HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu
belajar pajak

Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!

Posted on August 29, 2025August 29, 2025 by admin

Siapa bilang belajar pajak itu selalu kaku dan bikin pusing?

Bayangkan kalau memahami aturan pajak bisa terasa seperti menuntaskan misi dalam sebuah game. Ada levelnya, ada tantangan, bahkan ada reward yang bikin semangat.

Dengan cara ini, semua orang bisa memahami pajak melalui pengalaman interaktif yang lebih seru dan menyenangkan.

Apakah bisa? Sangat mungkin!

Konsep Gamifikasi, jawabannya.

Melalui gamifikasi, materi pajak yang kompleks dapat diubah menjadi permainan seru dengan skenario nyata.

Mulai dari menjawab kuis, mengumpulkan poin, hingga naik level sesuai pemahaman. Seluruhnya dikemas seperti sedang bermain game sungguhan.

Hasilnya? Proses belajar jadi lebih engaging dan tidak membosankan.

Bukan cuma sebagai hiburan, metode ini juga punya tujuan besar, yakni menumbuhkan kesadaran pajak sejak dini.

Tidak jarang, rendahnya literasi pajak di tengah masyarakat dikarenakan generasi muda merasa topik ini jauh dari keseharian mereka.

Padahal, pajak adalah sumber utama penerimaan negara yang manfaatnya kembali ke masyarakat dalam bentuk pembangunan, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur.

Apabila generasi muda terbiasa dengan konsep gamifikasi tersebut, maka memahami kewajiban pajak akan terasa lebih natural. Belajar pajak menjelma sebagai pengalaman menyenangkan yang meninggalkan kesan mendalam.

Apa Itu Gamifikasi?

Secara sederhana, Gamifikasi adalah penerapan elemen permainan dalam konteks non-game, dengan tujuan meningkatkan keterlibatan (engagement) dan motivasi pengguna.

Elemen seperti poin, level, badge, leaderboard, maupun reward membuat sebuah aktivitas yang tadinya membosankan terasa lebih mengasyikkan.

Dr. Karl Kapp dalam bukunya yang bertajuk The Gamification of Learning and Instructions mengungkapkan, gamifikasi dapat mendorong motivasi instrinsik melalui tantangan, feedback instan, serta perasaan mencapai sesuatu.

Contoh implementasi konsep gamifikasi sudah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada sejumlah aplikasi mobile:

  1. Duolingo

Aplikasi ini sukses membuat jutaan orang betah berlatih bahasa karena ada sistem level, streak harian, hingga hadiah virtual. Belajar jadi terasa seperti main game.

  1. Google Fit & Strava

Keduanya merupakan aplikasi kesehatan yang menggunakan poin, lencana, dan grafik sehingga membuat orang bersemangat menjaga pola hidup sehat.

  1. Grab & Gojek

Hadirnya sistem poin loyalti, level membership, hingga challenge harian sukses membuat pengguna lebih sering memakai aplikasi.

  1. Kampanye lingkungan

Beberapa komunitas diketahui menerapkan gamifikasi, misalnya dengan memberi “green points” setiap kali seseorang membawa tumbler atau melakukan aksi ramah lingkungan.

Dari berbagai contoh di atas, kita dapat menarik benang merah. Yaitu, aktivitas yang tadinya terkesan biasa saja bahkan melelahkan, bisa terasa lebih ringan dan menyenangkan ketika dikemas dengan sistem gamifikasi.

Tantangan Literasi Pajak di Kalangan Muda

Sebelum membahas lebih jauh soal gamifikasi pajak, kita perlu melihat persoalan utamanya.

  • Literasi rendah: Banyak anak muda tidak tahu apa itu NPWP, bagaimana cara lapor SPT, atau mengapa pajak penting.
  • Anggapan pajak membebani: Ada kesan bahwa pajak hanya “mengambil” dari masyarakat, padahal manfaatnya besar untuk pembangunan.
  • Proses kaku: Bagi generasi yang terbiasa dengan aplikasi user-friendly, prosedur perpajakan yang formal sering dianggap rumit.

Padahal, generasi muda adalah calon wajib pajak masa depan. Jika sejak dini mereka bisa memiliki pengalaman positif terkait pajak, tingkat kepatuhan di masa depan tentu akan lebih baik.

Bagaimana Jika Pajak Digamifikasi?

Apa jadinya jika aplikasi resmi pajak dikemas layaknya permainan edukatif? Alih-alih hanya berisi form dan hitungan, pengguna akan menemukan tantangan, lencana pencapaian, hingga reward menarik.

Beberapa fitur yang bisa dihadirkan, antara lain:

  1. Level Kepatuhan
    • Setiap wajib pajak yang rutin melapor SPT dan membayar tepat waktu bisa naik level.
    • Ada badge khusus, misalnya Tax Rookie, Tax Warrior, hingga Tax Hero.
  2. Poin Literasi Pajak
    • Pengguna bisa mendapatkan poin dengan menyelesaikan kuis sederhana seputar perpajakan.
    • Contohnya: “Apa fungsi NPWP?” atau “Ke mana pajak digunakan?”
  3. Reward & Benefit
    • Poin kepatuhan bisa ditukar dengan digital badge atau bahkan voucher belanja hasil kerja sama dengan marketplace.
    • Ini bukan berarti pajak “dibayar dengan hadiah”, tapi lebih ke bentuk apresiasi kecil yang mendorong pengalaman positif.
  4. Leaderboard Komunitas
    • Ada papan peringkat kepatuhan antar komunitas. Bisa dibagi dalam kategori UMKM, karyawan perusahaan, atau mahasiswa.
    • Hal ini akan menciptakan semangat kolektif, bahkan kebanggaan tentang siapa paling rajin dan patuh.
  5. Simulasi Interaktif
    • Fitur “game simulasi” yang memungkinkan anak muda mencoba bermain peran sebagai pengusaha kecil, menghitung penghasilan, lalu memahami pajak yang harus dibayarkan.
    • Dengan cara ini, mereka belajar bahwa pajak bukan “uang yang hilang”, melainkan kontribusi untuk negara.

Mengapa Gamifikasi Penting untuk Pajak?

  1. Mengubah persepsi

Pajak tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan aktivitas positif yang bisa memberikan kepuasan tersendiri.

  1. Meningkatkan literasi

Melalui kuis, tantangan, maupun simulasi, masyarakat lebih cepat memahami konsep pajak secara menyenangkan.

  1. Mendorong kepatuhan

Orang cenderung lebih konsisten jika ada reward system. Sama halnya dengan orang yang rajin olahraga karena aplikasi memberi badge tertentu.

  1. Relevan dengan generasi muda

Generasi digital sangat akrab dengan game, aplikasi, dan sistem poin. Laporan GWI dan Data Reportal menyebut, per Kuartal IV 2023, 84,7% pengguna internet berusia 16-64 tahun bermain video games. Dengan gamifikasi, pajak bisa masuk ke “bahasa” mereka.

Tantangan Gamifikasi Pajak

Tentu saja, ide ini bukan tanpa hambatan. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Data dan privasi: Sistem gamifikasi harus tetap menjaga kerahasiaan data wajib pajak.
  • Tidak boleh disalahartikan: Pajak tetap kewajiban hukum. Gamifikasi hanyalah tools untuk edukasi dan motivasi, bukan “bermain-main dengan aturan”.
  • Butuh kolaborasi lintas pihak: DJP tidak bisa sendiri, perlu kerja sama dengan startup teknologi, komunitas, hingga e-commerce.

Belajar Pajak Cara Asyik, Kenapa Nggak?

Generasi muda hari ini hidup di dunia digital yang penuh interaksi, poin, dan badge. Mereka terbiasa dimotivasi dengan cara yang ringan, tetapi tetap efektif.

Maka, mengapa kita tidak mencoba hal yang sama untuk mendorong literasi dan kepatuhan pajak?

Gamifikasi pajak bukan berarti meremehkan kewajiban negara, melainkan strategi kreatif guna membangun hubungan yang lebih positif antara masyarakat dan pajak.

Jika generasi muda sejak dini terbiasa melihat pajak sebagai aktivitas yang menyenangkan, masa depan penerimaan negara akan jauh lebih cerah.

Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti, seorang anak muda dengan bangga menunjukkan badge “Tax Hero” di aplikasi mereka. Bukan karena ingin pamer, tapi karena sadar bahwa membayar pajak merupakan bagian dari kontribusi nyata untuk Indonesia.

Itu semua bisa dimulai dengan satu langkah sederhana, yakni membuat pajak terasa seperti sebuah permainan yang menyenangkan.

ngekost d'paragon dan djurkam

Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam

Posted on July 20, 2025July 20, 2025 by admin

Kalau kamu mahasiswa atau pekerja rantau, ngekost pasti jadi pilihan utama.

Tapi yang namanya cari kost itu… ya, sering jadi drama.

Lokasi kejauhan, fasilitas seadanya, belum lagi harganya yang bikin pusing.

Saya sendiri dulu sering banget pindah kost. Bukan karena mau, tapi memang karena nggak nemu yang pas. Resensi buku ini, misalnya, juga saya tulis sewaktu masih ngekost.

Kalau aja dulu saya kenal D’Paragon, kost eksklusif yang nyaman banget. Sesuai sama jargonnya: “Stay with style”.

Yang lebih menarik lagi, mereka juga punya Djurkam alias Djuragan Kamar. Semacam plaform properti yang bisa bantu siapa aja, termasuk Gen Z kayak kamu, dapat cuan dari kamar kost.

Serius, ini bukan gimmick!

Kenapa D’Paragon Bukan Sekadar Kost-an?

Jika kamu pikir kamar kost itu asal murah dengan kondisi ala kadarnya, D’Paragon hadir dengan standar baru, loh.

Harga tetap ramah di kantong Gen Z sekalipun, tetapi fasilitas dan kenyamanan serasa nginap di hotel!

Apa sih yang bikin D’Paragon beda dengan kost pada umumnya?

  1. Standar hotel, harga kost. Nyari kost minimalis modern? Di sini tempatnya.
  2. Lokasinya strategis tersebar di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Solo, dan Jakarta.
  3. Fasilitasnya lengkap, mulai dari AC, Wi-Fi ngebut, kamar fully furnished, CCTV, parkir, laundry, dan pastinya dapur bersama.
  4. Suasana eksklusif dan terstandardisasi di semua cabangnya.

Kamu bisa cari kost murah dan terdekat langsung via website-nya. Nggak perlu repot survei satu per satu atau tertipu iklan abal-abal.

Djurkam: Cara Gen Z Cuan dari Bisnis Kost

Kalau D’Paragon menawarkan kenyamanan, maka Djurkam menawarkan kesempatan buat para Gen Z mendulang cuan jadi juragan kamar.

Sederhananya, Djurkam ini adalah sebuah platform digital yang memungkinkan siapa pun—termasuk kamu—jadi pemilik atau mitra properti kost.

Cocok banget buat:

  1. Mahasiswa yang masih punya jatah kamar kosong.
  2. Anak kantor yang mulai melek investasi dan nyari sumber pendapatan lain.
  3. Juragan properti yang pengen listing kamar tanpa ribet.

Djurkam bisa bantu kamu:

  1. Promosi kamar kosong lewat digital. Hari gini cuma mengandalkan jualan offline? Ke mana aja?!
  2. Kelola operasional kost lebih efisien, bisa akses aplikasinya pula di mana aja langsung lewat handphone.
  3. Buka peluang passive income dari properti. In this economy, jangan menaruh telur hanya di satu keranjang. Benar, kan?
  4. Akses ke pelatihan dan komunitas mitra. Kamu nggak bakal ditinggal begitu aja, kok.

Tanpa perlu bangun properti dari nol, kamu bisa mulai bisnis kost secara digital.

Siapa bilang investasi properti harus nunggu umur 40-an? Sekarang, dari satu kamar kosong aja, kamu udah bisa mulai.

Keunggulan Ngekost di D’Paragon & Djurkam

D’Paragon dan Djuragan Kamar bukan cuma “jualan” tempat tinggal. Uniknya, mereka udah punya ekosistem yang memadukan kenyamanan dan peluang usaha.
Lengkapnya begini:

  1. Harga fleksibel dan transparan. Nggak ada biaya tersembunyi, semua jelas dari awal.
  2. Mau sewa kost harian, mingguan, hingga bulanan? Semua bisa!
  3. Booking online mudah dan cepat via dparagon.com. Bisa pesan kapan aja dan di mana aja.
  4. Peluang jadi master agent atau mitra kost via djuragankamar.com. Tinggal pilih cara yang paling pas buatmu.
  5. Dukungan digital lengkap, mulai aplikasi, promosi online, sampai social media yang update terus.

Mau cari kost murah, nyaman, atau justru mulai bisnis properti digital dari kamar kosong?

Dua-duanya bisa lewat D’Paragon dan Djurkam.

Cara Booking atau Jadi Mitra Djurkam

Langkah mudah booking kamar di D’Paragon:

  1. Buka https://dparagon.com
  2. Pilih kota & lokasi kost
  3. Lihat fasilitas dan harga
  4. Klik Booking Sekarang

Cara praktis gabung jadi Mitra Djurkam:

  1. Kunjungi https://djuragankamar.com
  2. Klik menu “Gabung”
  3. Lengkapi profil dan listing kamar
  4. Dapatkan bimbingan & support dari tim profesional

Gen Z, Yuk Ngekost Sekaligus Nyari Passive Income!

Kost sekarang nggak cuma soal tempat tinggal sementara.

Bareng D’Paragon, kamu bisa tinggal dengan nyaman dan tenang. Sambil itu, lewat Djuragan Kamar (Djurkam), kamu juga bisa mulai bangun sumber penghasilan jangka panjang.

Gaya hidup cerdas ala Gen Z? Ya ini dia jawabannya. Ngekost dapet kenyamanan, listing kamar dapet cuan.

Sekarang giliran kamu!

  • Booking kamar di D’Paragon aja. Kost modern dengan fasilitas lengkap, tinggal klik tanpa ribet!
  • Gabung jadi mitra Djurkam buat mulai langkahmu jadi juragan kost digital.

Kalau kamu juga penasaran, coba scroll-scroll dulu akun resminya berikut:

  • Instagram: @dparagonkost | @djuragankamar
  • TikTok: @dparagonkost | @djuragankamar

Dari sekadar kepo, siapa tahu cocok, dan bisa jadi awal dari gaya hidup baru kamu.

resensi-kisah-sang-penandai-tere-liye

Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?

Posted on October 2, 2023August 29, 2023 by admin

“Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.” Pria tua itu mengulang kalimatnya. Meluruskan kaki. Membentangkan tangan di sandaran bangku. Bersandar. Menatap santai ribuan capung yang terbang memesona di sekitar mereka. (Hal. 29)

***

Plot Kisah Sang Penandai

Salah satu yang saya suka dari Tere Liye ialah ia tidak pernah membuat novel berlatar cinta picisan. Roman yang remeh. Kisah-kisah manja yang melenakan, mengeluarkan sifat melankolis seseorang. Sebab memang cinta diciptakan untuk membangun. Untuk menguatkan. Untuk meneguhkan setiap jiwa yang menumbuh-mekarkan cinta.

Sebagaimana perjalanan cinta Jim dalam Kisah Sang Penandai.

Namun sayang bagi Jim, ia harus memulai dongeng ini dengan kepedihan. Hidupnya saja sudah cukup merana. Yatim-piatu, papa, tidak mampu membaca dan menulis. Tere Liye semakin lengkap menyifatinya dengan: terlalu lemah untuk berani mengambil keputusan dalam hidup. Yang ia bisa lakukan hanyalah menggesek dawai dan menyenandungkan lagu. Tetapi justru kemampuan itu mengantarnya berkenalan dengan Nayla. Awal dari segala keperihan.

Hubungan Jim dan Nayla berjalan cepat. Secepat mimpi Jim untuk mewujudkan legenda abadi di Ibukota. Legenda kapel tua di atas bukit pada pukul tujuh, tanggal tujuh, dan bulan tujuh.

“Apakah kau juga akan mati untukku?” Nayla bertanya lirih. Jim mengangguk, anggukan yang terlalu berani.

Perbedaan latar belakang keduanya mengawali kepiluan kisah cinta mereka. Nayla adalah gadis putri keluarga bangsawan. Kaya raya dan berpengaruh besar di Anak Benua. Seperti gadis raja umumnya, Nayla telah dijodohkan. Berulang kali Nayla mengirim surat pada Jim. Mendesaknya agar menjemput sang kekasih. Pergi ke mana pun yang ia mau.

Tapi apalah daya bagi seorang Jim. Ia terlalu gentar untuk mengambil tindakan.

Kepedihan Jim

Pagi itu, musibah sampai pada puncaknya. Jim berlari menuju sebuah penginapan. Kemudian merangsek ke lantai dua. Saat itu juga, hati Jim teriris. Nayla yang ia temukan telah terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya membeku damai bersama gaun putih yang dikenakannya. Hanya secarik kertas yang ia tinggalkan.

“… Biarkanlah aku pergi, Jim. Ini jauh lebih membahagiakan. Aku tak berharap banyak darimu selain untuk terakhir kalinya kau akan mengatakan, ‘Aku mencintaimu, Sayang’ di telingaku yang pasti sudah membeku pada tanggal tujuh, bulan tujuh, jam tujuh hari ini. Ketika lonceng kapel tua berdentang. Tempat di mana ikrar cinta sejati kita pernah terucapkan…” (Hal. 23)

Siapa sangka, justru karena itulah Sang Penandai memilih Jim untuk mengguratkan dongeng terindah yang pernah ada. Awal melihat judul buku ini, saya tak paham apa itu ‘penandai’. Ternyata penandai juga bermakna pendongeng. Ialah yang menulis, menjaga, dan mewariskan dongeng yang kalian dengar setiap hendak tidur.

Petualangan Jim

Maka mulailah Jim merangkai kisahnya bersama Armada Kota Terapung untuk menemukan Tanah Harapan. Ekspedisi ini dipimpin oleh Laksamana Ramirez dengan kapal Pedang Langit-nya dan 39 kapal lainnya. Bagi Jim, ini bukan sekadar ekspedisi biasa. Namun ekspedisi untuk melupakan masa lalunya. Ekspedisi untuk percaya pada kalimat Sang Penandai, “Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.”

Bagi saya sendiri, mungkin di sinilah uniknya perjalanan Jim. Tere Liye lebih memilih perjalanan laut dibandingkan sekadar perjalanan biasa. Apalagi sebuah ekspedisi menemukan daratan baru yang belum terjamah. Banyak konflik yang tentu terjadi. Para bajak laut, kemisteriannya, bertemu dengan warga daratan lain yang berbeda bahasa dan budaya, serta konflik-konflik internal. Tentu tidak mudah mengorganisasi begitu banyak orang di tengah laut yang penuh kejutan.

Selain menghidupkan novel, ternyata konflik-konflik inilah yang perlahan membentuk pribadi Jim.

Nyaris mati dan pertama kali menumpahkan darah saat perompak Yang Zhuyi menyerang Armada Kota Terapung. Tergoda untuk ‘meninggalkan’ Nayla saat bertemu gadis bermata jeli penjaga Puncak Adam. Menyelamatkan Champa dari kehancuran, lalu dijodohkan dengan anak raja. Dan lihatlah! Gadis itu sangat mirip dengan Nayla-nya, bahkan namanya pun sama: Nayla. Sang Kelasi yang Menangis kemudian berubah menjadi kepala pasukan yang berwibawa. Menariknya, Tere Liye juga menghadirkan Pate sebagai tandem bagi Jim. Sosok yang cocok menemani petualangan Jim mencari jati diri.

Berulang kali Jim dihadapkan kondisi putus asa. Memaksanya bertemu dengan ajal. Belum lagi konflik batin, haruskah ia meninggalkan Nayla? Haruskah ia mengkhianatinya?

Tetapi kalimat Sang Penandai terus saja terngiang, “Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.”

Sampai kapankah Jim harus percaya pada kalimat itu?

Kepercayaan Kisah Sang Penandai

Tentu selalu ada harga bagi sebuah kepercayaan. Ada balasan indah yang menanti. Hanya saja kita memang harus bersabar melewati seluruh penderitannya. Pahit serta getirnya. Dan Jim mengajari itu semua kepada pembaca. Cinta tidak diciptakan untuk membuatmu lemah. Walau ia telah tiada, kau harus tetap bangkit. Lanjutkan hidupmu! Dongengmu sungguh masih panjang. Bahkan ketika engkau telah menemukan Tanah Harapan. Karena di ujung sana, ada hadiah yang telah lama menunggumu. Hanya saja kamu tidak tahu. Kamu hanya harus percaya.

Judul: Kisah Sang Penandai

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka Publishing, Jakarta

Tebal: iv+295 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Cetakan: VIII, Agustus 2016

Nomor ISBN: 978-602-988-832-4

resensi-novel-tentang-kamu-tere-liye

Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka

Posted on September 1, 2023August 29, 2023 by admin

“Sebelum kulanjutkan, aku tanyakan padamu. Kamu mau memilih menjadi Sri Ningsih atau Sulastri?”

***

Dalam kehidupan berorganisasi, saya kerap menemukan orang-orang yang “kuat” sekali hidup dalam kekecewaan. Mereka memupuk luka di hati, lalu tumbuh hingga mengakar kokoh. Orang-orang ini terus memendam kekecewaan itu, kemudian mundur dari organisasi tanpa berita. Ada yang menganggap pendapatnya tak pernah didengar, ada yang diam-diam tak suka pada kebijakan pemimpin, dan kekecewaan-kekecewaan lainnya.

Padahal kekecewaan, luka, atau rasa sakit itu adalah konsekuensi logis dalam kehidupan sosial. Sebab kita hidup dengan sesama manusia. Kita tak sempurna, mereka pun tak sempurna. Kita bisa salah, mereka pun juga. Bisa jadi semua luka itu hanya salah paham yang bisa terselesaikan dalam waktu singkat dengan komunikasi yang baik.

Saat membaca “Tentang Kamu”, sekilas saya teringat kembali dengan orang-orang ini.

Alur Tentang Kamu

“Tentang Kamu” bermula dari panggilan mendadak dari Sir Thompson, partner senior di firma hukum Thompson & Co., kepada Zaman Zulkarnaen. Sabtu pagi di Belgrave Square itu berbuah kabar baik dan kabar buruk sekaligus bagi Zaman. Kabar baiknya, ia berkesempatan mengisi satu dari enam kursi lawyer senior. Itulah enam kesatria hukum terbaik yang selama ini menjaga kesucian Thompson & Co. Posisi yang tidak mungkin ditolak oleh Zaman. Namun kabar buruknya, ia harus menyelesaikan sebuah kasus pelik untuk mendapatkan kursi tersebut.

Zaman memperoleh mandat untuk menyelesaikan pembagian warisan senilai satu miliar poundsterling. Atau setara dengan 19 triliun rupiah. Nilai yang cukup untuk mengalahkan kekayaan Ratu Inggris dan keluarganya. Harta warisan tersebut tersimpan dalam 1% kepemilikan surat saham di sebuah perusahaan toiletries dunia.

Anehnya, pemilik warisan tersebut bernama Sri Ningsih. Orang Indonesia berpaspor Inggris yang ditemukan meninggal sembilan hari lalu di sebuah panti jompo di Paris. Usianya 70 tahun dan tidak ada data mengenai ahli warisnya.

Petunjuk pertama Zaman ialah La Cerisaie Maison de Retraite. Sebuah panti jompo yang berada di kawasan elit Quay d’Orsay, berjarak sembilan ratus meter dari Menara Eiffel. Sri Ningsih sempat tinggal di panti itu, tepatnya di kamar 602 yang berada di lantai enam. Di sana, Zaman berhasil memperoleh buku diary Sri Ningsih dari Madam Aimée, pengurus panti.

Juz Pertama. Tentang kesabaran. 1946-1960.

Dua halaman pertama buku diary Sri Ningsih membawa Zaman ke Pulau Bungin, Sumbawa. Sebuah pulau kecil di mana rumah-rumah yang tumbuh dari atas permukaan laut, perahu tertambat di tiang-tiang, dan kambing-kambing mengunyah kertas.

Selama empat hari, Zaman ditemani sopir jip bernama La Golo mencoba menelusuri masa kanak-kanak Sri. Sampai akhirnya, di hari kelima, Zaman bertemu Pak Tua Ode. Darinya, Zaman berhasil melacak masa kecil Sri.

Tentang Nugroho dan Rahayu, ayah dan ibu Sri. Kisah Rahayu yang wafat seusai melahirkan Sri. Cerita Nusi Muratta, istri baru Nugroho. Mengenai Tilamuta, adik tiri Sri. Riwayat Nugroho yang tenggelam dalam sebuah pelayaran. Hikayat cinta Nusi Muratta yang berubah menjadi benci. Tentang siksaan itu, tentang luka itu. Dan tentang Sri yang tidak sedikit pun menaruh dendam pada Nusi Muratta.

Uniknya, dalam episode ini muncul kapal Blitar Holland dan Kapten Philips sebagai cameo. Singkat, tapi cukup menghibur. Ini salah satu gebrakan baru dari Bang Tere. Siapa tahu nanti Zaman bisa tergabung dalam satu tim dengan Thomas, Bujang, dan Ambo Uleng. Tapi sepertinya harus menunggu Lail dan Esok membuat mesin waktu. Hehe.

Juz Kedua. Tentang persahabatan. 1961-1966.

Setelah rumahnya terbakar dan Nusi Muratta tewas, Sri dan Tilamuta memutuskan meninggalkan Pulau Bungin. Tilamuta, itulah “harapan” yang membawa Zaman ke Pesantren Kiai Ma’sum di Surakarta.

Kali ini Zaman ditemani Pak Sarwo, sopir yang menjemputnya di Bandara Adi Sumarmo. Di sana Zaman berkenalan dengan Ibu Nur’aini.

Darinya, Zaman mencoba menguak masa remaja Sri. Kisah tentang persahabatan yang rusak karena dengki. Tentang Mbak Lastri dan Mas Musoh yang bergabung dengan PKI. Sejarah pesantren yang diserang dan santrinya yang dibantai. Tentang Tilamuta yang tewas mengenaskan. Cerita pengkhianatan itu, tentang luka itu. Dan tentang Sri yang harus memilih antara kebenaran atau persahabatan.

Saya bisa ibaratkan Mbak Lastri ini sebagai anti-tesis dari Sri Ningsih. Sri seperti tokoh Ray dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Hidupnya akrab bersama musibah. Tapi ia mampu berdamai dengan semua luka itu. Adapun Mbak Lastri, hidup dengan memendam kekecewaan.

Juz Ketiga. Tentang keteguhan hati. 1967-1979.

Zaman berangkat ke Jakarta. Mencari sisa-sisa kehidupan Sri yang terserak. Tidak hanya itu, Ibu Nur’aini juga sempat menyerahkan sebuah kotak berisi surat-surat yang dahulu dikirimkan Sri. Tilamuta wafat, harapan Zaman satu-satunya telah terkubur.

Dalam pencariannya, Zaman disopiri oleh Sueb, pengendara ojek online.  Zaman akhirnya tiba di salah satu perusahaan toiletries multinasional. Ia bertemu kepala pabrik bernama Chaterine.

Darinya dan dari surat-surat Sri, Zaman mencoba mengungkap masa muda Sri yang penuh perjuangan. Tentang gerobak dorong. Mengenai Rahayu Car Rental. Hikayat Peristiwa Malari. Riwayat Sri yang menjadi pengawas pabrik dan belajar di Singapura. Sejarah sabun mandi “Rahayu”. Dan tentang hantu itu, tentang luka yang dicucuk lagi.

Sri tiba-tiba menjual pabriknya dengan 1% kepemilikan saham. Ia lalu pergi ke London. Lagi-lagi Zaman tak memperoleh petunjuk apa pun mengenai ahli waris Sri.

“Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. Aku titip pabrik ini. Rawat dia seperti merawat anakmu sendiri.” (hlm. 278)

Juz Keempat. Tentang cinta. 1980-1999.

Sekembalinya ke London, bus tingkat merah khas London menuntun ingatan Zaman mengenai foto Sri di kamar 602. Foto Sri yang berdiri di depan bus dengan nomor rute 16. Pencariannya kini mengantar Zaman bertemu Lucy di Victoria Bus Station, yang kemudian menuntunnya mengunjungi kawasan Little India di London.

Petunjuk itu benar-benar dekat selama ini. Di kawasan itu, Zaman bertemu Rajendra Khan. Pemilik kios makanan halal di dekat stasiun kereta Victoria. Kios yang hampir setiap hari dikunjungi Zaman sebelum ke Belgrave Square.

Darinya, Zaman menelusuri episode lain kehidupan Sri. Tentang keluarga angkat Sri. Mengenai sopir bus rute 16. Hikayat cinta Sri dan Hakan Karim. Terciptanya lagu “Tentang Kamu”. Kisah kepergian anak Sri, Rahayu dan Nugroho, serta Hakan. Cerita musibah yang bertubi-tubi itu, tentang luka itu. Dan tentang hantu masa lalu yang memaksa Sri kabur ke Paris.

Juz Kelima. Tentang memeluk semua rasa sakit. 2000-….

Tidak ada satu pun keluarga Sri yang dapat ditelusuri jejaknya. Satu-satunya harapan adalah menemukan surat wasiat Sri. Saat itulah, masalah lain datang. Firma hukum A&Z Law mengajak Thompson & Co. untuk bernegosiasi. Mereka membawa dua wanita bernama Ningrum dan Murni. Keduanya mengaku sebagai mertua sekaligus istri Tilamuta dan menjamin bahwa Tilamuta masih hidup.

Insting Zaman mengatakan ada yang sedang tidak beres di sini. Ia harus segera menemukan surat wasiat Sri. Atau harta warisan itu akan jatuh ke tangan yang salah.

“…Karena pada akhirnya, semua hal memang akan selesai, memiliki ujung kisah. Maka saat itu berakhir, aku tidak akan menangis sedih, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi.” (hlm. 409)

***

Ulasan Tentang Kamu

Saya termasuk orang yang suka membaca buku biografi. Tapi ini buku biografi fiksi pertama yang saya kenal. Bagi saya, tema yang diangkat Bang Tere ini sangat fresh. Biografi mampu merangkum semua episode dan emosi sebagaimana manusia umumnya. Bahagia, sedih, kecewa, marah, gagal, berhasil, menyerah, bangkit, menang, kalah, semuanya ada. Lengkap. Berbeda jika kita hanya memotong satu episode kehidupan seorang tokoh. Cerita semakin menarik karena “Tentang Kamu” dikemas dengan konflik pembagian harta warisan.

Tepatlah ketika Bang Tere bilang, sebenarnya novel ini bicara tentang apa sih, ya tentang kamu. Semua pembaca bisa memposisikan diri menjadi siapa pun. Menjadi Sri ketika Pulau Bungin, menjadi Sri saat di pesantren, menjadi Sri yang bertahan hidup di ibukota, menjadi Sri di London dan Paris, atau menjadi seperti tokoh-tokoh lainnya. Itulah uniknya biografi.

“Tentang Kamu” ditulis menggunakan sudut pandang (PoV) orang ketiga. Sulit mencari cela dari sudut pandang ini. Sebab penulis bebas mengeksplorasi narasi, adegan, dan dialog. Beda jika kita bandingkan—misalnya—dengan Pulang yang memakai sudut pandang orang pertama.

Alur dibuat maju-mundur. Tidak melulu bicara tentang Sri Ningsih. Kita tetap bisa mengikuti setiap kemajuan dalam kasus yang tengah ditangani Zaman. Termasuk masa lalu dan kehidupan pribadinya.

Habits

Saya pernah belajar mengenai passion dan visi hidup. Salah satu yang saya pelajari ialah bahwa diri kita hari ini terbentuk dari habit atau kebiasaan kita selama 5 sampai 10 tahun ke belakang. Dan diri kita 5 atau 10 tahun ke depan adalah hasil dari kebiasaan yang kita bangun hari ini. Di dalam “Tentang Kamu”, alur kehidupan Sri Ningsih menjadi masuk akal dengan teori ini.

Kita bisa temukan sosok Sri yang rela membersihkan kakus pondok setiap hari, sebab ia secara tidak langsung sudah terlatih oleh siksaan Nusi Muratta selama di Pulau Bungin. Tubuhnya terpasang alarm alami. Bangun jam 4 pagi, lantas segera mengerjakan segala urusan rumah tangga. Di Jakarta, seluruh pengalamannya berbuah hasil. Ibukota memang sulit ditaklukkan, tapi jiwa pantang menyerah dan kesabaran Sri telah diuji dengan masalah-masalah yang lebih menyesakkan. Ia cepat belajar dan beradaptasi. Kemampuan bahasanya sudah terlihat ketika masih belajar dengan Tuan Guru Bajang. Keterpaduan alur ini membuat perjalanan Sri menjadi logis. Pembaca mungkin hampir tidak bisa bertanya, “Kok tiba-tiba begini, sih?” Seperti saat Sri berkenalan dengan keluarga Rajendra di Chelsea Flower Show secara tidak sengaja. Lalu alur cerita membawa Sri ke Little India sehingga mendapatkan tawaran tinggal di apartemen milik keluarga Rajendra sebagai bentuk balas budi.

Ini bisa disebut kebetulan yang mengada-ada. Tapi ini logis. Karena setiap episodenya saling terpadu.

Eksperimen dalam Tentang Kamu

Saat launching novel ini, Bang Tere sempat mengungkapkan tiga ekperimen terbaru yang dilakukannya. Termasuk membuat setting di luar negeri. Kita memang pernah menemukan Bang Tere menyisipkan kota-kota mancanegara seperti di Pulang dan Rindu. Namun belum ada yang sedetail ini. Mengingatkan saya dengan Ayat-Ayat Cinta 2 milik Kang Abik. Deskripsi kota lengkap dengan jalan-jalannya. Apalagi kehadiran kota-kota itu memang kebutuhan, bukan sekadar gaya-gayaan. Bayangkan sebuah firma hukum yang telah menjadi legenda, para pengacaranya adalah kesatria yang menjunjung prinsip hidup, dan berkesempatan menyelesaikan pembagian harta warisan senilai 1 miliar poundsterling. Maaf, tapi sepertinya kita tidak bisa menemukan itu di Indonesia. Sri juga perlu kabur dari hantu masa lalunya, tidak mungkin hanya berputar-putar di negara yang sama.

Setiap tokoh tidak dideskripsikan secara berlebihan. Saya sendiri mengeja karakter Zaman dari perkataan dan perbuatannya, bukan dari deskripsi penulis. Hal-hal tidak penting seperti tinggi badan dan warna kulit, dikesampingkan. Namun, saya belum menemukan karakter seperti Zaman ini di novel Bang Tere lainnya dalam wujud wanita. Thomas, Bujang, dan Ambo Uleng mirip dengan Zaman, tap ketiganya laki-laki. Barangkali Bang Tere mau bereksperimen dengan hal ini di novel selanjutnya. Hehe.

Setiap tokoh dalam novel juga tidak muncul sia-sia. Mungkin ini salah satu ciri khas dari Bang Tere. Bahkan Encik Razak yang menjadi pilot pesawat jet pun memiliki andil saat menunjuki Zaman mengenai Pulau Bungin. Atau Maximillien yang berperan sebagai gimmick, tanpa kehadirannya mungkin ada beberapa dialog penting di panti yang hilang. Misalnya, dialog antara Zaman dan Aimée.

“…Selain bagiku, janji adalah janji, setiap janji sesederhana apa pun itu, memiliki kehormatan.” (hlm. 45)

Mengenai riset dan pengetahuan, kita mungkin tidak perlu heran lagi. Bagi yang akrab dengan novel Bang Tere dan mengetahui latar belakangnya, kita bisa menebak istilah-istilah ekonomi di dalam novel adalah makanan sehari-hari penulis. “Tentang Kamu” semakin terasa dekat karena beberapa nama tokoh hingga sampul buku merupakan hasil survei di fanpage penulis.

Typo dan Inkonsistensi

Di balik semua itu, cukup disayangkan masih ada beberapa typo dan inkonsistensi penulisan. Padahal buku yang saya baca ini merupakan cetakan keempat. Typo misalnya terletak pada,

“Hari itu, tahun 1955, usia Sri Rahayu menjelang sembilan tahun…” (hlm. 96) Sejak kapan Sri berganti nama?

“SPV? Ini bukan penyelidikan pajak, Eric.” (hlm. 207) Seharusnya Zaman.

Mengenai ikonsistensi misalnya terlihat pada,

“Keluarga Nugroho tiba di Pulau Bungin tahun 1944.”(hlm. 67) dan “…Tahun 1945, Nugroho dan istrinya tiba di pulau ini.” (hlm. 69) Jadi, yang benar yang mana?

Ada pula beberapa kejanggalan yang mengganggu. Kejanggalan paling terasa ialah sosok Sueb. Baiklah, Sueb memang orang asli Jakarta. Dari gaya bicaranya pun menunjukkan itu. Tapi untuk tahu Cadillac dan Fiat, mengingat dengan persis bulan dan tahun banjir setinggi dua meter di Sudirman, tahapan pembangunan Monas, hingga Peristiwa Malari? Di satu sisi, pembaca memang dapat menambah pengetahuan. Tapi apakah Sueb ini wikipedia berjalan? Dan Peristiwa Malari. Aneh untuk pengacara sekaliber Zaman tidak tahu peristiwa itu. Lalu bertanya pada—maaf—seorang tukang ojek?

Saat Zaman menerangkan analisisnya mengapa Ningrum bisa sampai ke Paris juga terkesan kurang smooth. Zaman seperti pihak ketiga yang mengetahui semuanya. Mungkin jika Bang Tere membuat narasi tersendiri, kisahnya bisa lebih mengalir.

Terakhir yang saya sayangkan, mengapa pembaca digantung mengenai empat pertanyaan yang diajukan Eric saat pertama kali mewawancarai Zaman? Saya kira empat pertanyaan itu nantinya akan menjadi bekal Zaman dalam kasus ini. Huft. Ini kekesalan pribadi, sih. Mungkin di lain waktu Bang Tere bisa menjelaskan. Hehe.

Hikmah Tentang Kamu

Terlepas dari segala kekurangan itu, Sri dan orang-orang dan sekitarnya adalah tokoh fiksi yang patut diteladani. Termasuk Mbak Lastri. Dari Mbak Lastri dan Mas Musoh kita belajar bahwa dengki mampu membakar sesuatu yang berharga sekelas persahabatan, sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. Padahal, masalah mereka dapat selesai cukup dengan komunikasi di antara dua pihak. Meluruskan kesalahpahaman dan pandangan negatif yang destruktif.

Saya betul-betul teringat dengan mereka yang masih bisa hidup dengan menggenggam bara kekecewaan. Kawan, kita selalu memiliki pilihan di tengah luka. Berdamai dengan itu atau merawatnya hingga tumbuh subur di dada. Baik cinta maupun benci, sama-sama bisa menjadi energi yang mengagumkan.

Sekali lagi aku tanyakan padamu. Kamu mau memilih menjadi Sri Ningsih atau Sulastri?

***

Judul: Tentang Kamu

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta

Tebal: vi+524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Cetakan: IV, November 2016

Nomor ISBN: 978-602-082-234-1

resensi-novel-ayat-ayat-cinta-2

Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Posted on August 31, 2023August 29, 2023 by admin

Alur Ayat-Ayat Cinta 2

Seusai menikah dengan Aisha, Fahri kini tinggal di daerah Edinburgh, Skotlandia. Atau lebih tepatnya di kawasan Stoneyhill Grove, Musselburgh.

Di kompleks berbentuk letter L ini, Fahri bertetangga dengan orang-orang yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda. Ada Nenek Catarina, seorang Yahudi tulen yang rajin pergi ke sinagog. Terdapat pula Brenda, wanita kantoran yang sering pulang larut malam dan suka minum minuman keras. Kemudian ada juga Nyonya Janet yang hidup bersama kedua anaknya, Keira dan Jason. Kedua kakak-beradik tersebut sangat membenci Fahri sebagai seorang Muslim. Keira beberapa kali menaruh tulisan di kaca mobil Fahri seperti “MUSLIM=TERORIST! GO HELL!”. Sedangkan Jason selalu mengucapkan kata-kata kasar setiap kali berpapasan dengan Fahri. “Fuck you!” umpatnya.

Fahri sendiri tinggal bersama Paman Hulusi. Seorang pemabuk yang diselamatkannya dari sekumpulan preman. Dan kini ia menjadi supir pribadi Fahri.

Kesehariannya diisi dengan menjadi dosen Ph.D di The University of Edinburgh. Selain itu, Fahri juga mengelola dua bisnis besar. Yakni resto dan minimarket Agnina serta AFO Boutique yang ia dirikan bersama Aisha dan Ozan (sepupu Aisha).

Tapi kehidupan indah tersebut ternyata masih menyisakan tangis bagi Fahri. Karena hingga kini, Aisha tak berada di sisinya. Ia hilang di Palestina bersama seorang temannya bernama Alicia. Meski Alicia telah ditemukan tewas terbunuh oleh Zionis Israel, namun itu tidak menyurutkan Fahri untuk tetap mencari dan menanti Aisha. Dorongan untuk menikah lagi datang dari segala sisi. Tetapi tidak pernah ia pedulikan.

Tawaran Sulit

Tawaran pertama datang dari Ozan. Ia menawari Fahri agar meminang Hulya, adik Ozan. “Dia tidak hafal Al-Qur’an tapi bagus bacaan Al-Qur’annya. Dia baru lulus B.A dari METU.” (hlm. 62)

Sedangkan tawaran kedua datang dari Syaikh Utsman, guru talaqqi dan qiraah sab’ah Fahri ketika di Mesir. Syaikh meminta Fahri agar menikahi cucu perempuannya bernama Yasmin. Akhlaknya terjaga, hafal Al-Qur’an sejak usia 11 tahun, dan sedang menempuh Ph.D hukum islam di Durham University.

Perlahan, suasana di rumah Fahri bertambah ramai. Sejak ia memutuskan menanggung seluruh beasiswa Misbah di Heriot-Watt University. Teman satu rumahnya di Kairo dulu itu, kini tinggal selangkah lagi meraih gelar Ph.D Ekonomi Islam.

Fahri juga beberapa kali diundang makan dan mendapat kunjungan dari keluarga Tuan Taher. Dosen di Queen Margaret University ini tinggal bersama istri dan seorang putrinya yang bernama Heba.

Penghuni rumah Fahri pun bertambah satu lagi. Foto Sabina, seorang muslimah dengan wajah rusak, tiba-tiba muncul di The Edinburgh Morning dengan tulisan di dada: I’m homeless! Help me! Bagi Fahri ini adalah panggilan dakwah. Sementara legalisasi Sabina diurus, mau tak mau ia menetap di bagian basement rumah Fahri.

Masalah Fahri tak berhenti di situ. Ia ditantang oleh Baruch, anak tiri Nenek Catarina, berbebat mengenai konsep amalek. Fahri juga menerima tawaran debat akbar di The Oxford Union dari Profesor Charlotte. Yakni sebuah forum debat tertua dan paling bergengsi di dunia. Lawan debatnya kali ini tidak main-main. Ada Profesor Mona Bravmann, pakar kajian timur dekat dari Chicago, dan Prof. Alex Horten, pakar sosiologi agama dari King’s College London.

Apakah Fahri berhasil mengatasi masalah-masalah tersebut? Termasuk apakah akhirnya ia memilih menikah lagi atau tetap mempertahankan hatinya pada Aisha? Siapakah yang akan Fahri pilih, Hulya atau Yasmin?

Banyak pertanyaan-pertanyaan besar yang sayang dilewatkan jawabannya dalam buku setebal 690 halaman ini.

***

Analisis Umum Ayat-Ayat Cinta 2

Apa jawaban Anda jika ditanya, “Kenapa orang Muslim suka bom bunuh diri?”

Mungkin sebagian dari kita langsung mengernyitkan dahi. Lalu bertanya dalam hati, “Mengapa orang tersebut bisa berpikir demikian?” Sebab, redaksi kalimatnya jelas menghakimi.

Begitu pula yang dirasakan Fahri Abdullah. Kala ia menggantikan Profesor Charlotte Brewster mengajar kelas Filologi di The University of Edinburgh. Pertanyaan polos dari seorang mahasiswi asal Cina bernama Ju Se tersebut, seolah menggambarkan bahwa ia benar-benar tidak mengenal Islam. Atau ia justru memperoleh penjelasan mengenai Islam dari sumber-sumber yang tidak tepat.

Pertanyaan semacam itu—yang muncul di awal bab—pun seakan menggambarkan topik besar yang ada di dalam novel ini. Dan benar saja. Topik islamopobia cukup besar mewarnai isi novel. Apalagi Fahri tinggal di negara dengan jumlah muslim yang minoritas.

Indahnya Islam

Beberapa kali Kang Abik menunjukkan bahwa begitulah Islam. Ia datang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Melalui tindakan-tindakan Fahri, penulis ingin memperlihatkan bahwa kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan pula. Dan dakwah tidak boleh dengan paksaan. Tetapi harus melalui hikmah, nasihat yang baik, dan argumentasi ilmiah kalaupun harus berdebat.

Misalnya, ketika Fahri memindahkan Brenda yang tak sadarkan diri di tengah jalan akibat mabuk, ke depan rumahnya. Atau mengantar Nenek Catarina ke Sinagog. Bahkan rela merawat beliau dan membeli rumahnya yang sempat ingin dijual oleh Baruch. Fahri juga menanggapi Keira dan Jason dengan santai. Keduanya bahkan dibantu oleh Fahri, meskipun Keira tidak mengeahuinya. Jason diberi beasiswa hingga menjadi seorang pesepakbola profesional. Dan Keira dilatih biola oleh Madam Varenka—orang bayaran Fahri—hingga memenangi kontes dunia.

Paman Hulusi pun sampai bingung mengapa Fahri bisa rela hanya tidur beberapa jam. Di tengah ibadah dan murajaah hafalannya, ia tidak berhenti menunaikan amanahnya di The University of Edinburgh.

“Cara melawan itu semua adalah dengan menunjukkan bahwa kita, umat Islam ini berkualitas. Bahkan harus lebih berkualitas dan lebih profesional dibanding orang-orang asli penduduk sini. Sudah menjadi naluri bahwa penduduk asli mendapatkan prioritas. Itu yang harus kita sadari. Maka kita harus menunjukkan nilai lebih yang tidak dimiliki penduduk asli.” (hlm. 25)

Fahri juga menambahkan, “Saya tidak muluk-muluk. Cukuplah bahwa saya bisa menyampaikan akhlak Islam dan kualitas saya sebagai orang Islam kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya, jika saya bisa, itu saya sudah bahagia.” (hlm. 26)

Konsep Amalek

Topik besar lainnya yang mengisi novel ini ialah mengenai konsep amalek milik kaum Yahudi. Melalui konsep inilah, Israel melegalisasi penjajahannya di atas tanah Palestina. Bagi mereka, anak-anak keturunan Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Di antara manusia lalu muncul bangsa-bangsa yang tidak menyukai prinsip ini dan berusaha melenyapkan bangsa Yahudi. Mereka inilah yang disebut dengan kaum amalek. Orang-orang amalek ini wajib ditumpas oleh kaum Yahudi karena dianggap mengancam eksistensi mereka. Termasuk amalek ialah semua orang Arab, orang muslim, dan orang Palestina.

Konsep inilah yang coba dibantah oleh Kang Abik melalui debat antara Fahri dan Baruch. Fahri berhasil menjelaskannya dengan argumen ilmiah dan cukup telak.

Meski materinya cukup padat, namun tema cinta tetap tidak ketinggalan. Sebagaimana penuturan penulisnya sendiri ketika bedah buku Api Tauhid di AQL sekitar tahun lalu. Semua buku beliau memang sengaja dibumbui tema cinta. Ada Ketika Cinta Bertasbih, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta, dan lain-lain. Ini semata agar novel terasa lebih ringan dan lebih dekat dengan pembaca. Siapa yang tidak suka dengan tema cinta?

Perbedaan 2 Ayat-Ayat Cinta

Secara umum, ada beberapa perbedaan antara Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2.

Pertama, jelas bahwa latar temat yang dipilih berbeda. Kalau dahulu bertempat di Mesir, kini lokasinya berpindah ke Skotlandia.

Kedua, jika dahulu tema besar yang diangkat adalah mengenai pernikahan Islam, kini tema besarnya berkutat pada isu-isu di dunia Islam.

Ketiga, sudut pandang pada Ayat-Ayat Cinta 1 memakai sudut pandang pertama. Sedangkan kali ini point of view yang digunakan adalah sudut pandang ketiga yang terpusat di Fahri. Sehingga kita bisa lebih mengeksplorasi isi kepala atau tindakan tokoh lain tanpa Fahri mengetahuinya. Seperti, ketika Sabina menangis di kamarnya atau mimik wajah para penonton ketika menyaksikan debat antara Fahri dan Baruch.

***

Kelebihan dan Kekurangan Ayat-Ayat Cinta 2

Sebagai karya manusia biasa, tentu sebuah novel pun tidak lepas dari cela. Meski begitu, kelebihannya kadang mampu menutupi cela tersebut. Sebagaimana novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini.

Kelebihan Ayat-Ayat Cinta 2

1. Berani

    Menghadirkan tema amalek dan berusaha membantahnya bisa dibilang berani untuk sebuah novel. Jika novel ini akan difilmkan juga, saya jadi bertanya apakah tema ini tetap akan diangkat atau tidak. Saya berpikir tema ini bisa jadi sangat kontroversial di dunia internasional. Tapi justru memang itulah poin lebih Ayat-Ayat Cinta 2. Sebagaimana endorsment Melly Goeslaw, “Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah karya sastra racikan Kang Abik yang mengejutkan. Lebih berani dan dinamis. Tapi tetap sarat makna dan pesan.”

    2. Kesan Islam Sebagai Rahmat Bagi Semesta Alam

    Tokoh Fahri begitu apik menjadi role model bagaimana seharusnya menjadi Muslim yang paripurna, meski di negeri mayoritas non-muslim. Kaya, berwawasan, memiliki bisnis, dermawan, dan pandai menghadirkan akhlak Islam yang begitu agung. Kita seolah menemukan makna Islam rahmatan lil alamin dalam novel ini. Setiap Muslim sepertinya “wajib” merenungi lembar per lembarnya.

    3. Pemaparan Latar yang Detail

    Deskripsi Kang Abik mengenai Skotlandia beserta jalan-jalannya terasa begitu nyata. Beliau seolah pernah berkunjung ke sana dan meriset lokasi serta budaya masyarakat setempat. Bagi para penulis pemula, tentu hal ini dapat dijadikan pelajaran. Sebab latar bukan hanya tentang semburat senja atau rinai hujan, tetapi juga mengenai detail lokasi. Ketika sebuah novel dapat memadukan riset dan sastra, tentu itu akan menjadi poin yang sangat baik.

    Kekurangan Ayat-Ayat Cinta 2

    1. Fahri yang Terlalu Sempurna

    Hampir sama dengan novel sebelumnya, sosok Fahri di sini seperti sosok yang utopis. Sangat jarang kita menemukan sosok yang begitu bersahaja. Cerdas, kaya, dermawan, berprestasi, dan digilai banyak wanita. Sepertinya hal inilah yang tidak disukai oleh beberapa pembaca.

    Tapi saya sedikit memiliki pandangan lain. Saya khawatir, justru umat Islam hari ini memang sedang dilanda penyakit inferior (rendah diri) yang akut. Sehingga ketika melihat sosok Fahri, kita menganggap bahwa sosok tersebut tidak riil. Padahal kalau kita ingin menengok sejarah, sosok Rasulullah Saw. dan para shahabat adalah orang-orang yang bahkan melebihi Fahri. Ada Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang kaya namun sangat dermawan. Rasulullah pun menjadi role model bagaimana bersikap terhadap non-muslim. Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Masihkah kita menganggap semua itu tidak riil?

    Kalau saja kita mau mengamati sedikit lagi, Fahri pun sebenarnya tidak sesempurna yang kita bayangkan. Ia sangat lemah terhadap fitnah wanita. Contohnya jelas pada Ayat-Ayat Cinta 1. Dan di novel ini pun ketika ia tidak ingin melepaskan hatinya dari Aisha merupakan bukti bahwa wanita adalah cobaan terberat bagi Fahri.

    2. Klimaks yang Tidak Klimaks

    Pada Ayat-Ayat Cinta 1, kita bisa menganalisa bahwa klimaks ceritanya adalah ketika Fahri tersebas dari tuduhan pemerkosaan. Namun di novel ini, bisakah kita menetapkan mana klimaksnya? Apakah ketika Fahri berdebat di The Oxford Union? Agak susah menyimpulkannya. Karena setelah itu pun kita masih menunggu jawaban di mana sosok Aisha kini berada. Kalau ditemukannya Aisha itu adalah klimaks, tetapi debat di Oxford itu dan Keira yang akhirnya mengetahui siapa pemberi beasiswanya juga bisa dibilang klimaks.

    Inilah hal yang hilang di Ayat-Ayat Cinta 2. Kang Abik memang tidak menggunakan teknik khusus agar pembaca mau terus membuka bab per bab. Tapi dengan banyaknya pertanyaan tersebut, sudah cukup membuat kita terus membaca novel ini dan berusaha mencari jawabannya. Alurnya begitu meliuk-liuk.

    3. Plot Twist yang Bisa Ditebak

    Tentu para pembaca menanti-nanti, di manakah Aisha kini? Tetapi entah kenapa Kang Abik beberapa kali memberikan kode. Seperti lekuk tubuh dan timbre suara Sabina yang mirip Aisha. Tangisan Sabina di beberapa scene. Jari Sabina yang tiba-tiba terbakar ketika hendak diperiksa sidik jarinya. Dan beberapa kode lainnya. Benar-benar membuat pembaca menebak, apakah Sabina itu sebetulnya adalah Aisha? Premis inilah yang membuat akhir cerita sedikit bisa ditebak.

    4. Terlalu Padat

    Ayat-Ayat Cinta 2 bisa dikatakan lebih tebal dua kali lipat dari novel sebelumnya. Kang Abik banyak sekali memasukkan materi keislaman di dalam novel, sehingga isinya tampak padat sekali.

    Misal, dialog antara Fahri dan Misbah mengenai hukum menjual minuman keras di negara mayoritas non-muslim. Atau lintasan pikiran Fahri ketika mengetahui bahwa Profesor Charlotte tidak masuk Islam karena kelakukan Muslim sendiri yang tidak mencerminkan akhlak Islam. Di sini lintasan pikiran Fahri panjang sekali.

    5. Kesalahan Tulis

    Kali ini koreksi bagi editor dan penerbit. Sayang sekali novel sebagus ini masih harus ada keasalahan ketik. Seperti penulisan kalau menjadi kau, Fahri menjadi Fahmi, dan beberapa typo lainnya.

    Akhirnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel ini tetap layak dikonsumsi bagi setiap Muslim. Sangat bergizi dan membangun jiwa. Mendorong setiap Muslim agar menjadi Muslim yang paripurna. Meneladani kehidupan Rasulullah dan para shahabat. Lalu mempraktikannya dalam kehidupan masyarakat. Sehingga tidak ada lagi sekat antara keagungan Islam dengan keindahan akhlak seorang Muslim.

    Judul: Ayat-Ayat Cinta 2

    Penulis: Habiburrahman El Shirazy

    Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta

    Tebal: vi+698 halaman; 13.5 x 20.5 cm

    Cetakan: VII, Desember 2015

    Nomor ISBN: 978-602-0822-15-0

    resensi-buku-jalan-cinta-para-pejuang

    Resensi Buku Jalan Cinta Para Pejuang

    Posted on August 29, 2023August 29, 2023 by admin

    Satu kata cinta Bilal:

    “Ahad!”

    Dua kata cinta Sang Nabi:

    “Selimuti aku..!”

    Tiga kata cinta Ummu Sulaim:

    “Islammu, itulah maharku!”

    Empat kata cinta Abu Bakar:

    “Ya Rasulallah, saya percaya..!”

    Lima kata cinta ‘Umar:

    “Ya Rasulallah, izinkan kupenggal lehernya!”

    Selamat datang di jalan cinta para pejuang.

    Apa yang berlarian di pikiran Anda ketika terletup kata ‘cinta’? Apakah kegilaan Qais pada Layla yang mengakhirkan kenestapaan? Atau roman klasik Romeo-Juliet yang jua ditutup dengan tragedi mengiris hati? Keduanya tampak indah dan romantis. Membekas di relung benak setiap pendengar kisahnya. Tetapi bukan ‘cinta’ jenis ini yang hendak kita diperjuangkan.

    Seperti serangkaian kata penulisnya di bagian pembukaan, cinta sebagai bentuk emosi yang lain semisal takut, benci, dan harap harus diikat dengan sesuatu yang lebih agung dalam hidup. Kedudukan cinta bukanlah sebagai tujuan. Ia sepatutnya menjadi bekal bagi kita untuk memenuhi tugas sebagai hamba Allah dalam beribadah dan mengelola karunia-Nya.

    Salim A. Fillah pun melanjutkan, “Lalu tugas besar kita pun dimulai: ubah cinta, ubah jiwa, ubah dunia.”

    Tapak Pertama Jalan Cinta Para Pejuang

    Tidak heran, tapak pertama kita menyusuri buku ini ialah dengan menelusuri jejak pemahaman-pemahaman cinta yang cenderung melemahkan jiwa. Betajuk “Dari Dulu Beginilah Cinta”, pada bagian permulaan ini segala teori tentang cinta yang justru menyengsarakan coba dipatahkan satu per satu. Bimbingan wahyu menjadi pemandu kita mereguk makna cinta yang selayaknya menguatkan.

    Sebagaimana tulis Anis Matta yang dikutip di buku ini pada halaman 34, “Seperti ini, kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak—atau tak beroleh kesempatan—untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan.”

    Itulah sebagian ketidaktepatan memadukan antara kebahagiaan dan cinta. Pemahaman mengenai cinta yang keliru kerap membuat umur cinta tidak tahan lama. Di jalan cinta para pejuang, kita hendak membina kesetiaan dan pengorbanan. Mengesahkan komitmen sebagai tapak pertama kita.

    Tajuk Kedua Jalan Cinta Para Pejuang

    Tajuk bagian kedua, “Dunia kita hari ini”, lalu ingin mengajak kita menyeksamai dunia yang akan menjadi bingkai jalan cinta. Kita memahaminya agar mampu menaklukannya. Sebab dunia ini telah berubah. Tidak ada jalan lain, selain kita harus berbenah. ‘Pejuang’ lain dengan segala ismenya, pemikir-pemikir liberal, kaum ubersexual, dan musuh-musuh dalam selimut sedia mengintai kelemahan kita. Menanti kelalaian kita.

    Barangkali Anda bingung, apa hubungan cinta dengan dunia kita hari ini? Mengapa mereka yang biasanya berada di ranah pemikiran islam, kini hadir di bawah payung bertema ‘cinta’?

    Memang beginilah cinta semestinya. Ia membangkitkan tekad, menguatkan iman, mengokohkan gairah. Sekali lagi, ia bukan tujuan. Ia merupakan bekal kita sebagaimana emosi-emosi kita lainnya. Dan kita, insya Allah, lebih memahaminya ketika memasuki bagian ketiga. Yakni tatkala kita menapaki empat jejak jalan cinta.

    Jejak-Jejak

    Pertama, membangun visi. Agar cinta menjadi gagah. Tidak mudah lelah apalagi menyerah. Kita harus bangkit dari lelap panjang ini. Kita punya tugas yang harus segera ditunaikan di dunia nyata. Para pemimpi yang berpikiran besar biasanya tidak mudah berpaling atau rentan menoleh. Ia memiliki hijab yang tebal nan kuat. Hijab agar ia tidak mudah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.

    Penulis sempat menyuguhkan sebuah penilitian yang digelar BBC mengenai Brainsex. Penelitian ini insya Allah dapat membuat Anda lebih mudah memahami mengapa kita tidak layak berurusan dengan hal-hal kecil. Visi yang terang benderang membuat cinta bertahan lebih lama dan lebih terarah. Sebab sebagaimana penulis mengingatkan pada halaman 157, “Takdir adalah misteri, tugas kita adalah mencitakan dan merencanakan.”

    Selepas merajut cita-cita, apa jejak keduanya? Ialah mengasah gairah. Semua orang mungkin mampu merenda mimpi, tapi kemampuan ini kerap kalah dari kemampuan kita untuk menunda. Padahal cinta adalah kata kerja. Mereka yang siap mencintai, berarti mereka siap memberi dan berkorban. Mereka siap bertanggung jawab. Bahkan cemburu pun menjadi letupan gairah. Membuat visi yang jauh, terasa berada di depan kelopak.

    Namun kadang, keduanya tetap tak cukup membeningkan keadaan. Seluruhnya masih tampak buram dan kelam. Maka jejak ketiga ialah melihat seluruhnya dengan nurani yang bersih.

    Nurani yang menyelamatkan. Jernih dari sangka buruk pada Allah. Tidak terlalu menghitam akibat dosa dan maksiat. Dengan nurani, cinta mengejawantah dalam kerja-kerja besar dakwah dan jihad. Menerangi visi dan membatasi gairah yang kerap meletup tak berbatas. Nurani menjadikan kita bersyukur tak sekadar berpuas.

    “Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah puas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas, janganlah puas sekadar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.” (hlm. 282)

    Jika ketiganya telah ditunaikan, cukupkah? Belum, selama kita tidak mendisiplinkan diri. Inilah jejak keempat. Tidak ada yang memegang kemudi kita, kecuali diri kita sendiri.

    Ulasan Buku

    Bagi yang sering menyelami riuhnya tulisan-tulisan Salim A. Fillah, mungkin hampir tidak dapat menemukan perbedaan gaya tulisannya pada buku ini dengan buku-buku beliau yang lain. Seakan inilah khas beliau yang tidak dimiliki penulis lain. Meski mungkin bagi sebagian orang cenderung membosankan, namun nyatanya banyak pembacanya kini perlahan menuruni gaya tulisan beliau.

    Diksi yang dipilihnya kerap bersastra. Kalimatnya dibuat lebih soft sehingga tidak muncul kesan menghakimi. Penjabaran materi tidak melulu dalil yang menjadikannya kaku. Berpuluh kisah berhikmah menemani pembaca menyeksamai kalimat demi kalimat. Tak kalah menarik, di buku ini teramat banyak penulis menampilkan penelitian tertentu dan teori-teori psikologi. Menambah bobot kualitas pemaparan beliau mengenai cinta dan seni membangunnya.

    Meski begitu, sangat disayangkan masih ada beberapa kata yang salah ketik. Seperti menulis tafsir dengan ‘tofsir’, Injil dengan ‘Injili’, arsy dengan ‘arsa’. Selain itu, beberapa kisah mungkin pernah pembaca dengar pada buku beliau yang lain. Cerita-cerita ini menjadi berulang ditulis. Bagi sebagian pembaca, hal ini barangkali mengganggu dan sedikit membosankan.

    Judul: Jalan Cinta Para Pejuang

    Penulis: Salim A. Fillah

    Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta

    Tebal: 344 halaman; 14 x 20 cm

    Cetakan: 9, Juli 2013

    Nomor ISBN: 979-1273-08-1

    Cukupkah Hanya dengan Pendidikan Karakter?

    Posted on March 31, 2023March 31, 2023 by admin

    “Good character is more to be praised than outstanding talent. Most talents are to some axtent a gift. Good character, by contranst, is not given to us. We have to build it piece by piece—by thought, choice, courage, and determination.” (John Luther).

    Pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed) tahun 2010 silam, Prof. Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa Kementerian Pendidikan Nasional telah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan. Mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi.

    Beliau menekankan betapa perlunya pembentukan karakter sejak usia dini. Dengan begitu, perlahan pendidikan karakter mampu membangun kepribadian bangsa.

    Gagasan mengenai pendidikan karakter di Indonesia sebetulnya dapat kita maklumi. Hal ini karena sebagian besar dari kita merasakan bahwa proses pendidikan di tanah air jauh dari kata berhasil, kalau tidak mau disebut gagal.

    Sekolah maupun perguruan tinggi banyak melahirkan para sarjana, namun memiliki karakter yang buruk.

    Muncul banyak cendekiawan, tetapi moralnya lemah.

    Fenomena ini sejak lama telah diingatkan oleh Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Pribadi, “Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ‘mati’, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, lain dari pada kesenangan dirinya.

    “Pribadinya tidak kuat.

    “Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup.”

    Tapi, cukupkah membangun manusia Indonesia hanya melalui pendidikan karakter?

    Dalam buku Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, DR. Adian Husaini mengatakan bahwa pendidikan karakter saja tidaklah cukup.

    Terutama bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah Muslim.

    Orang komunis atau atheis bisa saja menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, berani, bertanggung jawab, mencintai kebersihan, dan sebagainya.

    Di Jepang, konon, apabila tas kita tertinggal di dalam taksi, maka si supir akan segera mengembalikannya. Jadi, karakter yang bagus dapat dibentuk pada setiap manusia, tanpa memandang apa pun agamanya. Baik orang itu Muslim atau non-Muslim.

    Lalu, di mana perbedaan antara Muslim dan non-Muslim yang berkarakter?

    Pendidikan Karakter dan Adab

    Perbedaannya terdapat pada konsep adab.

    “Yang diperlukan oleh kaum Muslim Indonesia bukan hanya menjadi seorang yang berkarakter, tetapi harus menjadi seorang yang berkarakter dan beradab,” tulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UIKA Bogor tersebut.

    Adab merupakan terminologi dasar dalam Islam. Istilah ini disinggung oleh Rasulullah Saw. dalam sejumlah sabdanya.

    Misalnya, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (H.r. Ibnu Majah) dan juga, “Apabila seseorang mendidik anaknya (menjadikan anaknya beradab), maka itu lebih baik baginya daripada bersedekah setiap hari sebanyak setengah sha’.” (H.r. Ahmad).

    Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab, “Setiap kali telingaku mendengar suatu hal tentang adab, maka seluruh tubuhku  merasakan nikmat atas hal itu.”

    Beliau lalu ditanya lagi, “Bagaimanakah usaha-usahamu dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya, laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”

    Melalui pendidikan adab, seseorang mampu mengenali dan meletakkan sesuatu sesuai tempatnya.

    Dalam buku Risalah untuk Kaum Muslimin, Prof. Naquib Al-Attas menegaskan, “Adab adalah kemauan dan kemampuan seseorang untuk meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya, sesuai dengan harkat dan martabat yang telah ditentukan oleh Allah.”

    Beliau kembali mengingatkan konsep adab dalam buku The Concept of Education in Islam, “Adab is recognition and acknowledgement of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various grades and degrees of rank, and of one’s proper place in relation to that reality and one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potencial.”

    Karena mampu meletakkan sesuatu sesuai porsinya, maka seseorang pun akan dapat mengenali jati dirinya. Mampu menilai apakah dirinya tahu atau tidak tahu.

    Manusia yang tidak beradab justru akan merasa paling tahu, padahal ia tidak tahu. Seseorang pun juga akan menghargai posisi ilmu serta manfaatnya bagi dirinya di dunia dan akhirat.

    Niatnya lurus ketika mencari ilmu dan tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu.

    Melalui adab, manusia mampu pula menempatkan karakternya. Kapan dia harus jujur, kapan dia boleh berbohong.

    Dalam konsep adab pun, apabila manusia bekerja keras hanya untuk tujuan duniawi sesaat, maka manusia termasuk kategori tidak beradab. Karakter yang dimilikinya tidak akan melanggar norma-norma agama.

    Contohnya, toleran adalah karakter yang baik. Tapi sebagai Muslim kita harus toleran terhadap apa? Seorang Muslim tidak boleh bersikap toleran terhadap kezaliman maupun kemusyrikan. Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

    Inilah, menurut Adian Husaini, pendidikan yang sesuai dengan sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab.

    Pendidikan harus mampu menjadikan seseorang sebagai manusia yang berkarakter dan beradab sekaligus. Itulah tujuan pendidikan dalam Islam: mencetak manusia yang baik atau good man.

    Sebagaimana dirumuskan oleh Prof. Naquib Al-Attas dalam buku Islam and Secularism, “The purpose of seeking knowledge in Islam is to inculcalte goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man… the fundamental element inheren in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”

    Allahu a’lam.[]

    the-dead-returns

    Resensi The Dead Returns: Nyawamu Hasil Pengorbanan Banyak Orang

    Posted on February 16, 2023February 2, 2023 by admin

    “..Diabaikan secara tak sadar dan tanpa alasan rasanya lebih menyakitkan daripada diabaikan karena di-bully.” (hal. 98)

    Pernahkah kita khawatir, jika nanti mati, apa tanggapan orang-orang di sekitar kita? Menangis sedih, merasa biasa saja, atau justru tertawa gembira? Rasa penasaran yang kuat bercampur dengan kengerian untuk menyaksikannya.

    Namun, sepertinya Koyama Nobuo sudah siap menerima semua kenyataan di hadapannya. Apa yang perlu ia harapkan pada teman-teman sekelasnya di SMA Higashi? Koyama hanyalah seorang otaku (fanatik) kereta api di kelasnya. Tidak punya kelebihan, tidak menonjol, dan pastinya tidak digemari murid-murid perempuan. Bersama sahabatnya, Yoshio, ia bertahan di tengah orang-orang yang menganggap mereka pemilik masa depan suram. Keduanya tidak di-bully, tapi tidak diperhatikan juga.

    Betul saja. Sekembalinya ia ke kelas, bahkan bunga putih untuk mengenangnya pun tergeletak layu. Tidak ada yang mengganti airnya.

    Koyama harus sabar. Bukan itu tujuan ia kembali ke sana. Kini tubuhnya adalah milik Takahashi Shinji, murid pindahan berwajah cerah, tampan blasteran, dan lebih tinggi darinya. Seseorang yang berusaha menyelamatkannya saat terempas akibat didorong oleh pelaku misterius di Tebing Miura Kaishoku pada malam setelah upacara pembukaan semester baru.

    Saat Koyama siuman dari koma panjang, ia telah bertukar tubuh dengan Takahashi. Kesempatan ini tidak boleh dibuang percuma. Koyama punya kehidupan kedua yang harus dimanfaatkan guna mencari si pelaku. Tersangka utama: 35 orang teman sekelasnya.

    ***

    Ulasan The Dead Returns

    Tidak butuh waktu lama untuk memutuskan membaca The Dead Returns seusai logika saya diaduk-aduk oleh Girls in the Dark. Akiyoshi Rikako kembali menyajikan cerita misteri yang lincah dan mengajak pembaca berspekulasi.

    Mula-mula, kita dijebak untuk mencurigai Sasaki dan Arai. Kemudian muncul tokoh Jozaki. Maruyama yang berkepribadian sama dengan Koyama juga tak boleh diabaikan. Perlahan, kita pun seakan dipaksa untuk menebak Yoshio sebagai pelakunya. Bahkan ibu Koyama, Sakamoto-sensei, dan Takahashi Shinji sendiri tidak bisa lepas dari praduga.

    Saya sejenak berpikir, jangan-jangan ujung novel ini mirip Murder on the Orient Express-nya Agatha Christie. Everyone is suspect!

    Sayangnya, lagi-lagi plot twist. Sulit benar-benar menemukan jawabannya kalau belum sampai halaman terakhir.

    Rasanya saya juga perlu berterima kasih pada Penerbit Haru yang berhasil menerjemahkan novel ini dengan baik. Dialog maupun narasinya mengalir sebagaimana novel remaja pada umumnya. Gambaran mengenai kehidupan sekolah di Jepang juga cukup terlukiskan secara apik. Kegiatan klub, festival budaya, sungguh masa muda yang penuh energi. Sayangnya, kasus bullying tampak tidak pernah selesai.

    Budaya modernnya yang membanjiri dunia hari ini memoles sisi kelam negeri sakura tersebut. Kita kerap terpukau pada kemajuan teknologi dan masyarakat Jepang yang terkenal disiplin. Faktanya, angka bunuh diri di Jepang termasuk yang tertinggi dari seluruh negara. Kementrian Kesehatan setempat, pada tahun 2016 lalu, mencatat angka kematian akibat bunuh diri mencapai hampir 22 ribu orang (Kompas.com).

    Adapun di Indonesia, jumlahnya cenderung menurun. Dari 30 ribu kasus pada 2005, hingga hanya 840 kasus di tahun 2013. Terdapat empat penyebab utama: putus cinta, masalah ekonomi, keluarga yang tidak harmonis, dan masalah sekolah!

    Saling Terbuka

    Koyama yang berupaya mencari pembunuhnya, ternyata juga disadarkan pemandangan menarik. Kadang ia menyaksikan kepalsuan teman-temannya, kadang justru ia menemukan kebaikan di balik anggapan kelirunya. Begitu pula Yoshio maupun Maruyama. Ketiganya menganggap teman-teman yang lain tidak mengerti mereka, tanpa disadari mereka pun punya pandangan negatif terhadap teman sekelasnya. Semua masalah tersebut ternyata mampu diselesaikan melalui hal sederhana: komunikasi. Saling terbuka dan menyampaikan hal-hal yang disukai maupun tidak disukainya.

    Nyawa kita terlalu mahal untuk dikorbankan begitu saja. Padahal bisa jadi ada andil pengorbanan banyak orang agar kita tetap hidup.

    “Kau bilang keberadaanmu muncul karena pengorbanan orang lain. Tapi, bukankah semua orang memang seperti itu? Namun, sedikit sekali orang yang menyadari fakta penting itu. Akan tetapi, Takahashi-kun, kau bisa menyadari hal yang mulia itu. Bukankah itu bagus sekali? Dengan itu saja, kau sudah cukup berarti untuk dilahirkan. Karean itu, percaya dirilah. Aku ingin kau hidup dengan bangga. Hmm… menurutku, Takahashi-kun pantas untuk hidup.” (hal. 156)

    Judul: The Dead Returns
    Penulis: Akiyoshi Rikako
    Penerbit: Penerbit Haru
    Tebal: 252 halaman
    Cetakan: VIII, Oktober 2017
    Nomor ISBN: 978-602-7742-57-4

    • 1
    • 2
    • 3
    • Next

    Recent Posts

    • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
    • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
    • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
    • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
    • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

    Recent Comments

    1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
    2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
    3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

    Archives

    • August 2025
    • July 2025
    • October 2023
    • September 2023
    • August 2023
    • March 2023
    • February 2023
    • January 2023

    Categories

    • Books
    • Lifestyle
    • Thoughts
    © 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme