amman, http://www.lppipusat.com/syiah-berlindung-di-balik-risalah-amman/, diakses pada tanggal 26 April 2016 pkl 11.00 WIB.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Abdullah bin Muhammad, Siapakah Syiah Itu?, hal. 6.

[13] Fahmi Salim, Tafsir Sesat, (Jakarta: Gema Insani Press, 2013), hal. 300.

sekularisme

Kegagalan Sekularisme

Posted on January 14, 2023January 10, 2023 by admin

Dalam artikel berjudul Berkah Sekularisme, Luthfi Assyaukanie menulis bahwa dalam perkembangannya, sekularisme dapat menjadi konsep yang efektif untuk meredam konflik antara agama dan negara. Bahkan efektif dalam memberikan landasan bagi demokrasi dan persamaan hak.

Lebih lanjut, dosen di Universitas Paramadina menyebut penolakan sebagian kaum Muslim terhadap paham tersebut dipengaruhi oleh negara-negara Islam yang salah mengadopsi sistem ini. Sebut saja Turki, Mesir, dan Irak.

Saat sekularisme mendominasi Turki, sejumlah atribut dan praktik keagamaan dilarang. Seperti pelarangan jilbab, penutupan intitusi pengajaran Al-Qur’an, dan penangkapan terhadap aktivis Islam.

Di Mesir, sekularisme justru identik dengan diktatorisme. Ikonnya menjelma ke dalam diri Husni Mubarak.

Bahkan di Eropa pun, sekularisme tercemar. Sebagai contoh Perancis yang memaknai paham ini sebagai kewaspadaan terhadap “ancaman” agama. Memakai jilbab, karenanya, dianggap sebagai ancaman.

Sebaliknya, Luthfi meminta kaum Muslim agar memandang sekularisme dari negara-negara yang berhasil menerapkannya dengan baik.

Amerika Serikat, Inggris, dan Australia adalah contoh nyata ketika sekularisme tidak dipahami sebagai musuh agama. Tapi justru dijadikan sebagai pelindung agama.

Maka paragraf terakhir artikel tersebut berbunyi,

“Alangkah tidak fair jika kita mengecam sekularisme semata-mata karena kita merujuk pada praktik sekularisme yang salah. Kita tentu saja tak mengingingkan model sekularisme Turki, atau Mesir, atau Perancis. Lagi pula, mengapa kita terobsesi dengan negara yang gagal ini? Mengapa tak berkaca pada pengalaman yang jelas-jelas terbukti sukses?”[1]

Pil Pahit Kegagalan Sekularisasi

Di satu sisi, kita bisa sependapat dengan Luthfi Assyaukanie mengenai Turki, Mesir, dan Perancis. Bahkan proyek sekularisasi di dunia Islam secara umum dapat dibilang harus menelan pil pahit kegagalan. Khilafah Islamiyyah terakhir memang runtuh oleh sekularisasi pada tahun 1924. Tetapi Islam ternyata tidak mati.

Anis Matta memberikan beberapa bukti kasat mata kegagalan tersebut:[2]

  1. Hanya empat tahun setelah runtuhnya khilafah, gerakan Islam Ikhwanul Muslimin lahir ke permukaan sejarah memelopori gerakan kebangkitan Islam.
  2. Gerakan Islamisasi kampus yang terjadi di seluruh dunia Islam yang menjadi agen perubahan besar bagi masa depan Islam.
  3. Suksesnya kudeta putih di Sudan tahun 1987. Memang bukan khilafah yang tegak. Tapi ketika negara terbesar di benua Afrika itu secara resmi memproklamirkan Islam sebagai dasar negara, gagasan pemisahan dan Islam seketika mati; ia menemui ajalnya dalam kesadaran ummat Islam.
  4. Jihad Afghanistan selama 14 tahun bukan hanya berbuah kemenangan. Tapi juga runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.
  5. Keruntuhan Uni Soviet berimplikasi pada berakhirnya rezim diktator. Kanal politik terbuka seiring terjadinya proses demokratisasi. Dalam tempo singkat, gerakan-gerakan Islam menjelma menjadi partai-partai Islam.

Namun, tidak serta merta pandangan kita bisa dialihkan begitu saja pada praktik sekularisme di Amerika Serikat dan Inggris. Apalagi mengklaim bahwa negara-negara tersebut mampu menerapkan sekularisme dengan baik.

Pada kenyataannya, meski sama-sama mempraktikkan sekularisme, namun model yang dipakai oleh Amerika Serikat berbeda dengan negara-negara Eropa.

Definisi Sekularisme

Di Amerika Serikat, sekularisme didefinisikan sebagai “kebebasan beragama” (freedom of religion), sedangkan di Eropa istilah itu cenderung didefinisikan sebagai “kebebasan dari agama” (freedom from religion) (Jacoby dan Yavuz, 2008).[3]

Dengan definisi seperti itu, maka pemerintah Amerika Serikat benar-benar tidak ikut campur mengenai agama para warga negaranya.

Hal ini tidak mengherankan, mengingat sejarah Amerika mengharuskan negara tersebut mengambil kebijakan yang mampu menyelamatkan keutuhan negaranya.

Berabad-abad lalu, orang-orang Eropa melakukan migrasi besar-besaran menuju benua yang mereka sebut New World, yakni Amerika.

Masyarakat yang bermigrasi ini terdiri dari tiga kelompok agama, yaitu Puritan, Katolik, dan Quaker. Ketiga agama ini sama-sama mengalami pengalaman buruk di Eropa. Sehingga mereka memiliki harapan dapat membangun tatanan masyarakat baru yang lebih bebas.

Tetapi kebebasan beragama ini justru memunculkan berbagai peristiwa berdarah, seperti pengarakan agama Quaker di Massachussets oleh kaum Puritan, pelarangan ibadah bagi kaum Yahudi di New York, dan pembakaran gereja-gereja Katolik.

Sejarah kelam ini terus berlanjut hingga sekarang.

Bukti paling nyata ialah peristiwa meledaknya gedung WTC di New York. Seketika itu, Amerika menyatakan perang kepada umat Islam. Banyak non-muslim memandang sinis komunitas Muslim di daerahnya.

Memicu Konflik

Inilah bukti bahwa hingga saat ini sekularisme di Amerika Serikat pun tidak lepas dari masalah. Sekularisme justru memunculkan konflik agama, karena negara tidak berhak sama sekali mengatur urusan agama.[4]

Ketika terjadi penistaan agama, maka negara tidak akan berbuat apa-apa. Risikonya, justru membuat masyarakat main hakim sendiri. Sebab tidak ada hukuman apa pun terhadap penistaan tersebut. Seperti yang terjadi pada penganut Ahmadiyah di Indonesia.

Begitu pula yang terjadi di Inggris. Sebagaimana di Perancis, sekularisme ala Inggris juga menyimpan banyak problem.

“Komunitas-komunitas agama di luar Gereja Anglikan sering merasa diperlakukan diskriminatif. Dalam soal pendidikan misalnya, meskipun pada 1988 pemerintah telah mengeluarkan sebuah undang-undang reformasi pendidikan yang bertujuan untuk menjamin agar pendidikan terbebas dari intervensi pandangan keagamaan tertentu, kenyataannya Gereja Anglikan melalui kewenangan komite lokal mempunyai hak veto untuk mengubah silabus kurikulum pendidikan agama yang diajukan oleh sekolah-sekolah swasta (An-Na’im, 2007).”[5]

Terbukti bahwa praktik sekularisme di Amerika Serikat dan Inggris pun memiliki banyak masalah.

Bahkan cenderung mengalami kegagalan untuk benar-benar menjauhkan agama dari negara.

Islam Berseberangan dengan Sekularisme

Luthfi sepertinya salah memahami, bahwa penolakan kaum Muslim terhadap sekularisme justru bukan semata merujuk pada praktik negara-negara tertentu.

Namun, secara konseptual, paham tersebut bertolak berlakang dengan nilai-nilai Islam. Islam tidak mengatakan hak kaisar untuk kaisar, dan hak Allah untuk Allah.

Justru Islam mengatur kehidupan bernegara sejak awal agar sesuai dengan firman-Nya. Mulai dari bagaimana memilih pemimpin, budaya amanah, kriteria pemimpin dalam Islam, hingga undang-undang yang mesti berlaku. Sehingga lahirlah sebuah negara dengan pemimpin yang mampu mengejawantahkan syariat Allah di muka bumi. Allahu a’lam. []


[1] Luthfi Assyaukanie, Berkah Sekularisme, http://islamlib.com/politik/sekularisasi/berkah-sekularisme/, diakses pada tanggal 19 April 2016 pkl 12.30 WIB

[2] Anis Matta, Dari Gerakan Ke Negara, (Jakarta: Fitrah Rabbani, 2010), hal. 104-105

[3] Amin Mudzakkir, Sekularisme dan Identitas Muslim Eropa dalam Jurnal Kajian Wilayah, (Jakarta: PSDR LIPI, 2013), hal. 95

[4] Andika Kelana Putra, Memahami Konsekuensi Sekularisme di Amerika Serikat, http://andikakelanaputra22.blogspot.co.id/2013/04/memahami-konsekuensi-sekularisme-di.html, diakses pada tanggal 19 April 2016 pkl 13.00 WIB

[5] Amin Mudzakkir, Sekularisme dan Identitas Muslim Eropa dalam Jurnal Kajian Wilayah, (Jakarta: PSDR LIPI, 2013), hal. 97

Islam dan Penyerahan Diri Kepada Allah, Tadabbur Qs. Ali Imran: 18-20

Posted on January 13, 2023January 10, 2023 by admin

Pada tanggal 11 Mei 2003, Harian Jawa Pos memuat wawancara yang dilakukan Ulil Abshar Abdalla kepada Budhy Munawar Rahman.

Tokoh JIL yang juga dosen Univeritas Paramadina itu mengatakan, “…inti keberagaman itu kan kesadaran Tuhan. Kosa kata “din” dalam bahasa Arab itu sendiri berarti ketundukan dan keterikatan kepada Tuhan. Kata Islam juga bisa dikembalikan kepada maknanya yang generik, yang asal, artinya, kepasrahan dan ketundukan…”[1]

Begitulah pemahaman kelompok liberal mengenai ayat “Inna ad-dina indallahi al-Islam.”

Dengan begitu makna ayat tersebut bukanlah, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.” Tetapi menjadi, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah kepasrahan atau ketundukan (Submission).”

Pemahaman ini mendorong para penganutnya untuk menganggap bahwa semua agama sama saja. Banyak jalan menuju Tuhan. Asal ada rasa kepasrahan dan ketundukan (submission).

Tetapi tidak jelas, kepasrahan apa yang dimaksud. Bagaimana bentuknya dan kepada siapa.

Tafsir Ayat

Agar memaknai ayat ini lebih, minimal kita menengok kembali penafsiran para ulama serta melihat ayat sebelum dan sesudahnya untuk mencari munasabah (hubungan) antarayat.

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.

Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.

Siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.’

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’

Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali Imran: 18-20)

Sebelum Allah menyatakan Islam sebagai agama yang hanya diridhai-Nya, Allah memproklamirkan keesaan-Nya. “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan…”

Pernyataan ini diiringi oleh kesaksian para malaikat dan para ulama. “…Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian itu)…”

Lalu Allah menguatkan lagi (taukid) pernyataan tersebut pada kalimat berikutnya. “…Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…” Al-Aziz Yang Mahaperkasa, Yang keagungan dan kebesaran-Nya tidak dapat dibatasi, lagi Mahabijaksana dalam semua ucapan, perbuatan, syariat, dan takdir-Nya.[2]

Setelah mendapatkan wahyu ini, Rasulullah Saw. pun mengucapkan, “Dan aku termasuk salah seorang yang mempersaksikan hal tersebut, ya Tuhanku.”[3]

Pada ayat selanjutnya, Allah mengabarkan bahwa tidak ada agama (din) yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dimaksud dengan Islam yaitu mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah Swt. di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad Saw. yang membawa agama, menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang ditempuhnya.

Karena itu, siapa yang menghadap kepada Allah—sesudah Nabi Muhammad Saw. diutus—dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah.[4]

“Siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya…” (Qs. Ali Imran: 85)

Kepasrahan dan Ketundukan

Mengacu ilmu ushul fiqh, jika sebuah nash syariat terdapat lafal yang bermakna ganda (musytarak)—antara makna bahasa dan makna syariat—maka yang harus digunakan adalah makna syariat.[5]

Meski Islam secara bahasa bermakna keselamatan, ketundukan, kepasrahan, dan sebagainya, namun makna ini harus digugurkan. Makna Islam harus dikembalikan kepada syariat.

“Dan siapakah yang lebih baik agama (din)-nya daripada orang yang menyerahkan (aslama) dirinya kepada Allah…” (Qs. An-Nisa: 125)

Syaikh Naquib Al-Attas menegaskan, “Menurut Kitab Suci Al-Quran manusia tidak dapat terlepas dari hidup dalam suatu din, karena semuanya berserah diri dan patuh (aslama) kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, istilah din dipakai juga untuk agama-agama lain selain Islam.

Namun, yang membuat Islam berbeda dari agama-agama lain itu adalah bahwa penyerahan diri menurut Islam adalah penyerahan diri yang tulus dan menyeluruh kepada kehendak Allah, dan ini dijalankan dengan sepenuh hati dengan ketaatan secara mutlak terhadap hukum yang diwahyukan oleh-Nya.[6]

Islam menjadi din yang mengikuti millah Nabi Ibrahim. Sebab itu, para nabi dan rasul serta para pengikutnya dianggap sebagai Muslim.

Meskipun perwujudan Islam dalam bentuknya yang sempurna baru ada di masa Nabi Muhammad Saw. Agama mereka termasuk hanif dan disebut dengan din al-qayyim. Ajarannya bersumber dari wahyu Allah tanpa perubahan sedikit pun.

Sedangkan agama-agama lain mengembangkan sistem atau bentuk penyerahan dirinya yang didasarkan pada tradisi-tradisi kebudayaan mereka sendiri.

Tradisi-tradisi tersebut tidak bersumber dari millah Nabi Ibrahim. Para Ahli Kitab pun tidak disebut memiliki din yang benar, walaupun ajarannya mencampurkan kebudayaan mereka dan wahyu Allah.

Mereka tidak berserah diri dengan tepat, justru memilih menyerahkan diri dengan cara mereka sendiri.

Banyak metode penyerahan diri yang justru bertentangan dengan yang diperintahkan oleh-Nya.

Penyerahan diri yang sejati adalah yang telah disempurnakan oleh Nabi Saw. sebagai teladan bagi manusia. Karena penyerahan diri tersebut merupakan bentuk penyerahan diri dari semua nabi dan rasul sebelum beliau. Penyerahan diri yang diridhai, diwahyukan, dan diperintahkan kepada Allah.[7]

Setelah mengabarkan hal ini, Allah melanjutkan firman-Nya, “…Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka…”

Allah menyebut perselisihan yang dilakukan oleh golongan Ahli Kitab, padahal sebelumnya telah diturunkan kebenaran melalui nabi dan rasul-Nya.

Mereka dipenuhi rasa dengki, benci, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kedengkian ini membuat mereka tak segan menentang orang lain, meski orang tersebut benar.

”…Siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya…”

Maka siapa pun yang ingkar dengan apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya, tersedia balasan baginya. Siapa yang tidak menyerahkan dirinya dengan benar, ketahuilah bahwa hisab Allah sangat cepat.

Sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaan itu. Allah juga akan menghukumnya akibat ia menentang kitab-Nya.[8]

“…Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.’…”

Jika ada yang mendebat kita dengan kebenaran, ada yang mendebat kita mengenai masalah tauhid, balaslah dengan perkataan yang sederhana. Katakanlah aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri.[9]

Atas kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah, Dia pun memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya untuk menyeru orang-orang Ahli Kitab dan orang-orang ummi dari kalangan musyrik agar masuk Islam dan mengamalkan apa yang Allah turunkan.

Tidak mungkin perintah ini muncul, kecuali Islam adalah agama yang benar, sedangkan yang lainnya salah.

“…Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’

Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

Tidak ada paksaan bagi Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Allah-lah yang Maha Melihat hamba-Nya. Mana yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan.

Islam, Agama yang Diterima Allah

Dengan memahami ayat-ayat ini, telah jelas bagi kita mana agama yang diterima di sisi-Nya dan makna penyerahan diri yang sebenarnya.

Atas hikmah dan rahmat-Nya, risalah Nabi Muhammad Saw. adalah satunya-satunya yang murni dan ditujukan umum bagi seluruh makhluk.

Penyerahan diri sejati ialah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw. sehingga melahirkan keimanan yang sejati pula. Allahu a’lam. []


[1] Artawijaya, #IndonesiaTanpaLiberal, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012), hal. 41.

[2] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Juz 3, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hal. 311.

[3] Ibid, hal. 311.

[4] Ibid, hal. 314.

[5] Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushul Fikih, (Jakarta: Pustaka Amani, 2003), hal. 257.

[6] Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, (Bandung: PIMPIN, 2011), hal. 78.

[7] Ibid, hal. 80.

[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Juz 3, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hal. 316.

[9] Ibid, hal. 316.

Ketika Nabi Ibrahim Mencari Tuhan

Posted on January 12, 2023January 10, 2023 by admin

Bisakah sebuah kebenaran dicapai tanpa bimbingan wahyu? Bisa jadi bisa.

Bagi para pengagum akal, aktivitas filsafat, berpikir, dan bukti-bukti empiris merupakan sarana mencapai kebenaran.

Bukankah itu pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam?

Dialog dalam Al-Quran

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya.

Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu.

Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya.

Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?”

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-An’am: 75-83)

Ayat-ayat ini menjadi legitimasi bahwa manusia dapat mencapai kebenaran dan pengeahuan mengenai Tuhannya melalui pengamatan terhadap alam semesta.

Sebagaimana Nabi Ibrahim mencari Tuhannya. Beliau ‘alaihis salam seolah sedang berfilsafat, persis ketika para filsuf menanyakan konsep Tuhan, agama, dan dirinya sendiri.

Namun, benarkah demikian?

Penjelasan Tafsir

Padahal dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim dan kitab Qashashul Anbiya’, Ibnu Katsir secara tegas menyatakan bahwa ayat ini menggambarkan perdebatan antara Nabi Ibrahim dengan kaumnya. Lebih tepatnya kepada para penduduk Harran.[1]

Nabi Ibrahim menjelaskan kepada mereka mengenai kekeliruan menyembah bintang-bintang yang beredar.

Di antara semua bintang, ada tiga benda langit yang memiliki cahaya paling terang yaitu matahari, bulan, dan venus.

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (Qs. Al-An’am: 76)

Nabi Ibrahim menjelaskan, Bintang Venus tidak layak dijadikan sebagai Tuhan. Karena ia telah ditundukkan dan ditakdirkan bergerak pada garis edarnya. Ia tidak memiliki kuasa apa pun atas dirinya. Bintang Venus terbit dari timur, beredar menuju barat, lalu menghilang.

“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Qs. Al-An’am: 77-78)

Bulan dan matahari pun sama seperti bintang. Tidak memiliki kuasa atas dirinya. Ia muncul, lalu menghilang kembali.

Lalu Nabi Ibrahim berlepas diri dari sesembahan kaumnya itu. Sebab beliau hanya menyembah Pencipta semua benda-benda itu. Yang mengadakannya, yang menundukkannya, yang menjalankannya, dan yang mengaturnya.[2]

Maka Ibnu Katsir pun bertanya, “Pantaskah bila dikatakan bahwa Nabi Ibrahim menanyakan hal-hal tersebut?

Padahal ia adalah seorang nabi yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firmannya,

“Dan sungguh telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.” (Qs. Al-Anbiya’: 51)

Mustahil bagi seorang Kekasih Allah—yang dijadikan oleh-Nya sebagai panutan umat manusia, taat kepada Allah, cenderung kepada agama yang benar (hanif), dan tidak termasuk orang yang menyekutukan Allah—dianggap sebagai orang yang mempertanyakan hal tersebut.

Bahkan dia orang yang lebih utama untuk memperoleh fitrah yang sehat dan pembawaan yang lurus sesudah Rasulullah Saw. tanpa diragukan lagi.

Yang benar ialah dia dalam keadaan mendebat kaumnya yang menyekutukan Allah Swt. Bukan sebagai orang yang menanyakan hal yang dikisahkan oleh Allah Swt. itu.[3]

Nabi Ibrahim Dibimbing Wahyu

Jadilah Nabi Ibrahim, sebagaimana nabi dan rasul lainnya, seseorang yang mencapai kebenaran dengan bimbingan wahyu.

Bukti empiris dan sains mungkin bisa menjadi sarananya, tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk mencapai kebenaran melalui dua hal tersebut? Sedangkan sains pun senantiasa berubah, tidak absolut, sangat tergantung kepada penelitian-penelitian yang dilakukan manusia.

Sementara itu, kemampuan berpikir manusia pun ada batasnya.

Alhasil, kebenaran yang dicapai hanya bersifat spekulasi, karena ketiadaan arah dan sumber ilmu lain yang bisa digunakan.

Celakanya, mencukupkan diri dengan spekulasi justru disebut dengan berfilsafat.

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra’: 85)


[1] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013), hlm. 216

[2] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz 7, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hlm. 385

[3] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz 7, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hlm. 387-389

Benarkah Nabi Ibrahim Mengajarkan Tiga Agama?

Posted on January 11, 2023January 10, 2023 by admin

Ada salah kaprah di tengah masyarakat mengenai konsep agama samawi (wahyu).

Agama Yahudi, Nasrani, dan Islam dianggap sejajar karena ketiganya merupakan agama-agama yang memperoleh kitab dari Tuhan. Selain itu, ketiganya berasal dari sumber yang satu, yakni Nabi Ibrahim as.

Beliau as. dikisahkan memiliki dua anak: Nabi Ismail as. dan Nabi Ishak as. Dari keturunan Nabi Ismail as., kelak lahirlah Nabi Muhammad Saw. yang membawa risalah Islam.

Sedangkan dari keturunan Nabi Ishak as. lahirlah Nabi Yakub as. (Israel). Anak-anak Nabi Yakub inilah yang kemudian dikenal dengan nama Bani Israel.

Banyak dari kalangan Bani Israel yang Allah Swt. angkat menjadi nabi dan rasul.

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Qs. Al-An’am: 84-87)

Termasuk di dalamnya ialah Nabi Musa as. yang dianggap melahirkan agama Yahudi dan Nabi Isa as. (Yesus) yang dianggap membawa agama Nasrani.

Hingga kini, ketiga agama tersebut masih dikatakan agama samawi. Bersumber dari wahyu Tuhan. Dan dibawa oleh abul anbiya, Nabi Ibrahim as.

Tidak heran kemudian muncul kelompok Gafatar di Indonesia yang mengklaim mengikuti millah Abraham. Lalu benarkah Nabi Ibrahim as. adalah bapak dari ketiga agama tersebut?

Satu Ajaran Nabi Ibrahim dan Lainnya

Kenyataannya, tidak ada satu pun nabi dan rasul yang membawa ajaran baru. Seruan mereka sama dari dahulu hingga masa Rasulullah Saw.

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) kepada mereka saudara mereka, Hud. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah…” (Qs. Hud: 50)

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shaleh. Dia berkata,’Wahai kaumku! Sembahlah Allah…” (Qs. Hud: 61)

“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata,’Wahai kaumku! Sembahlah Allah…” (Qs. Hud: 84)[1]

Begitu pula dengan Nabi Ibrahim as. Seruannya ialah mengesakan Allah dan tidak menyekutukannya dengan apa pun.

“Dan (ingatlah) Ibrahim ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya…” (Qs. Al-Ankabut: 16)

“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub, ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Qs. Al-Baqarah: 132)

Meski sama-sama menyerukan ajaran tauhid, namun banyak penyimpangan yang dilakukan oleh Bani Israel. Bahkan walaupun di tengah-tengah mereka ada seorang rasul, tetapi mereka tidak segan-segan berbuat olah.

Di bawah pimpinan Samiri, mereka menjadikan patung anak sapi dari emas sebagai sesembahan (Ilah) saat Nabi Musa as. pergi selama empat puluh hari. Bahkan saat itu ada Nabi Harun as. sebagai penanggung jawab sementara.

“Apabila penyimpangan itu terjadi di kalangan pengikut Rasul, sedangkan Rasul tersebut masih bersama mereka, apatah lagi jika Rasul tersebut masih telah wafat. Karena itu, bukan hal yang aneh jika orang Yahudi mengubah Taurat Musa setelah Musa wafat.”

Allah lalu mengutus Nabi Isa as. kepada Bani Israel dengan membawa Injil untuk meluruskan Taurat yang telah disimpangkan.

Dari sejumlah pengikut Nabi Isa as., terdapat dua belas orang yang menjadi sahabat dan pengikut setia beliau. Mereka ini yang Allah sebut sebagai kelompok Hawariyyun.

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Ali Imran: 52)

“…apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaan-Nya, kamu yang telah mengikuti aku, akan duduk juga di atas 12 tahta untuk menghakimi ke 12 suku Israel…” (Matius: 28)

Namun, sesudah Nabi Isa as. (Yesus) wafat, timbullah berbagai penyimpangan.

Munculnya Paulus

Dalam buku Evolusi Kristen, M.I. Ananias menjabarkan secara panjang bagaimana permulaan agama ini berubah dari Yahudi menjadi bernama Kristen. Adalah Paulus, seorang yang paling keras menentang ajaran Nabi Isa.[2], belum pernah bertemu dengan beliau[3], dan melakukan pembantaian terhadap Yahudi di Jerussalem[4], orang yang paling ‘berjasa’ menciptakan agama Kristen.

Dia mengaku sebagai Rasul dan mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Nabi Isa as. Ketika bersama Barnabas mengunjungi Antiokhia, istilah Kristen diperkenalkan oleh Paulus.

“Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia-lah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” (Kisah Para Rasul: 26)

Pemberian nama ini tentu bukan dari Nabi Isa as. maupun pengikut-pengikutnya yang setia. Tetapi diberikan oleh Paulus untuk para jemaatnya.

Dengan demikian, dialah yang pertama membentuk jemaat Kristen. [5]

Karena kedekatannya dengan Romawi, tidak heran akhirnya pada Konsili Nicea ajaran Paulus mendapatkan legitimasi dari Kaisar Konstantin.

Terciptalah Injil Perjanjian Baru yang banyak memuat ajaran Paulus, paganisme, termasuk pengukuhan bahwa Nabi Isa as. (Yesus) adalah Tuhan.

Penyimpangan Paulus

Setidaknya, ada sebelas penyimpangan Paulus yang bertentangan dengan ajaran Nabi Isa as., bahkan dengan sunnah Nabi Ibrahim as.

  1. Menganggap Yesus sebagai Tuhan.[6]
  2. Mengartikan kata-kata “Bapak” dan “Anak-anak Allah” sesuai makna hakikinya.[7]
  3. Mengingkari hukum Taurat.[8]
  4. Mengingkari perintah sunat.[9]
  5. Menghalalkan khamr.[10]
  6. Mengharamkan makanan halal dan menghalalkan makanan haram.[11]
  7. Mengingkari perintah menyembelih kurban. [12]
  8. Membuat ajaran dosa warisan.[13]
  9. Membolehkan nikah beda agama.[14]
  10. Menjadikan kebangkitan Yesus sebagai pokok keimanan.[15]
  11. Mengarang Injil Paulus.[16]

Dengan berbagai penyimpangan tersebut, jelas sekali bahwa ajaran Yahudi dan Nasrani (Kristen) tidak lagi  cocok disebut agama samawi yang berdasarkan wahyu.

Termasuk tidak tepat juga dinisbatkan kepada Nabi Ibrahim as. Karena jelas, setiap nabi dan rasul menyeru kepada satu hal: mengesakan Allah.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (Qs. Al-Anfal: 30)

“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (Qs. Al-Baqarah: 135)

“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Baqarah: 140)

Agama yang Masih Otentik

Dengan begini, Islam-lah satu-satunya agama samawi yang masih otentik.

Islam tetap mengganggap Yahudi dan Nasrani sebagai ahli kitab.[17] Sebab itu, umat Islam masih diperbolehkan memakan hewan sesembelihan dan menikahi wanita-wanita mereka.

Tetapi secara pokok agama, terdapat garis demarkasi yang tegas perbedaan antara ketiga agama ini. Masihkan tepat kita mengatakan bahwa ketiga agama ini menuju Tuhan yang sama?

Allahu a’lam. []


[1] Surahman Hidayat, Islam, Pluralisme dan Perdamaian (Jakarta: Fikr, 2008), hlm. 75

[2] M.I. Ananias, Evolusi Kristen (Yogyakarta: Gelanggang, 2008), hlm. 53

[3] Ibid, hlm. 54

[4] Ibid, hlm. 56

[5] Ibid, hlm. 70

[6] Ibid, hlm. 79

[7] Ibid, hlm. 83

[8] Ibid, hlm. 96

[9] Ibid, hlm. 108

[10] Ibid, hlm. 112

[11] Ibid, hlm. 116

[12] Ibid, hlm. 120

[13] Ibid, hlm. 131

[14] Ibid, hlm. 134

[15] Ibid, hlm. 138

[16] Ibid, hlm. 142

[17] Surahman Hidayat, Kerukunan Bermasyarakat Dalam Tuntunan Syariat (Jakarta: Rabbani Press, 2012), hlm. 18

Wahyu dan Worldview of Islam

Posted on January 10, 2023January 10, 2023 by admin

Berbicara mengenai Worldview of Islam, sebetulnya mau tak mau kita akan membicarakan worldview dari peradaban lain dan membandingkannya dengan worldview yang dimiliki Islam.

Sebab penyebutan Worldview of Islam (pandangan hidup Islam) sendiri berfungsi untuk mengkhususkan bahwa pandangan ini adalah milik Islam. Menjadi ciri khas agama ini dan tidak dimiliki oleh worldview lain.

Salah satu hal yang membedakan tersebut adalah mengenai konsep wahyu.

Perbedaan Worldview

“Banyak lapisan makna di dalam worldview,” tulis Hamid Fahmi Zarkasyi. “Membahas worldview bagaikan berlayar ke lautan tak bertepi (journey into landless-sea), kata Nietsche. Meskipun begitu, di Barat masalah worldview tetap hanya sejauh jangkauan panca indera.”[1]

Oleh sebab itu, di Barat orang-orang membahas worldview hanya berdasarkan pendekatan kultural dan saintifik. Bukti-bukti nyata mengenai sesuatu harus dibuktikan secara empiris atau melalui pengalaman langsung. Definisi ilmiah bagi mereka ialah apabila sesuatu itu dapat dilihat, didengar, dan diraba.

Karena itulah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dicapai indera, mereka hanya mampu berspekulasi.

Sementara itu bagi setiap Muslim, wahyu adalah bagian dari apa yang orang Barat sebut sebagai sesuatu yang “ilmiah.”

Islam memiliki konsep khabar shadiq (kabar yang benar). Khabar shadiq ini datang dari dua wahyu Allah; Al-Quran dan Sunnah Nabi yang mutawattir.

Sebagaimana kata Hamid Fahmi Zarkasyi, “Dalam Islam, sejauh apa pun pikiran kita berpetualang, wahyu akan tetap menjadi obornya.”[2]

Sehingga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep Tuhan, agama, manusia, surga-neraka, hari akhir, dan sebagainya, setiap Muslim tidak perlu berspekulasi. Dan memang dilarang berspekulasi. Sebab semuanya telah dijelaskan di dalam Al-Quran dan Sunnah.

Seorang Muslim hanya perlu menggalinya dengan metodologi yang tepat.

Kanker Epistemologis

Masalahnya, selain menolak wahyu, mereka juga mengidap apa yang Syamsuddin Arif sebut dengan “Kanker Epistemologis.”[3]

Gejala-gejala yang ditimbulkannya cukup jelas.

Pertama, mereka bersikap skeptis terhadap segala hal. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Meskipun hal tersebut merupakan hal yang qath’i bagi seorang Muslim dan telah dijelaskan melalui wahyu. Perkara-perkara tersebut masih bebas untuk diperdebatkan.

Kedua, berpaham relativistik. Sehingga jika seorang Muslim menjunjung tinggi wahyu, ia tidak boleh menganggap hal tersebut sebagai hal yang paling benar. Seorang relativis berpikir untuk menerima dan menganggap semuanya benar.

Ketiga, mengalami kekacauan ilmu. Ia tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan yang salah. Sehingga konsekuensinya sesuatu yang salah bisa dianggap sebagai kebenaran, begitu pun sebaliknya.

Selain itu, anggaplah mereka yang pikirannya belum terwarnai dengan Worldview of Islam menerima Al-Quran, tetapi ketika menggali sesuatu darinya, mereka tetap saja menafikan konsep wahyu.

“Level berikutnya adalah Al-Quran sebagai data sejarah, yakni sebagai teks yang secara historis berada di tengah-tengah umat Islam. Ia menjadi sumber, fondasi, dan ilham bagi norman dan aturan-aturan yang mengatur kehidupan umat Islam. Pada level inilah, Al-Quran bisa diinterogasi secara ilmiah, dianalisa, diinterpretasikan, dan seterusnya,” tutur Ulil Abshar Abdalla.[4]

Bagi Ulil, Al-Quran sebagai wahyu dan data sejarah harus dipisahkan. Pengkajian ilmiah atas Al-Quran bersifat relatif, karena mengandalkan asumsi, sehingga bersifat kondisional dan provisional. Dari sini, maka tidak heran muncullah Tafsir Hermeneutika. Mengganggap Al-Quran sebagai kitab biasa, sehingga bisa ditafsirkan sebebasnya.

Memang benar bahwa tafsir itu bersifat relatif. Para mufassir terdahulu hingga yang kontemporer tidak pernah ada yang mengklaim bahwa tafsirnya adalah tafsir yang paling benar. Paling sesuai dengan maksud Allah Swt.

Tetapi ketika menafsirkan Al-Quran, mereka menggunakan metodologi yang sesuai prosedur dan memenuhi segala persyaratannya. Syaikh Manna Al-Qathan menjelaskan setidaknya ada 9 syarat bagi mufassir untuk menafsirkan Al-Quran.[5]

  1. Akidah yang benar. Maka mereka yang tidak mempercayai Tuhan, menganggap Tuhan itu lebih dari satu, mengatakan bahwa ada nabi setelah Rasulullah Saw., tidaklah memenuhi persyaratan.
  2. Bersih dari hawa nafsu, sehingga tidak ada keinginan untuk membela kepentingan kelompoknya sendiri apalagi kepentingan orang-orang yang membayarnya.
  3. Lebih dahulu menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran.
  4. Mencari penafsiran dari Sunnah.
  5. Melihat pendapat para shahabat mengenai ayat yang dimaksud.
  6. Merujuk kepada pendapat para tabi’in.
  7. Memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik. Bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga menguasai ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan sebagainya.
  8. Memiliki pengetahuan mengenai Al-Quran. Di antaranya adalah ilmu qira’at, ushul at-tafsir, asbab an-nuzul, nasikh-mansukh, dan lain-lain.
  9. Pemahaman yang cermat untuk menyimpulkan makna dari ayat-ayat tersebut.

Tidak hanya sampai situ, seorang mufassir juga mesti memiliki adab yang baik. Niatnya lurus karena Allah, berakhlak mulia, mengamalkan ilmunya, jujur dalam penilainnya, serta siap mengikuti metodologi yang telah ditetapkan di atas.

Data sejarah—seperti asbab an-nuzul—perlu dipisahkan dalam arti bahwa fakta sejarah tidak menjadi penilaian utama dalam mengambil kesimpulan hukum.

Data tersebut hanya membantu untuk memahami ayat-ayat Allah. Dalam hal ini berlaku kaidah, “Yang dianggap adalah lafazh yang umum, bukan sebab yang khusus.”[6]

Misal, firman Allah berikut, “Kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa itu dari neraka, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi ia memberikan semua itu semua semata-mata karena mencari keridhaan Allah, Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak ia benar-benar mendapatkan kepuasan.” (Qs. Al-Lail: 17-21)

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar. Tetapi apakah hanya Abu Bakar ra. yang bisa memperoleh keutamaan demikian. Jumhur ulama—dan ini merupakan pendapat terkuat—berkata bahwa yang menjadi pegangan adalah lafazh yang umum.

Apabila umat Islam lain melakukan hal yang dikerjakan seperti Abu Bakar, ia bisa mendapatkan keutamaan serupa. Berupa ”Dan kelak ia benar-benar mendapatkan kepuasan.”

Begitulah Worldview of Islam membimbing manusia menuju jalannya yang tepat. Banyak hal yang tidak diketahui manusia. Dan wahyu turun sebagai petunjuk serta menjawab persoalan-persoalan tersebut. Tak hanya itu, wahyu pun mengarahkan manusia agar akalnya mampu berpikir lurus sesuai jalan Tuhannya. Inilah poin utama yang tidak dimiliki oleh worldview peradaban lain.


[1] Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam, (Jakarta: INSISTS, 2012), hlm. 242

[2] Ibid, hlm. 244

[3] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani Press, 2008), hlm. 140-142

[4] Ulil Abshar Abdalla, Alquran Sebagai Wahyu dan Fakta Sejarah, http://islamlib.com/kajian/quran/alquran-sebagai-wahyu-dan-data-sejarah/, diakses pada tanggal 22 Maret 2016 pukul 14.00 WIB

[5] Manna Al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 414-418

[6] Ibid, hlm. 102-104

Bisakah Metode Tafsir Hermeneutika Diterapkan Pada Al-Quran?

Posted on January 8, 2023January 8, 2023 by admin

Hikmah adalah barang yang sangat berharga. Senilai harta karun. Dan kita bisa menyerapnya dari manapun.

Namun, muslim yang baik tentu hanya mengambil yang baik pula, bukan? Termasuk tiap hikmah yang kita ‘impor’ dari luar khazanah Islam kita yang begitu megah. Tidak asal memungut hikmah yang tercecer tersebut. Tidak serta-merta menolak atau menerima tanpa curiga.

Sebagai contoh, hermeneutika yang dewasa ini sedang marak digunakan sebagai ‘manhaj tafsir alternatif’. Bahkan menjadi mata kuliah khusus di berbagai perguruan tinggi.

Apa yang Dimaksud Hermeneutika?

Secara etimologi istilah “hermeneutics” sebenarnya berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti ‘hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan.

Dalam karya logika Aristoteles, kata “hermeneias” berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.

Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah ‘interpretatio’ untuk tafsir, bukan ‘hermeneusis’. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul “De optimo genere interpretandi” (Tentang bentuk penafsiran yang terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis “De interpretatione divinae scripturae” (Tentang penafsiran Kitab Suci).

Adapun pembakuan istilah ‘hermeneutics’ sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, ‘hermeneutics’ biasanya dikontraskan dengan ‘exegesis’, sebagaimana ‘ilmu tafsir’ dibedakan dengan ‘tafsir’. (Lihat CAP Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen).

Pada perkembangannya, hermeneutika digunakan para teolog Kristen untuk memahami teks-teks Bibel dengan satu pertanyaan: apakah Bibel termasuk kalam Tuhan atau kalam manusia?

Karena setidaknya ada 3 masalah yang dimiliki Bibel (yang tentunya tidak ada dalam Al-Quran); masalah otentisitas teks, segi bahasa, dan isinya.

Gerakan penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan suatu teks telah dimulai sejak abad 18 Masehi seiring gerakan reformasi yang diluncurkan Martin Luther di Jerman. Mulanya para teolog Protestan ketika itu mengklaim bahwa setiap orang berhak menafsirkan Bibel, asalkan tahu bahasa dan konteks sejarahnya.

Asumsi dan Konsekuensi

Dengan sejarah dan definisi seperti di atas, kata DR. Syamsudin Arif dalam buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, hermeneutika jelas mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.

Pertama, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama. Asumsi ini lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bibel. Campur tangan manusia di dalamnya ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan.

Apabila digunakan pula pada Al-Quran, maka kitab ini tidak akan dianggap sebagai Kalamullah, akan dipertanyakan otentisitasnya, dan pada gilirannya akan menggugat kemutawatiran mushaf Utsmani.

Kedua, hermeneutika menganggap semua teks sebagai ‘produk sejarah’. Asumsi yang lahir mengingat kasus sejarah Bibel yang problematika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru).

Sedangkan Al-Quran merupakan kitab yang kebenarannya melintasi batas waktu dan ditujukan bagi seluruh umat manusia.

Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptik, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya. Sikap semacam ini jelas hanya cocok bagi Bibel yang telah banyak gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin), memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi.

Tetapi tidak bagi Al-Quran yang jelas kesahihan transmisinya hingga menjadi mushaf.

Metode hermeneutika, selain itu, juga menghendaki pelakunya menganut relativisme epistemologis.

Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks zaman dan tempat tertentu.

Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, paham ini juga akan melahirkan mufassir gadungan, liar, dan sesat lagi menyesatkan.

Menurut DR. Syamsuddin Arif sendiri, hermeneutika lebih tepat dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah. Metode ini bukan ‘tidak bisa’ digunakan pada Al-Quran, namun ‘tidak sesuai’. Karena perkara ini lebih menyangkut dampak dan hasil, ketimbang hukumnya.

Sebagai penutup, kita simak apa yang pernah disampaikan Josef van Ess, profesor emeritus dan pakar sejarah teologi Islam Universitas Tuebingen, Jerman:

“We should, however, be aware of the fact that German hermeneutics WAS NOT MADE FOR ISLAMIC STUDIES as such. It was originally a product of Protestant theology. Schleiermacher applied it to the Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with German literature and antiquity. When such people say ‘text’ they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato’s dialogues, a poem by Holderlin. This is not necessarily so in Islamic studies.”

  • Previous
  • 1
  • 2
  • 3

Recent Posts

  • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
  • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
  • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
  • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
  • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Recent Comments

  1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
  2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
  3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Archives

  • August 2025
  • July 2025
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023

Categories

  • Books
  • Lifestyle
  • Thoughts
© 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme