HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu
novel-pergi

Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy

Posted on February 14, 2023February 2, 2023 by admin

Ada dua momen paling penting dalam hidup. Pertama, ketika kita dilahirkan. Kedua, saat kita tahu mengapa.

Sepanjang sejarah kehidupan, manusia selalu bertanya: siapa mereka, sekarang ada di mana, dan mau menuju ke mana. Setiap individu akan mencapai suatu titik untuk bertanya demikian pada dirinya sendiri. Itulah pertanyaan dasar yang harus dijawab. Dan itu pula yang berkelindan di benak Bujang saat ini. Ia bukan Tauke Besar biasa, memuaskan ambisinya tanpa putus. Ia Bujang, pemilik darah tukang pukul terbaik negeri sekaligus pewaris darah seorang ulama besar.

***
Tentang Novel Pergi

Melanjutkan novel Pulang, Pergi dibuka dengan adegan penyerbuan ke markas El Pacho di Meksiko. Bersama si kembar Kiko dan Yuki, White, serta Salonga, Bujang hendak merebut teknologi pendeteksi serangan siber milik Keluarga Tong yang dicuri oleh salah satu penguasa shadow economy di Asia Pasifik tersebut.

Pembukaan semacam ini seolah mengindikasikan bahwa Pergi akan berjalan dalam tempo yang cepat. Tidak bertele-tele mengenalkan karakter atau membangun konflik cerita. Pembaca lekas dihadapkan pada situasi menegangkan, pertempuran antara dua kelompok shadow economy. Rasa penasaran pembaca semakin membuncah, ketika Tere Liye menghadirkan tokoh baru. Memakai bahasa Bujang, lantas menyebut Bujang sebagai adik lelakinya. Hmm, siapa dia?

“…Aku harus pergi. Adios, Hermanito.” (hal. 26)

Berawal dari penyerbuan itu, alur Pergi merangsek maju. Sepeninggal Tauke Besar sebelumnya, Bujang yang kini menjadi Tauke Besar baru berhasil mengembangkan bisnis Keluarga Tong. Mereka tidak lagi bergerak di bidang bisnis kotor selayak perjudian, narkoba, atau perdagangan obat-obatan. Keluarga Tong telah bertransformasi selama dua puluh tahun terakhir, begitu pula beberapa penguasa shadow economy lainnya.

“Catat baik-baik: satu di antara empat kapal di perairan dunia adalah milik keluarga penguasa shadow economy. Satu di antara enam properti penting di dunia adalah milik shadow economy. Bahkan satu di antara dua belas lembar pakaian, satu di antara delapan telepon genggam, satu di antara sembilan website adalah milik jaringan organisasi shadow economy. Media sosial raksasa tempat banyak orang memposting foto, status, atau aplikasi transportasi online misalnya, itu ada miliki shadow economy—disamarkan lewat startup yang sesungguhnya dimodali oleh keluarga shadow economy. Berapa besar nilai bisnis shadow economy? Nyaris seperempat dari GDP (gross domestic product/produk domestik bruto) dunia.” (hal. 39)

Total ada delapan keluarga besar shadow economy di dunia. Aturan mereka sederhana: fokus pada bisnis dan kawasan masing-masing, tidak perlu mengganggu keluarga lain. Namun, bisnis tetaplah bisnis. Langit tidak cukup menjadi batas keserakahan manusia.

Master Dragon selaku penguasa Hong Kong ternyata menghimpun kekuatan untuk  menghabisi Keluarga Tong. Aliansi terbentuk. Keluarga Wong dari Beijing, Keluarga Lin dari Makau, dan El Pacho dari Meksiko turut bergabung. Mereka juga menyewa Sersan Vasily Okhlopkov, sniper terbaik dunia dan Yurii Kharlistov, pembuat bom ternama.

Keluarga Tong terancam. Atas saran orang-orang kepercayaannya, Bujang berupaya mencari sekutu. Negosiasi dijalankan untuk merebut kepercayaan Keluarga Yamaguchi di Jepang dan Keluarga Krestniy Otets, pimpinan Bratva Rusia. Adapun Keluarga J.J. Costello di Florida tidak pernah ikut berperang. Dibandingkan menguasai Asia Pasifik, mereka lebih suka berekspansi ke Eropa, Amerika, dan Australia.

Well, di sini tidak ada twist berupa pengkhianatan orang dalam, kok. Tidak seperti di Pulang. Jadi nggak perlu menebak-nebak, hehe.

Di tengah usaha menstabilkan kawasan Asia Pasifik, Bujang lagi-lagi bertemu hantu masa lalunya. Ia dipaksa mengingat kembali kisah ibunya, Midah dan bapaknya, Samad melalui kehadiran si kakak tiri. Mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di masa lampau melalui sekumpulan surat berisi cerita-cerita yang belum pernah dituturkan siapapun.

Mampukah Bujang mengalahkan Master Dragon? Siapakah sebenarnya kakak tiri Bujang dan apa alasan di balik kemunculannya yang mendadak? Novel setebal 455 halaman ini siap menjawab itu semua.

***
Bujang Next Level

Kehadiran Pergi seakan mengobati rindu para pembaca yang bertanya-tanya, “Akankah Tere Liye kembali menerbitkan buku?” Menyusul pernyataan beliau yang memutuskan untuk berhenti dari dunia perbukuan sampai keadilan pajak bagi penulis ditegakkan. Alhamdulillah, novel-novel Tere Liye masih bisa terus dinikmati pembaca.

Pergi juga seperti menjawab kebingungan saya seusai menuntaskan Pulang. Baiklah, Bujang telah memaafkan masa lalunya, rela memeluk seluruh rasa sakit.

Tapi sehabis itu, apa? Memang, saya pun tak berharap Bujang bertaubat atau Keluarga Tong tiba-tiba berbisnis syariah dengan menjual gamis dan jilbab. Hei! Pulang bukan novel Islami, meski terselip nilai-nilai moral di sela paragraf-paragrafnya. Hanya saja, ending Pulang masih terasa menggantung—cliffhanger.

Melalui novel ini, pencarian Bujang atas jati dirinya dimulai. Dia sudah memahami posisinya. Bujang bukan lagi sekadar penyelesai konflik tingkat tinggi, tetapi seorang Tauke Besar! Status barunya mendorong Bujang bertafakkur, “Mau dibawa ke mana Keluarga Tong?”

Pertanyaan mengenai siapa kita, sekarang ada di mana, dan hendak menuju arah mana merupakan pertanyaan dasar kehidupan. Setiap individu akan mencapai titik untuk bertanya demikian pada dirinya sendiri.

Selama berabad-abad, manusia bahkan merumuskan sejumlah jawabannya. Membuat teori ini, teori itu. Menyusun konsep ini, konsep itu. Sebuah pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban panjang. Dan itulah yang sedang Bujang pikirkan.

“…Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa ‘kendaraannya’? Dan ke mana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang. Menemukan jawaban tersebut. ‘Kamu akan pergi ke mana?’, Nak.” (hal. 86)

Di tengah perseteruan aliansi Keluarga Tong melawan Master Dragon beserta para sekutunya, Bujang terus bergulat dengan batinnya. Ini menarik, sebab pertanyaan rumit nan filosofis di atas tidak dijawab melalui dialog membosankan atau kalimat-kalimat bijak klasik. Tetapi melalui bentangan episode hidup yang panjang.

Walau demikian, sebagaimana novel Tere Liye terdahulu, Pergi juga memiliki tokoh-tokoh ‘tua’ yang kadang menyampaikan petuah. Kali ini ada Tuanku Imam dan Salonga.

***

Shadow Economy

Pembaca biasanya memiliki ekspektasi lebih terhadap sebuah sekuel. Begitu juga saya ketika menyeksamai novel ini. Untungnya, Pergi tidak kalah hebat dari Pulang. Tema filosofis mengenai makna hidup disajikan secara apik di tengah dunia shadow economy.

Apakah shadow economy itu benar-benar nyata?

Saya tergolong orang yang percaya pada teori konspirasi. Dalam artian, yang tersiar di media sering kali berbeda pada kenyataannya. Kalaupun bukan kebohongan, minimal ada fakta yang disembunyikan. Dari buku How The World Works karangan Noam Chomsky contohnya, kita akhirnya tahu bahwa banyak kericuhan terjadi di negara-negara Amerika Latin karena terdapat campur tangan Amerika Serikat. Yes, they are always in the middle of things. Dan media saat itu tidak memberitakannya.

Dari Membentangkan Ketakutan-nya Shofwan Al-Banna kita juga memperoleh fakta bahwa program penanggulangan terorisme di seluruh dunia—termasuk Indonesia—berawal dari doktrin keamanan ala Amerika Serikat. ‘With us or against us’, begitu slogannya.

Hingga hari ini memang tidak ada definisi pasti mengenai shadow economy. Para pakar juga kadang menyebutnya sebagai black economy atau underground economy. Seluruh aktivitas bisnis yang lenyap dari pantauan pajak atau tidak benar-benar tercatat dalam GDP, umumnya dianggap perbuatan shadow economy.

Hanya saja, dari apa yang kita dapat dalam Pulang dan Pergi, shadow economy tidak sesederhana itu. Dulu mungkin aktivitas ekonomi mereka bergerak di bawah tanah. Tetapi sekarang mereka pun merambah bisnis terbuka.

Kalau di Indonesia, kasusnya mungkin mirip 9 Naga. Mereka adalah para tokoh yang diyakini menguasai perekonomian negeri ini. Bisnisnya bukan bisnis gelap. Melainkan perusahaan mobil, bank, maskapai, properti, rokok, elektronik, dan masih banyak lagi. Sebagian besar dari apa yang masyarakat pakai sehari-hari adalah produk mereka, dan kadang kita tidak menyadarinya.

Tema mengenai makna hidup dan shadow economy, barangkali memang itulah kekuatan dari novel Pergi. Di samping itu, tampak pula keunggulan lain di tengah cerita. Mulai dari adegan pertarungan yang detail, nuansa film action ala Hollywood, penokohan dengan karakter yang seolah hidup di kepala pembaca, hingga deskripsi latar yang tidak berlebihan. Mirip seperti Pulang.

Ciri Khas Novel Pergi

Saya juga ingin mengulas sedikit yang menjadi ciri khas Pergi:

1. Sampul Depan

Novel ini memiliki desain cover berupa sebuah jalan yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Menggambarkan kondisi kehidupan Bujang dan Keluarga Tong yang kini telah pindah ke Ibu Kota Negara. Sepanjang cerita, Bujang juga kerap bolak-balik ke negara dan kota besar. Daratan Sumatera tidak disebut kecuali sedikit. Bandingkan dengan cover baru Pulang yang melukiskan suasana pedesaan, lengkap dengan pepohonan, rumah sederhana, dan perbukitan. Sebab dari situlah jalan cerita Pulang bermula.

2. Tanpa Footer

Bagi saya, footer dalam novel itu sedikit mengganggu. Saya hanya ingin menikmati sampai habis, tanpa dipusingkan oleh istilah rumit yang membutuhkan penjelasan lanjutan. Untungnya, Pergi tidak memiliki itu. Sesekali memang muncul bahasa asing, seperti bahasa inggris, bahasa spanyol, dan jepang. Namun, makna dari setiap kata diterjemahkan langsung dalam dialog.

“White konsentrasi penuh mengendalikan setir, mobil jip melintasi tumpukan kontainer di halaman stasiun, juga beberapa gantry crane—alat bongkar muat kontainer.” (hal. 30)

“Maraming Salamat Po Imam, terima kasih atas sambutannya yang ramah.” Salonga balas mengangguk takzim, mereka berdua saling bersalaman. (hal. 81)

3. Thomas dan Koenraad Philips

Siapa mereka berdua?

Sebelum novel Tentang Kamu terbit, Tere Liye pernah bilang bahwa beliau hendak membuat sejumlah eksperimen. Salah satunya crossover tokoh. Dan di novel ini, eksperimen itu diterapkan kembali.

Maka kita akan menemukan tokoh Thomas dari Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk bertemu dengan Bujang. Meski sesaat, tetapi perannya cukup penting untuk menemukan bom di pernikahan anak Keluarga Yamaguchi. Adapun Koenraad Philips, si nahkoda kapal Von Humboldt, bisa kita kira-kira merupakan buyut dari Kapten Philips dalam novel Rindu berdasarkan keterangan penulis.

“Nama lengkap nahkoda itu adalah Koenraad Philips. Ayahnya seorang nahkoda, kakeknya seorang nahkoda, ayah dari kakeknya pun seorang nahkoda terkenal di era 1930-an. Dia mewarisi darah pelaut tangguh, sekaligus mewarisi nama keluarga ‘Philips’.” (hal. 382)

Siapa tahu nanti Soke Bahtera dari Hujan bisa bertemu si jenius Ali dari serial Bumi, hehe.

Sedikit Kekurangan

Sayangnya, dengan segala keunggulan itu, Pergi tetap tidak bisa lepas dari kekurangan. Di antaranya:

1. Typo

Hampir tidak ada buku yang ‘bersih’ seratus persen, sedikit kesalahan ketik dianggap wajar. Namun bagi novel yang sudah masuk cetakan keempat, harapan pembaca tentulah tinggi. Kesalahan ketik paling parah menurut saya terletak pada header berikut. Lokasinya terlalu menonjol untuk terlewat saat pengecekan.

2. Inkonsistensi penulisan

Contohnya, penulisan gelar panggilan orang Jepang pada kata “Hiro-san”. Terkadang diketik menggunakan huruf miring (Hiro-san), kadang diketik biasa saja (Hiro-san).

Secara subjektif, saya menilai ada perbedaan mendasar antara Pulang dan novel Pergi. Meski masih membahas shadow economy, novel Pergi lebih diwarnai nilai-nilai filosofis kehidupan. Adegan pertarungannya lebih sedikit dibandingkan novel Pulang. Terlebih, beberapa adegan tampak ganjal. Salah satunya pada bagian Interogasi Tingkat Tinggi. Cukup mengherankan Bujang bisa menebak isi kepala orang hanya melalui ludahan dan dengusan. Alangkah lebih masuk akal apabila Bujang, misalnya, membaca mikro ekspresi selayak interogasi-interogasi dalam serial TV Lie to Me atau The Mentalist.

Di luar itu semua, kelanjutan kisah Bujang masih layak dinantikan. Di samping itu, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Siapakah sebenarnya sosok Yurii Kharlistov? Rencana apa yang akan dibuat kakak tiri Bujang terhadap seluruh keluarga penguasa shadow economy? Ke mana Bujang sesungguhnya akan pergi setelah turun dari tahta Keluarga Tong? Bahkan, apakah Bujang akan menikah? Hehe. Ujung dari pengembaraan ini patut ditunggu!

“Cerita-cerita dongeng memang fiksi, tapi inspirasi yang ditimbulkan jelas nyata.” (hal. 128)

Judul: Pergi
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Tebal: iv+455 halaman; 13.5 x 20.5 cm
Cetakan: IV, Juni 2018
Nomor ISBN : 978-602-573-405-2

komet-komet-minor

Mencari Kekuatan Terbaik di Dunia Paralel

Posted on February 10, 2023February 2, 2023 by admin

Di antara tokoh Harry Potter lainnya, mungkin Luna Lovegood adalah salah satu favorit saya. Dalam film, ia pernah bercakap dengan Harry, “Well, if I were You-Know-Who, I’d want to you to feel cut off from everyone else. Because if it’s just you alone, you’re not as much of a threat.”

Persahabatan barangkali tema yang sudah basi. Tapi tidak bagi Tere Liye. Melalui imajinasinya yang liar, ia mampu mengangkat tema klise ini dalam dunia fantasi yang penuh petualangan seru. Bahkan menjadikan “persahabatan” sebagai kunci pembuka pintu keluar bagi masalah-masalah yang dihadapi para tokohnya.

Inilah kisah tentang persahabatan itu. Tentang Raib, Seli, dan Ali. Tentang perjuangan yang mendekati titik akhir dalam novel Ceros dan Batozar, Komet, serta Komet Minor.

GAMBARAN CERITA

Ceros dan Batozar

Novel satu ini merupakan spin-off dari Serial Bumi. Berada di urutan 4.5, antara Bintang dan Komet. Di dalamnya terdapat dua cerita, yakni ketika Raib dan kawan-kawan berhadapan dengan sepasang Ceros (Badak) serta saat mereka diculik oleh Batozar.

Sepasang Ceros tersebut tak lain ialah Ngglanggeran dan Ngglanggeram, penduduk Klan Aldebaran di dunia paralel. Mereka terkurung di bawah bangunan kuno Bor-O-Bdur. Bila malam tiba, keduanya akan berubah menjadi monster badak yang menghancurkan apa pun di sekelilingnya. Satu-satunya alat yang mampu mengontrol perubahan tersebut hanyalah Sarung Tangan Bumi milik Ali, atau lebih tepatnya kepunyaan mereka yang dicuri Si Tanpa Mahkota ribuan tahun lalu. Di akhir cerita, mereka memutuskan untuk tetap berada di perut bumi. Lantas mengembalikan sarung tangan itu ke Ali. Sebuah pengorbanan yang tulus.

Adapun Batozar Sang Pengintai adalah tahanan Klan Bulan yang kabur untuk menculik Raib. Sebagai seorang Putri Bulan, Raib sebenarnya memiliki kekuatan berbicara dengan alam hingga sanggup memutar kembali kenangan masa lalu. Batozar ingin sekali melihat wajah istri dan anaknya, yang ia hampir lupakan setelah 100 tahun lamanya. Sehabis kekuatan Raib tersebut berhasil dikeluarkan, Batozar kabur menggunakan teknologi portal cermin.

Si kembar Ngglanggeran dan Ngglanggeram serta Batozar akan muncul lagi dalam Komet Minor.

Komet

Berbeda dengan empat novel sebelumnya, novel kelima Serial Bumi ini tidak berlama-lama membuka cerita. Hanya dalam dua bab, Raib dan kawan-kawan segera diundang menuju Klan Matahari untuk menghadiri penutupan Festival Bunga Matahari di dunia paralel. Tepat ketika bunga matahari pertama sedikit lagi mekar. Si Tanpa Mahkota beserta pasukannya diperkirakan akan memanfaatkan kekuatan bunga tersebut untuk membuka portal menuju Klan Komet.

Pertempuran besar meletus di tengah-tengah stadion Kota Ilios. Namun, Si Tanpa Mahkota berhasil melompat ke dalam portal. Sebelum portal tertutup rapat, Raib dan kawan-kawan menyusulnya.

Raib, Seli, dan Ali terjebak di gugusan pulau bernama Komet. Bersama Max Si Nahkoda, mereka bertualang dari Pulau Hari Senin hingga Pulau Hari Minggu. Setibanya di pulau terakhir, mereka diuji oleh Paman Kay dan Bibi Nay. Raib dan kawan-kawan pun berhasil masuk ke dalam portal menuju Komet Minor. Sayangnya, Max berkhianat.

Komet Minor

Max alias Si Tanpa Mahkota menahan Raib dan kawan-kawan untuk masuk menuju Klan Komet Minor. Saat itulah, Batozar muncul dari portal cermin. Seorang sekutu dan teman perjalanan yang cukup tangguh menandingi Si Tanpa Mahkota.

Berkeliling di Komet Minor, mereka berempat mengejar waktu demi mengumpulkan kepingan tombak pusaka. Mulai dari bertemu Tuan Entre, Arci, Lady Oopraah alias Kulture, hingga Finale. Pengorbanan dan perjuangan yang lebih berat terasa kental dalam novel ini.

Sanggupkah mereka mencegah Si Tanpa Mahkota memperoleh tombak pusaka tersebut dan menjadi petarung terkuat di dunia paralel?

KEUNIKAN KARAKTER

Tokoh utama dalam ketiga novel ini masih berpusat pada Raib, Seli, Ali, dan Si Tanpa Mahkota. Terdapat beberapa tambahan, semisal Ngglanggeran, Ngglanggeram, serta Batozar dalam Ceros dan Batozar, yang lalu muncul kembali dalam Komet Minor. Dalam Komet, pembaca bisa bertemu dengan Paman Kay dan Bibi Nay. Adapun Tuan Entre, Arci, Lady Oopraah alias Kulture, dan Finale menjadi tokoh kunci di novel terakhir.

Jangan lupakan juga cameo ST4R dan SP4RK yang berasal dari konstelasi Proxima Centauri. Nanti akan ada bukunya tersendiri, loh.

Uniknya, saya jadi berpikir, pemilihan nama-nama tokoh dalam serial ini seperti bukan kebetulan. Contohnya Raib, sesuai namanya, ia bisa menghilang. Seli biasanya dipakai sebagai bentuk pendek dari Selena yang bermakna seseorang berkepribadian menarik, sesuai karakter dalam novelnya yang selalu tampak ceria bahkan sering melakukan hal yang tak terduga. Ali yang punya pukulan beruang barangkali terinspirasi dari sosok legenda tinju M. Ali, sedangkan kepandaiannya mungkin diambil dari sahabat Rasul Ali bin Abi Thalib yang dijuluki gerbang ilmu pengetahuan.

Nama Entre bisa jadi dipilih karena pembuka bagi pencarian benda pusaka di Komet Minor. Arci menggambarkan kemampuan memanahnya, Kulture melukiskan profesinya sebagai budayawan dan ahli sejarah, serta Finale merupakan akhir dari pencarian benda pusaka sekaligus akhir dari perlawanan Si Tanpa Mahkota.

Sebagaimana biasanya, Tere Liye juga menghadirkan tokoh-tokoh bijak dalam novelnya. Bila sebelumnya kita berkenalan dengan Av atau Faar, kali ini ada Paman Kay dan Bibi Nay.

“…Aku juga bisa menghentikan banyak kerusakan di dunia sekarang juga, tapi membiarkan kalian belajar, tumbuh dengan hati yang jernih, akan membawa lebih banyak kebaikan bagi dunia paralel.” (Komet, hal. 365)

KEKUATAN RISET

“Karya fiksi yang kuat adalah yang didukung dengan riset mendalam,” ujar Bernard Batubara. Kekuatan riset sulit dihilangkan dalam banyak novel Tere Liye, sebut saja Tentang Kamu, Pulang, Pergi, dan masih banyak lagi. Melalui riset yang mendalam, pembaca benar-benar yakin bahwa Tere Liye sungguh mengetahui apa yang ia tulis, meskipun menggunakan jasa co-author.

Dalam dunia paralel Serial Bumi pun demikian. Salah satunya mengenai pemilihan nama yang sudah dibahas di atas. Selain itu, tampak juga dalam pemilihan kata-kata yang terlihat sepele. Contohnya, kata binjak yang berarti “kembar” menurut Klan Aldebaran. Aslinya, kata tersebut memang ada. Bahasa Albania yang berarti “kembar” pula.

“Kembar? Oh, maksud kalian binjak? Iya, kami memang kembar. Binjak.” Ngglanggeran tersenyum. (Ceros dan Batozar, hal. 67)

Gugusan bintang sebagai penunjuk arah, fenomena fisika, dan sejumlah fakta biologi tentu hasil lain dari riset yang kuat.

“Inilah pohon coco de mer. Spesies langka dari tumbuhan kelapa, tumbuh di Kepulauan Seychelles, Laut India. Tinggi pohonnya bisa mencapai 25-34 meter, dengan buah raksasa seberat 15-30 kilogram. Inilah buah dengan biji terbesar di seluruh bumi.” (Komet, hal. 15)

“…Kalian tahu burung albatros di dunia kita? Nah, burung itu bahkan terbang sambil tidur. Silakan cari tahu sendiri jika kalian tidak percaya…” (Komet Minor, hal. 48)

ULASAN ALUR

Seluruh novel dunia paralel Serial Bumi memiliki plot yang terus merangsek maju, tanpa menyediakan tempat sedikit pun pada kilas balik. Sudut pandangnya masih ada di tangan Raib. Walaupun memakai sudut pandang orang pertama, Raib sering tampak tahu segala hal. Di antaranya tinggi orang, lebar kapal, maupun jam berapa sekarang. Tetapi karena Tere Liye menampilkannya secara konsisten, kita bisa anggap itu sebagai gaya menulis beliau.

Di tiga novel ini juga unsur gimmick berupa komedi serta sedikit romance antara Raib dan Ali yang membuat cerita terasa lebih renyah.

Yang menarik, bagi saya, setiap novel seolah menonjolkan sisi-sisi lain dari Raib, Seli, maupun Ali.

Dalam cerita Ceros, karakter Ali ditampilkan cukup dominan. Terutama ketika ia meikhlaskan sarung tangannya bahkan rela menggantikan si kembar untuk terkurung di bawah Bor-O-Bdur.

Dalam cerita Batozar, Raib secara sabar meladeni Batozar hingga mengerahkan seluruh tenaga untuk mengeluarkan kekuatan tersembunyi yang dimilikinya.

Dalam cerita Komet, giliran Seli datang. Karakter yang tahan banting dan setia menemani kedua temannya. Ia sampai tidak makan demi menyuplai tenaga bagi Raib dan Ali saat mereka terjebak di tengah lautan menuju Pulau Hari Minggu.

Sementara itu, persahabatan mereka semakin diuji kala berada di Klan Komet Minor. Terlebih, ketika Seli hampir mati. Di situlah pengorbanan dan perjuangan menemukan titik klimaksnya.

Di samping itu semua, ada sebagian Plot Hole yang bikin saya sedikit kesal alias gregetan.

Pertama, ketika Ali naik ke atas panggung Lady Oopraah untuk berbicara mengenai keluarga sembari mengangkat kisah seorang anak yang lahir di tengah lautan, kemudian hidup bersama para pembantu dengan ilusi kedua orang tuanya bekerja di luar negeri. Apakah itu benar-benar kisah hidup Ali atau ia hanya mengada-ada? Saat Seli menanyakannya pun, Ali tidak ingin menjawabnya sambil memasang wajah ketus. Duh, penasaran, nih!

Belum lagi pengakuan Si Tanpa Mahkota bahwa Ali adalah keturunannya. Boleh nih kalau ada novel spin-off khusus buat Ali.

Kedua, orang tua kandung Raib yang belum terjawab hingga akhir novel. Saya kira teka-teki itu akan terkuak, tapi ternyata dibahas di novel selanjutnya, Nebula. Hfft, harus sabar nunggu lagi, deh!

ENDING KURANG NENDANG

Bagian ini yang membuat saya sedikit kurang puas. Saya membayangkan sebuah perang akbar terjadi di akhir novel. Ketika Si Tanpa Mahkota, Tamus, Fala-tara-tana IV beserta pasukannya melawan Raib dan kawan-kawan ditambah koalisi armada tempur tiga klan. Layaknya serangan besar-besaran yang dilancarkan sekutu Voldemort saat menyerang Hogwarts.

Sayangnya, ekspektasi saya tidak terwujud. Pertempuran semacam itu justru hanya terjadi sekilas, yaitu tatkala Si Tanpa Mahkota hendak membuka portal menuju Klan Komet.

Formasi Makhluk Cahaya juga ternyata tidak cukup kuat untuk menandingi Si Tanpa Mahkota. Saya kira, inilah jurus pamungkasnya. Terakhir, Si Tanpa Mahkota malah kalah karena kebodohannya. Memang sih, semua itu karena jasa kejeniusan Ali. Tapi, kekuatan persahabatan yang sering dikatakan sebagai kekuatan terhebat di dunia paralel, seolah menemukan titik anti-klimaks.

PERSAHABATAN DAN HARAPAN

Selain quote Luna Lovegood di awal tulisan ini, Dumbledore juga pernah berkata dalam Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, “It takes a great deal of bravery to stand up to your enemies. But a great deal more to stand up to your friends.”

Genre fantasi dengan nilai-nilai persahabatan hampir selalu laku di pasaran, meski tampak klise. Lihat saja serial Harry Potter, Hobbit, The Lord of The Ring, Maze Runner, atau Hunger Games. Film pun demikian. Tidak terkecuali komik atau anime Jepang semacam Naruto dan One Piece.

Di serial inilah, termasuk tiga novel yang tengah dibahas, nilai-nilai persahabatan tersebut bermekaran di dunia paralel. Bak jamur di musim hujan. Saya juga suka bagaimana Tere Liye memilih tidak “mengakhiri hidup” Si Tanpa Mahkota. Ia kalah, justru oleh pemaafan dari Raib. Ibarat Talk no Jutsu Naruto yang hampir selalu berhasil menyelesaikan masalah-masalah besar, tanpa harus menghabisi musuhnya.

Bukankah banyak konflik di dunia ini yang sebenarnya bisa selesai karena komunikasi?

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya yakin para pembaca pasti ingin serial ini diangkat ke layar lebar. Harapannya Hollywood bisa ambil alih. Kalau diambil produser dalam negeri, khawatir kejadian dalam film Hafalan Shalat Delisa terulang. Tahu kan ya, bagaimana kualitas CGI dalam film tersebut?

Tidak perlu sebagus Harry Potter atau The Lord of The Ring, minimal efek-efek yang tersaji tidak merusak mata, hehe.

Dan…tolong dong seseorang membuat fan art Raib, Seli, dan Ali. Penasaran deh melihat wajah dan tubuh mereka kalau digambar akan bagaimana jadinya. Ada yang minat?

“…Ketahuilah, bukan teknik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan. Selalu berusaha menjadi orang yang baik dan berani.” (Ceros dan Batozar, hal. 124)

Judul: Ceros dan Batozar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 376 halaman
Cetakan: I, Mei 2018
Nomor ISBN: 978-602-038-5914

Judul: Komet
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 384 halaman
Cetakan: I, Mei 2018
Nomor ISBN: 978-602-038-5938

Judul: Komet Minor
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 376 halaman
Cetakan: II, Maret 2019
Nomor ISBN: 978-602-062-3399

si-anak-badai

Resensi Si Anak Badai: Persahabatan, Perjuangan, dan Kemenangan

Posted on February 8, 2023February 2, 2023 by admin

Mendung Sebelum Badai

Ada kejadian menarik saat aksi unjuk rasa mahasiswa mengenai Revisi UU KPK beberapa waktu lalu. Yakni hadirnya peserta demo dari kalangan siswa SMA/SMK. Tak pernah kita mendengar anak-anak ini turun ke jalan. Sontak, media dan masyarakat dibuat terheran-heran. Ada yang mengapresiasi, dan tidak sedikit pula yang meremehkan, “Anak sekolah ngerti apa?”

Terlepas dari kontroversi tersebut, sudah sepatutnya kita menyadari bahwa mungkin ada lubang dalam pendidikan negeri ini. Pendidikan kita terlambat membuat mereka dewasa. Seakan menganggap mereka sulit diajak berpikir kritis. Padahal usia remaja, khususnya yang sudah baligh, bukan lagi masa-masa hanya memikirkan diri sendiri. Nurani mereka dapat dipupuk untuk peduli dan ambil bagian dalam memperbaiki negeri.

Buktinya, 2001 silam, lebih dari lima ratus pelajar yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) DKI Jakarta melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia. Aksi bertajuk Pelajar Cinta Damai itu menuntut elit politik agar segera menghentikan pertikaian, meningkatkan SDM guru, menurunkan biaya pendidikan, serta mengembalikan perhatian pemerintah kepada masalah pelajar.

Pendidikan bukan hanya berbicara tentang sekolah. Salah satunya, seberapa besar dan mudah masyarakat mengakses buku bacaan. Di sinilah, menurut saya, terdapat missing link genre buku berdasarkan usia.

Buku anak berserakan di mana-mana. Buku-buku untuk kalangan dewasa, minimal untuk kategori mahasiswa, berlimpah ruah. Namun, buku yang fokus menyasar remaja? Minim sekali jumlahnya. Kalaupun ada, masih didominasi tema percintaan, baik yang berunsur komedi atau berakhir sedih.

Hadirnya Serial Anak Nusantara, terutama Si Anak Badai, barangkali bisa sedikit menambal missing link itu. Melalui novel yang menggugah jiwa ini, kita diajak untuk semakin dekat dengan budaya negeri sekaligus menyadari apa yang sesungguhnya sanggup dilakukan oleh para remaja. Semuanya terangkum dalam tiga kata: persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

***

Badai

Si Anak Badai mengambil latar belakang di Kampung Manowa. Sebuah tempat yang dilukiskan sebagai perkampungan para nelayan. Lengkap dengan rumah-rumah yang berdiri tegak di atas sungai serta jalan-jalan kecil yang terbuat dari papan kayu ulin.

Di dunia nyata, sulit menebak lokasi persis kampung tersebut. Mungkin memang fiksi. Tapi kita tahu, kehidupan nelayan sudah melekat pada sebagian besar penduduk negeri ini. Terlebih, atmosfer Nusantara semakin kental melalui penamaan tokoh seperti Ode dan Ros, penggambaran pasar terapung, dan penggunaan panggilan “Oi!” khas tanah Sumatra.

Oi, Indonesia pun punya pasar terapung ternama. Contohnya yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pasar tersebut dahulu dibangun oleh pedagang-pedagang Melayu. Di Palembang juga ada. Tepatnya di atas Sungai Musi. Berbelanja sembari menikmati kecantikan Jembatan Ampera.

Latar waktunya mungkin sekitar awal 2000-an, sekitar tahun 2002-2003 ketika KPK baru pertama kali dibentuk. Selain ditandai dengan berdirinya lembaga tersebut, pembaca juga dapat menilai dari adegan ibu-ibu penabuh rebana yang menyanyikan lagu khas Nasida Ria. Zaenal pun sempat menyebut tokoh kartun bajak laut yang punya kemampuan memelarkan tubuhnya bak karet. Tokoh yang dimaksud bisa jadi Luffy dari serial kartun One Piece, yang masih boleh tayang di layar kaca pada awal millenium lalu.

   Nenek moyangku seorang pelaut

   Gemar mengarung luas samudra

   Menerjang ombak tiada takut

   Menempuh badai sudah biasa

Tidak ada awal dalam novel ini.

Pembaca segera dihadapkan pada keramaian kampung nelayan melalui tokoh utama Zaenal (sudut pandang orang pertama). Bersama Malim, Ode, dan sejumlah anak lain, mereka berebut mengambil koin yang dilemparkan para penumpang kapal ke atas sungai. Seru, meski tampak berbahaya. Persis sebagaimana aktivitas anak-anak pengumpul koin di Pelabuhan Merak atau Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Cerita terus berpusat pada Zaenal, Malim, Ode, dan Awang. Kelak bocah-bocah yang baru berusia 12 tahun ini disebut Geng Si Anak Badai karena petualangan besar yang berhasil dilewati.

Sepanjang sepertiga buku, hari-hari tampak cerah. Ada kelucuan di tengah omelan Pak Kapten. Terdapat pelajaran kehidupan saat keempatnya berinteraksi dengan Guru Rudi. Hadirnya sedikit tangisan tatkala mengingat kasih sayang Mamak. Muncul pula nuansa keakraban dan semangat gotong-royong dalam beberapa kejadian.

Namun semua perlahan berubah ketika Pak Alex dan Utusan Gubernur datang.

Keduanya merupakan inisiator pembangunan pelabuhan di Kampung Manowa. Sayangnya, rencana pembangunan tersebut hanya diputuskan sepihak tanpa melibatkan warga setempat. Penduduk kampung tentu menolak. Apalagi, tidak ada kejelasan mengenai ganti-rugi dan nasib mereka ke depan.

Apakah pembangunan pelabuhan itu akan terus berlanjut? Bagaimana takdir akan berakhir bagi kehidupan Zaenal, Malim, Ode, Awang, serta penduduk lainnya?

   “Kehidupan terus berlanjut tanpa melihat kita sedang sedih atau gembira.” (Hal. 225)

***

Cahaya Setelah Badai

Selama lebih dari 50 tahun, Weekly Shonen Jump sebagai majalah komik terlaris di Jepang berhasil menginspirasi ribuan hingga jutaan anak muda di sana. Bukan hanya mengasyikkan, sebagian besar komik yang diterbitkan selalu hadir dengan tiga elemen penting: persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

Sebut saja serial Captain Tsubasa, yang akhirnya sukses mendorong remaja-remaja pria di negeri sakura untuk menjangkau mimpinya sebagai pesepak bola kelas dunia. Contoh lainnya serial Naruto, yang bersama teman-teman satu angkatannya berjuang menyelamatkan dunia ninja (shinobi).

Nilai-nilai tersebut tergambar pula dalam novel Si Anak Badai.

Mereka mungkin tidak sampai pergi menyelamatkan dunia. Tetapi Zaenal, Malim, Ode, maupun Awang mengajarkan kita bahwa ratusan kemenangan kecil bisa diraih bersama sahabat-sahabat terbaik, melalui sedikit pengorbanan dan usaha keras.

Kita sering terbuai untuk buru-buru mengubah semesta. Tanpa disadari, banyak langkah kecil yang sebenarnya bisa diwujudkan. Di sekeliling kita. Di lingkungan kita sendiri.

Awang, si pandai berenang, rela telanjang bulat lalu menyelam di bawah sekolah demi mengambil bolpoin kesayangan adik kelasnya. Zaenal tidak mau pulang sebelum selesai memperbaiki kesalahan ukur baju, sebagai bentuk tanggung jawab. Malim yang dipaksa kembali bersekolah oleh ketiga temannya. Hingga petualangan mereka di tengah badai sungguhan dan ketika berupaya menghentikan pembangunan pelabuhan.

Apa pun bisa dicapai, asal ada sahabat terbaik di situ.

Ingat! Mereka semua masih usia belasan tahun. Di umur segitu, saya masih ketagihan main kelereng. Ya begitulah, pendidikan kita terlambat mendewasakan. Alhasil, hari ini sulit rasanya menemukan sosok mirip Usamah bin Zaid yang pada usia 19 tahun telah menjadi panglima perang, membawahi veteran sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Hampir mustahil sepertinya menjumpai anak muda bak Muhammad Al-Fatih yang pada usia 24 tahun berhasil menaklukan benteng Konstantinopel, ibukota dunia pada saat itu.

Pernah menemukan anak kelas 6 SD yang berani menghentikan sebuah proyek besar? Atas nama keadilan. Demi kampungnya tercinta! Demi tanah leluhurnya tersayang!

Kritik Sosial dalam Si Anak Badai

Di sini Tere Liye juga menyajikan secuplik kenyataan pahit. Betapa masih banyak terjadi pembangunan terselubung yang bersembunyi di bawah ketiak modernisasi. Tidak mengindahkan kearifan lokal, dananya pun masuk kantung sendiri. Warga di desa-desa bisa apa? Suara mereka tidak akan didengar. Para pengadil disumpal cuan berjuta-juta.

Kritik sosial semacam ini mengingatkan saya pada buku The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared karangan Jonas Jonasson. Jurnalis asal Swedia itu membawakan kritik pada kegilaan dunia melalui novel komedi yang inspiratif. Konflik yang tersaji tidak sampai membuat kita mengernyitkan dahi. Pembaca hanya akan tenggelam bersama aliran cerita.

Dalam Si Anak Badai sendiri, hanya 9 dari 25 bab yang benar-benar terhubung dengan konflik pembangunan pelabuhan. Sisanya, mempertontonkan kehidupan kampung yang berjalan lambat, akrab, dan saling menolong. Sesuatu yang semakin pudar, khususnya di tengah masyarakat perkotaan. Cenderung egosentris dan kehilangan adab. Sampai-sampai kita mendengar kabar seorang ibu membunuh anaknya sendiri karena depresi oleh ocehan mertua dan tetangga.

Persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

Kita rindu pada remaja-remaja yang peduli pada lingkungannya. Kita rindu pada manusia yang tidak hanya berpikir mengenai dirinya sendiri. Namun sejatinya, kita juga rindu pada diri kita. Pada diri yang terlukis dalam sosok Si Anak Badai.

Judul: Si Anak Badai
Penulis: Tere Liye
Co-author: Saripuddin
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Tebal: 322 halaman
Cetakan: I, Agustus 2019
Nomor ISBN: 978-602-573-4939

sang-pangeran-dan-janissary-terakhir

Resensi Buku Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Posted on February 6, 2023February 2, 2023 by admin

Sejarah adalah milik para pemenang. Adagium itu terlintas dalam lamunan ketika saya tengah mengikuti kelas Sekolah Pemikiran Islam beberapa tahun silam. Tepatnya saat pembicara berpesan, “Hari ini kita kekurangan ahli sejarah. Bayangkan, penelitian mendalam mengenai Pangeran Diponegoro justru dilakukan oleh Prof. Peter Carey, sejarawan yang bukan asli orang Indonesia.”

Tidak banyak yang saya ingat mengenai Sang Pangeran, kecuali kekaguman atas gelarnya yang terdengar islami. Itu pun saya lupa lengkapnya. Sisanya, sayup-sayup terlukis nama Kyai Mojo dan makam leluhur yang terimbas pembangunan jalan sehingga meletuskan Perang Diponegoro.

Barulah belakangan saya tahu, teori yang diajarkan sejak SD itu memang diambil dari arsip-arsip Belanda. Benar, kan? Sejarah memang milik para pemenang.

Lalu, apa yang sebenarnya melatarbelakangi perang pada 1825-1830 itu?

Syukurlah, referensi peradaban tanah air tidak putus sepenuhnya melalui kelahiran novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir. Inilah novel pertama yang ditulis oleh Salim A. Fillah. Walaupun, sebagian dari kita mungkin sudah terbiasa mereguk hikmah dalam buku-buku beliau lainnya, yang banyak menuturkan kisah menakjubkan.

Tentang Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir ditulis menggunakan plot maju-mundur dengan sudut pandang orang ketiga. Sesuai judulnya, novel ini tidak hanya menyoroti Pangeran Diponegoro, terutama menjelang berakhirnya masa perang. Melainkan juga petualangan Nurkandam Pasha dan kawan-kawan yang berusaha membantu atas nama pasukan elit Turki Utsmaniyah, Janissary.

Dari situ kita bisa menebak bahwa Perang Diponegoro bukan perang lokal biasa. Demi mengalahkan pasukan multinasional, tidak cukup bermodalkan semangat kesukuan saja.

Sebagai fiksi sejarah, novel setebal 632 halaman ini menyajikan banyak fakta menarik. Mulai dari latar belakang terjadinya perang, alasan mengapa Janissary harus turun tangan, perseteruan Daendels dan Van den Bosch yang bekerja di bawah dua kekaisaran berbeda, hingga kronologi pengasingan Pangeran Diponegoro.

Riset mendalam, sebagai puzzle yang hilang di banyak novel Indonesia, tersusun apik di dalam novel. Kaya diksi, tanpa harus berputar-putar dan sok menyastra. Pembaca juga bisa lebih mengenal aneka makanan khas dari berbagai negara. Namun, terkadang saya masih bingung dengan beberapa gambaran mengenai deskripsi lokasi maupun bangunan. Ya, mungkin karena baru mendengarnya.

Sisi menarik lainnya, berulang kali kata “Maktub” tertuang di tengah dialog. Ini mengingatkan saya pada masterpiece Paulo Coelho, Sang Alkemis. Keduanya sama-sama mengajak kita menginsyafi diri bahwa segala sesuatunya telah tertulis. Termasuk pecahnya Perang Diponegoro, yang ternyata menggelindingkan bola salju kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagaimanapun, bagi sebagian orang, sebuah novel masih belum kuat dijadikan sebagai referensi sejarah. Tapi kita berdoa dan berharap, dari yang belum sempurna ini mampu mendorong lebih banyak orang untuk mengupas lebih jauh warisan sejarah bangsanya sendiri.

Judul: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Terbit: 2019
ISBN: 978-623-7490-06-7

memory-of-glass-novel

Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh

Posted on February 4, 2023February 2, 2023 by admin

Polisi bilang, aku melaporkan diriku sendiri.
Kata mereka, aku membunuh seorang pria.
Hanya saja… aku tidak ingat.
Aku tidak ingat pernah melapor, apalagi membunuh orang.
Sebenarnya, apa yang terjadi?

Setelah menamatkan Giselle, saya tidak terlalu mengikuti kabar mengenai novel terbaru Akiyoshi Rikako. Buka Instagram Penerbit Haru pun sekadar scrolling. Sampai seorang teman bertanya, “Sudah ikutan pre order Memory of Glass?”

Hah?

Tidak lama kemudian saya mengulik infonya, tapi masih menahan diri untuk membeli. Maklum, harganya lumayan *peace sign. Buah kesabaran memang tidak pernah mengecewakan. Akhirnya beruntung mendapatkan diskonan di Islamic Book Fair 2020, sekaligus belanja novel Murder at Shijinso yang pada tahun 2019 sudah difilmkan.

Apa yang menarik dari Memory of Glass?

***

Ingatan bak Kaca

Seperti biasa, kesan kelam menyelimuti novel-novel karangan cerpenis Yuki no Hana ini. Terlebih, penerbit mendesain sampul berwarna dominasi hitam, lengkap dengan gambar seorang wanita yang memegang pisau di antara pecahan kaca. Atmosfer honkaku mystery yang berisi teka-teki pembunuhan pun semakin membuat bulu kuduk merinding.

Lembar cerita dibuka melalui penuturan Kashihara Mayuko yang tiba-tiba mendapati dirinya berada di rumah sakit. Tetapi ia tidak ingat apa pun. Wanita berusia 41 tahun itu bahkan masih merasa sebagai seorang siswi SMA.

Di tengah kebingungan itu, Kiritani Yuka dan Nomura Junji berdiri di hadapannya. Dua detektif tersebut menjelaskan semua yang terjadi secara perlahan. Termasuk mengenai Mayuko yang melaporkan dirinya telah membunuh seseorang dan penyakit Gangguan Fungsi Eksekutif Otak yang membatasi ingatannya.

Korban bernama Gouda. Pria yang membunuh kedua orang tua Mayuko sekitar dua puluh tahun silam secara sporadis di pinggir jalan Ginza. Mayuko berusaha lari. Malangnya, ia tertabrak mobil yang dikendarai Mitsuharu, yang kini menjadi suaminya. Karena luka di bagian otaknya, ingatan Mayuko ibarat kaca: rapuh, mudah pecah, bahkan hanya bertahan selama 10-20 menit.

Penyelidikan berjalan alot. Padahal tersangka sudah di depan mata, tetapi bukti tidak mencukupi dan nihil saksi mata. Bantuan dari Mitsuharu pun tampaknya kurang memberikan titik terang,

Saat itulah muncul sosok Yonemori Hisae. Kepada kedua detektif di atas, ia menerangkan berbagai kejanggalan selama penyelidikan. Kasih sayangnya yang ingin menyelamatkan Mayuko turut melahirkan kecurigaan pada Mitsuharu. Ia juga tidak segan menyewa Ogio Masamichi, pengacara muda yang namanya cukup dikenal di dunia penggiat HAM.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Mayuko yang mudah lupa itu benar-benar bisa membunuh seseorang? Atau jangan-jangan, ada pihak ketiga? Siapa yang harusnya Mayuko… eh, yang harus pembaca percayai?

***

Dua Sudut Pandang

Alur cerita kali ini berjalan dalam tempo yang agak lambat. Akiyoshi Rikako secara jeli menyusun berbagai kepingan puzzle yang menghadirkan detail-detail kecil kepada pembaca. Berkat penerjemahan yang apik, detail tersebut tidak terasa membosankan. Pembaca lagi-lagi dibuat penasaran, menerka-nerka, sekaligus menata akhir cerita di benaknya sendiri.

Tempo yang lambat ini juga disebabkan karena penulis memakai dua sudut pandang berbeda. Pada satu bab, cerita berpusat di Mayuko dengan sudut pandang orang pertama. Kita bisa ikut merasakan betapa polosnya penderita gangguan otak yang hampir setiap saat harus segera menulis apa yang terjadi di secarik kertas atau tangannya sendiri. Penuh kesedihan, penuh penderitaan.

Lalu pada bab lain, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yang menyoroti kehidupan Kiritani Yuka. Di sela pekerjaan, ia juga harus merawat ibunya yang menderita gangguan otak serupa. Lebih tepatnya demensia tipe Alzheimer.

Plot twist yang tersaji mungkin tidak terlalu mengejutkan. Apalagi kalau sudah membaca Holy Mother. Ekspektasi kita barangkali berlebihan. Meski begitu, ending cerita justru menghangatkan hati hingga meleleh.

Pembaca disentak dengan kenyataan betapa sulitnya merawat orang-orang dengan penyakit seperti Mayuko. Bahkan apabila orang tersebut adalah keluarga kita sendiri, terlebih orang tua. Perilaku mereka seperti anak bayi. Tapi bayi pun punya “masa depan” dan kita hanya harus bersabar beberapa tahun lagi sampai mereka dewasa. Tetapi orang yang sudah tua? Mereka tidak akan tumbuh lagi. Di tengah keputusasaan itu, kita pun harus siap menelan pil pahit kehilangan.

Terima kasih, Sensei. Benar-benar novel yang luar biasa!

“Tidak melakukan apa yang tidak bisa dilakukan itu, tidak buruk dan tidak salah. Tidak ada artinya memaki diri sendiri atau tertekan oleh rasa bersalah.” (h. 345)

Judul: Memory of Glass
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 360 halaman
Cetakan: I, November 2019
Nomor ISBN: 978-623-7351-21-4

girls-in-the-dark

Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Posted on February 2, 2023February 2, 2023 by admin

Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Awal kali saya berjumpa dengan novel ini sekitar tahun 2017 silam. Tepatnya ketika cuci mata di Gramedia Matraman. Dan pertemuan tersebut begitu menggoda. Mulai dari tampilan sampul, ukuran buku yang pas di genggaman tangan, hingga narasi sinopsisnya.

Sayang, dompet saat itu mirip peci: tipis! Tahu sendiri, kan, kalau di Gramedia itu nggak ada diskon. #eh

Syukur ada kesempatan di International Indonesia Book Fair (IIBF) tahun ini. Waktunya hunting buku diskonan berbekal uang hadiah lomba Resensi Pergi Tere Liye (#sombong).

Seperti biasa, booth Penerbit Haru terbilang unik. Di booth yang juga menjual sejumlah aksesoris itu, gelombang kalap sudah tidak bisa dibendung. Tiga buku segera dibungkus mbak-mbak kasir: Girls in the Dark, The Dead Returns, dan Holy Mother dari penulis yang sama.

Beberapa minggu setelahnya, tangan seolah tak sabar membuka Girls in the Dark. Zalim sih sebenarnya. Banyak buku yang dibeli berbulan-bulan lalu, belum dibaca sampai sekarang. Sedangkan ini ada anak kemarin sore datang ke rumah, langsung bertahta di atas singgasana.

Untung mereka nggak bikin demo.

***

Kematian Menggemparkan

Cerita bermula dari kegemparan di SMA Katolik Putri Santa Maria atas kematian Shiraishi Itsumi. Anak pengelola sekolah tersebut bersimbah darah sambil memegang setangkai bunga lily, terlentang di bagian teras seolah jatuh dari lantai atas.

Apakah gadis cantik itu dibunuh? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu.

Seminggu kemudian, enam gadis dari Klub Sastra yang dulu diketuai oleh Itsumi mengadakan pertemuan. Sumikawa Sayuri, selaku wakil ketua, memimpin kegiatan yami-nabe di salon sastra mereka yang berkelas.

Seluruh peserta akan memasukkan bahan-bahan aneh yang mereka bawa ke dalam panci dan semua orang harus memakannya di tengah kegelapan. Bahannya bisa berupa benda yang bisa dimakan maupun tidak, asal tetap higienis. Selama kegiatan berlangsung, masing-masing peserta wajib menulis cerita pendek sekaligus membacakan naskahnya.

Inilah gairah sesungguhnya yami-nabe. Terlebih, Sayuri telah menetapkan tema khusus. “Iya. Tema kali ini adalah kematian Ketua Klub sebelumnya, Shiraishi Itsumi.” (hal. 15)

Siapa sangka, cerita pendek yang mereka buat ternyata berisi analisis siapa yang menjadi pembunuh Itsumi.

Naskah

Naskah pertama: Tempat Berada oleh Nitani Mirei. Murid kelas 1-A itu mengisahkan kehidupannya yang di bawah kecukupan, orang tua yang bercerai, serta kebanggaannya setelah memperoleh beasiswa. Ia juga mendeskripsikan ketakjubkannya pada kebaikan dan keanggunan Itsumi hingga undangan untuk bergabung dengan Klub Sastra, kelompok elit yang tidak semua orang dapat memasukinya.

Di akhir cerita, Mirei melempar tuduhan pada Koga Sonoko sebagai pembunuh Itsumi. Bunga lily mengandung pesan, “Yang membunuhku adalah perempuan dengan harum bunga lily.”

Naskah kedua: Macaronage oleh Kominami Akane. Akane merupakan anak pemilik sebuah restoran Jepang ternama. Ayahnya sendiri yang menjadi koki. Hatinya merasa sakit setelah tahu restoran akan diwariskan kepada kakaknya. Demi terus memupuk semangat, ia pun mulai menekuni masakan Barat.

Dapur salon sastra menjadi dunia kecilnya. Ibarat istana yang dilengkapi bahan masakan kelas satu serta peralatan masak terlengkap dan terbaik di dunia. Walau tersirat, murid kelas 2-B itu menganggap Mirei bertanggung jawab atas kematian Ketua Klub mereka.

Naskah ketiga: Balkan di Musim Semi oleh Diana Detcheva. Seorang gadis yang berasal dari sebuah desa kecil di Bulgaria. Ia dan kakaknya, Ema, menjadi pemandu Itsumi untuk mengelilingi desa sekaligus mengunjungi sejumlah objek wisata bersejarah dalam program semester pendek.

Diana kemudian terpilih sebagai peserta murid internasional karena Ema tiba-tiba mengalami kecelakaan. Sepanjang kehidupannya di sekolah, Diana menemukan fakta bahwa tangan Takaoka Shiyo telah berlumur darah Itsumi.

Naskah keempat: Perjamuan Lamia oleh Koga Sonoko. Anak jurusan IPA, sekelas dengan Itsumi, serta sama-sama bermimpi menjadi dokter. Selain sebagai anggota Klub Sastra, tahun ini ia juga menjabat sebagai ketua perayaan Paskah dan Pantekosta. Super sibuk.

Tetapi berbagai kegiatan tersebut justru mengantarkannya membuat kesimpulan bahwa pembunuh sebenarnya ialah Diana.

“…Darah? Lamia. Tukang sihir. Setan pengisap darah. Hamba iblis…” (hal. 186)

Naskah kelima: Pengibirian Raja Langit oleh Takaoka Shiyo. Bisa dibilang, murid kelas 2-C ini adalah anggota pertama yang direkrut Itsumi. Namanya tersohor sejak merilis novel remaja ringan, Kimi-kage Sou.

Baginya, Itsumi bak kakak idaman. Sebab itu, dirinya menyesal setelah menyaksikan Akane mendorong Itsumi di teras.

Cerita pendek siapa yang dapat dipercaya?

***

Penuh Twist

Secara garis besar, cerpen yang disusun setiap anggota mempunyai pola yang sama. Mendeskripsikan kehidupan mereka, luapan emosi kegembiraan karena bergabung dengan Klub Sastra, kekaguman pada kesempurnaan Itsumi, sampai menyusun teori pembunuhan.

Di sinilah letak kejeniusan Akiyoshi Rikako yang membuat pembaca menerka-nerka hingga akhir bab. Terutama ketika pembacaan naskah keenam oleh Sumikawa Sayuri berjudul Bisikan dari Kubur, cerpen yang ditulis oleh Itsumi sendiri. Loh?

“Ah, sial. Ternyata…”

Saya tidak tahu banyak tentang sastra Jepang, tapi ada ketertarikan untuk membacanya. Novel ini adalah yang kedua, setelah sebelumnya saya menghabiskan Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga). Di lain waktu, mungkin saya ingin menyicipi karya-karya Haruki Murakami. Katanya sih fantasinya di luar nalar.

Sebagai penggemar serial Sherlock Holmes dan detektif-detektif Agatha Christie, Girls in the Dark berhasil menyajikan twist sempurna. Alur yang sulit ditebak, lengkap dengan petunjuk-petunjuk yang membingungkan.

Pembaca pun dibuat terhenyak karena ternyata setiap anggota Klub Sastra memiliki rahasia kelam. Topeng yang menutupi kebusukan hati. Misterinya berjalan lugas, tanpa bumbu thriller atau horor khas negeri sakura. Memang ada beberapa bagian yang salah ketik serta terlalu banyak penggunaan kata ganti “aku”. Sedikit mengganggu, tapi jadi tidak terasa karena gaya bahasa penerjemahannya yang kaya diksi dan membuat cerita mengalir dalam tempo cepat. Perpindahan sudut pandang pada setiap cerpen dibangun sedemikian rupa sehingga pembaca merasakan perbedaan karakter yang cukup dalam.

Novel ini tepat bagi dua orang. Pertama, para pecinta teka-teki. Kedua, mereka yang ingin belajar menguatkan karakter pada tokoh novel atau cerpen.

“Siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang memegang tongkat kekuasaan, siapa yang memilik wibawa… gadis-gadis itu mengendusnya, memilah-milahnya. Dan kalau ada kesempatan, mereka mengincar untuk merebutnya. Begitulah yang saya lihat tentang siswi SMA di Jepang.” (hal. 129)

“Pegang rahasianya, rebut tempatnya berada, dan sudutkan. Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam jiwanya. Tidak ada kepuasan yang melebihi kepuasan itu.” (hal. 227)

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 289 halaman
Cetakan: XII, Januari 2018
Nomor ISBN: 978-6027742-31-4

Antara Feminis dan Para Sahabiyah

Posted on January 31, 2023January 11, 2023 by admin

Suatu hari, rekam Abu Nu’aim al-Asbahani dalam kitab Ma’rifat al-Shahabah, Asma binti Yazid al-Anshariyah menghadapi Nabi yang tengah berada di antara shahabatnya, lalu berkata,

“Demi Allah Yang jadikan ayahku dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh Muslimah. Tiada satu pun di antara mereka saat ini, kecuali berpikiran yang sama dengan aku. Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu.

Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggu rumah kalian para suami, dan yang mengandung anak-anak kalian.

Sementara kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjama’ah, shalat Jum’at, menengok orang sakit, mengantar jenazah, bisa haji berulang-ulang, dan jihad di jalan Allah.

Pada saat kalian haji, umrah, atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menjahit baju kalian, dan mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua kebaikan itu?”

Rasul lantas menoleh kepada para shahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian pernah dengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya, lebih baik dari Asma?”

“Tidak, wahai Rasul.”

Beliau lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma dan beri tahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi, pahalanya SETARA dengan apa yang kalian tuntut.”

Asma lalu pergi keluar majelis tersebut seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan.

Beda Bentuk Aspirasi

Aspirasi Asma’ tersebut rasanya perlu direnungi baik-baik. Terutama ketika paham kesetaraan gender hari ini sangat dipaksakan oleh sejumlah kalangan, di antaranya para feminis.

Ketika kaum feminisme itu menyuarakan suaranya menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, ternyata para shahabiyah telah memulai terlebih dahulu sejak masa Rasulullah Saw.

Hanya saja, tidak ada satu pun shahabiyah yang akhirnya menggeser konsep gender dari segi biologis menjadi ke sisi sosial. Mereka tetap menerima konsep Islam dengan ikhlas dan penuh ketaatan.

Selain itu, menurut Fahmi Salim, ada perbedaan antara aspirasi Asma’ dengan gugatan para pendukung feminisme.

“Aspirasi Asma’ berbeda secara substansial dengan aspirasi kaum pegiat feminisme dan kesetaraan gender saat ini.

Asma tidak menuntut kesetaraan nominal; bahwa perempuan dan laki-laki harus sama-sama aktif di ruang publik untuk memajukan pembangunan.

Perempuan yang aktif mendidik anak-anaknya di rumah dengan sungguh-sungguh sering direndahkan dan tidak dianggap telah berkontribusi dalam pembangunan.

Yang dituntut oleh Asma’ adalah kesetaraan substansial, bukan kesetaraan nominal. Peran bisa berbeda, tetapi peluang untuk meraih pahala dari Allah adalah sama besarnya.”[1]

Asma’ menuntut pada hal yang lebih substansial. Yakni balasan apa yang akan para Muslimah terima atas setiap peran yang mereka tuntaskan. Bagaimana status mereka di hadapan Allah kala hari hisab kelak.

Jika para lelaki bisa memperoleh pahala yang besar atas jihad dan amal mereka yang lain, tidakkah para Muslimah pun bisa mendapatkan yang serupa?

Peran yang telah diatur oleh Islam bukan pokok gugatan Asma’. Beliau dan para shahabiyah telah menerimanya dan jelas tidak akan mencoba merombaknya.

Tidak ada shahabiyah yang tiba-tiba merasa ingin menggantikan Bilal mengumandangkan azan.

Tidak ada dari mereka yang berpikir menggantikan Rasulullah menjadi imam shalat dan khatib Jum’at.

Tidak ada satu pun yang merasa dirinya hina dan direndahkan jika bermakmum di belakang laki-laki.

Gugatan Aneh Feminis

Bandingkan dengan para pegiat feminisme yang ingin mengangkat kesetaraan wanita, tetapi hanya menyentuh sisi kulitnya.

Di antara pembedaan antara laki-laki dan perempuan yang kerap digugat, yaitu:[2]

  1. Hak waris anak laki-laki dan anak perempuan dengan perbandingan 2:1,
  2. Persaksian 2 perempuan setara dengan 1 orang laki-laki dalam hal muamalah,
  3. Pembayaran diyat pembunuhan korban perempuan adalah setengah dari diyat pembunuhan korban laki-laki,
  4. Hak talak hanya dimiliki oleh suami,
  5. Laki-laki boleh berpoligami,
  6. Istri wajib menunggu masa iddah ketika cerai, sedangkan lelaki tidak,
  7. Perempuan tidak bisa menjadi wali pernikahan,
  8. Perempuan haram jadi imam shalat dan khatib Jum’at,
  9. Shaf perempuan berada di belakang shaf laki-laki,
  10. Laki-laki wajib mencari nafkah, sedangkan wanita hanya dibolehkan.

Hal ini tidak mengherankan karena feminis memang lahir dari kemarahan. Ujungnya justru balik merendahkan laki-laki. Bahkan agama pun menjadi objek gugatannya.

Buktinya, nafsu amarah lesbianisme ikut diimpor dan dijual bagai keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan.

Bangunan konseptualnya berwajah liberal, radikal, Marxis, dan terkadang postmo.[3]

Berbeda dengan para shahabiyah. Mereka bahkan tidak segan menyambut panggilan jihad.

Ada Khadijah yang rela menginfakkan seluruh hartanya bagi dakwah Rasul. Ada Aisyah dengan keluasan ilmunya dan hafalan hadits yang luar biasa.

Ada Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi pengatur logistik ketika Rasulullah dan Abu Bakar hijrah. Ada Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah yang aktif berjihad mendampingi suami-suami mereka.

Maukah para feminis itu bertindak sebagaimana para shahabiyah?

Bukan hak atau nominal saja yang dituntut. Namun, berbagai kewajiban pun ditunaikan. Bahkan tidak segan mempertaruhkan nyawa bagi agamanya. Allahu a’lam. []


[1] Fahmi Salim, Tafsir Sesat, (Jakarta: Gema Insani Press, 2013), hal. 126.

[2] Ibid, hal. 128.

[3] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat, (Jakarta: INSISTS-MIUMI 2012), hal. 240.

“Ayat Pluralisme”: Emang Ada?

Posted on January 16, 2023January 11, 2023 by admin

Meski belum ada definisi pasti mengenai Pluralisme Agama, namun penganut paham ini terus saja bertambah. Termasuk dari para cendekiawan Muslim sendiri.

Pluralisme Agama yang memandang semua agama sama dan tidak boleh ada yang mendeklarasikan truth claim, tentu bertentangan dengan ajaran Islam.

Jika semua agama itu sama, maka tidak akan ada cerita Rasulullah mengirim surat dan delegasi ke Romawi, Persia, Ethiopia, dan daerah lain. Mengajak raja dan seluruh rakyatnya agar masuk Islam.

Aslim, taslam. “Masuk Islamlah, maka engkau akan selamat.”

Namun, para cendekiawan Muslim itu justru berlindung di balik ayat-ayat Al-Qur’an.

Salah satu ayat yang kerap mereka pakai sebagai justifikasi ialah surat Al-Baqarah ayat 62 yang mengisyaratkan bahwa pluralisme sebetulnya sejalan dengan nilai-nilai Islam.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Qs. Al-Baqarah: 62)

Dengan begitu, siapa pun—baik muslim, Yahudi, atau Nasrani sekali pun—asalkan beriman kepada Allah dan hari akhir, kemudian beramal shalih, maka mereka pasti akan menerima pahala dari Tuhannya.

Anehnya, para cendekiawan ini sering mengabaikan Al-Qur’an, bahkan menyebutnya sudah tidak relevan dengan zaman modern. Tetapi ketika ada ayat yang seakan mendukung doktrin mereka, mereka tidak segan-segan menyatutnya.

Benarkah makna ayat tersebut sesederhana itu?

Pemaknaan Tafsir

“Aku pernah bertanya kepada Nabi Saw. tentang pemeluk agama yang dahulunya aku salah seorang dari mereka,” tutur Salman Al-Farisi r.a.

“Maka aku menceritakan kepada beliau tentang cara shalat dan ibadah mereka. Lalu turunlah firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian,” hingga akhir ayat.”[1]

Riwayat di atas merupakan asbabun nuzul surat Al-Baqarah ayat 62 yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Demikian juga oleh Imam Ath-Thabari di dalam kitab Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, Imam As-Suyuthi, dan oleh ‘ulama tafsir lainnya.

“Sebelum ayat 62 Al-Baqarah, ayat-ayat sebelumnya telah banyak mengecam dan mengancam orang-orang Yahudi yang durhaka dalam konteks nikmat-nikmat Tuhan yang diberikan kepada mereka (lihat ayat 41 hingga 61).

Tentu saja ancaman ini menimbulkan rasa takut. Melalui ayat ini Allah memberi jalan keluar sekaligus ketenangan kepada mereka yang bermaksud memperbaiki diri.”[2]

Memahami tafsir Al-Qur’an tidaklah bisa sekadar membaca terjemahan saja.

Sebab menjadi mufassir dan menafsirkan Al-Qur’an membutuhkan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya ialah dengan memahami asbabun nuzul ayat tersebut.

Jika kita tidak memiliki kemampuan sebagai seorang mufassir, maka berbesar hatilah. Merujuk kepada ulama-ulama mu’tabar dan tafsir-tafsir yang telah diakui dalam dunia Islam.

Dengan begitu, orang-orang Yahudi dan Nasrani yang dimaksud dalam ayat tersebut dinisbahkan kepada sahabat-sahabat Salman Al-Farisi sebelum Islam datang.

Setelah Islam datang, maka semua bentuk peribadahan, agama, dan pemikiran-pemikiran lain dihapuskan dan harus mengikuti syariah Islam. Begitu pula kaum Shabiin yang menyembah bintang-bintang.

Perintah beriman kepada Allah dan Hari Akhir, menurut Ibnu Taimiyah, merupakan konsekuensi-konsekuensi lainnya yang berarti masuk Islam.[3]

Penyebutan kedua rukun tersebut sudah mencakup semua rukun iman. Banyak perkataan Rasulullah yang hanya menyebut dua rukun tersebut, tapi bukan berarti makna iman hanya sebatas dua rukun itu saja.

Kalaupun para cendekiawan Muslim terus memaksa menggunakan ayat ini, ketahuilah sesungguhnya hukum dalam ayat ini telah dihapus (nasakh) oleh surat Ali Imran ayat 85,

“Siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” Pendapat ini merujuk kepada Ibnu Abbas dan diperkuat oleh Al-Qasimi, Wahbah Zuhaili, dan mufassir-mufassir lainnya.[4]

Bukan Ayat Pluralisme

Jadi kesimpulannya, menurut Dr. Syamsuddin Arif dalam Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, para ulama tafsir baik kalangan salaf maupun khalaf sepakat bahwa:

(1) ayat 62 surat Al-Baqarah tersebut berkenaan dengan para sahabat Salman Al-Farisi yang belum sempat masuk Islam,
(2) orang-orang yang munafik dari kalangan Muslim, Yahudi, maupun Nasrani adalah kuffar tak beriman,
(3) keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan akhirat hanya dapat diraih melalui iman sejati dan amal shaih sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.

Allahu a’lam. []


[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Juz 1, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hal. 545.

[2] Fahmi Salim, Tafsir Sesat, (Jakarta: Gema Insani Press, 2013), hal. 170.

[3] Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, (Jakarta: INSISTS-MIUMI, 2012), hal. 160.

[4] Ibid, hal. 159.

  • Previous
  • 1
  • 2
  • 3
  • Next

Recent Posts

  • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
  • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
  • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
  • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
  • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Recent Comments

  1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
  2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
  3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Archives

  • August 2025
  • July 2025
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023

Categories

  • Books
  • Lifestyle
  • Thoughts
© 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme