HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu

Month: August 2023

resensi-novel-ayat-ayat-cinta-2

Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Posted on August 31, 2023August 29, 2023 by admin

Alur Ayat-Ayat Cinta 2

Seusai menikah dengan Aisha, Fahri kini tinggal di daerah Edinburgh, Skotlandia. Atau lebih tepatnya di kawasan Stoneyhill Grove, Musselburgh.

Di kompleks berbentuk letter L ini, Fahri bertetangga dengan orang-orang yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda. Ada Nenek Catarina, seorang Yahudi tulen yang rajin pergi ke sinagog. Terdapat pula Brenda, wanita kantoran yang sering pulang larut malam dan suka minum minuman keras. Kemudian ada juga Nyonya Janet yang hidup bersama kedua anaknya, Keira dan Jason. Kedua kakak-beradik tersebut sangat membenci Fahri sebagai seorang Muslim. Keira beberapa kali menaruh tulisan di kaca mobil Fahri seperti “MUSLIM=TERORIST! GO HELL!”. Sedangkan Jason selalu mengucapkan kata-kata kasar setiap kali berpapasan dengan Fahri. “Fuck you!” umpatnya.

Fahri sendiri tinggal bersama Paman Hulusi. Seorang pemabuk yang diselamatkannya dari sekumpulan preman. Dan kini ia menjadi supir pribadi Fahri.

Kesehariannya diisi dengan menjadi dosen Ph.D di The University of Edinburgh. Selain itu, Fahri juga mengelola dua bisnis besar. Yakni resto dan minimarket Agnina serta AFO Boutique yang ia dirikan bersama Aisha dan Ozan (sepupu Aisha).

Tapi kehidupan indah tersebut ternyata masih menyisakan tangis bagi Fahri. Karena hingga kini, Aisha tak berada di sisinya. Ia hilang di Palestina bersama seorang temannya bernama Alicia. Meski Alicia telah ditemukan tewas terbunuh oleh Zionis Israel, namun itu tidak menyurutkan Fahri untuk tetap mencari dan menanti Aisha. Dorongan untuk menikah lagi datang dari segala sisi. Tetapi tidak pernah ia pedulikan.

Tawaran Sulit

Tawaran pertama datang dari Ozan. Ia menawari Fahri agar meminang Hulya, adik Ozan. “Dia tidak hafal Al-Qur’an tapi bagus bacaan Al-Qur’annya. Dia baru lulus B.A dari METU.” (hlm. 62)

Sedangkan tawaran kedua datang dari Syaikh Utsman, guru talaqqi dan qiraah sab’ah Fahri ketika di Mesir. Syaikh meminta Fahri agar menikahi cucu perempuannya bernama Yasmin. Akhlaknya terjaga, hafal Al-Qur’an sejak usia 11 tahun, dan sedang menempuh Ph.D hukum islam di Durham University.

Perlahan, suasana di rumah Fahri bertambah ramai. Sejak ia memutuskan menanggung seluruh beasiswa Misbah di Heriot-Watt University. Teman satu rumahnya di Kairo dulu itu, kini tinggal selangkah lagi meraih gelar Ph.D Ekonomi Islam.

Fahri juga beberapa kali diundang makan dan mendapat kunjungan dari keluarga Tuan Taher. Dosen di Queen Margaret University ini tinggal bersama istri dan seorang putrinya yang bernama Heba.

Penghuni rumah Fahri pun bertambah satu lagi. Foto Sabina, seorang muslimah dengan wajah rusak, tiba-tiba muncul di The Edinburgh Morning dengan tulisan di dada: I’m homeless! Help me! Bagi Fahri ini adalah panggilan dakwah. Sementara legalisasi Sabina diurus, mau tak mau ia menetap di bagian basement rumah Fahri.

Masalah Fahri tak berhenti di situ. Ia ditantang oleh Baruch, anak tiri Nenek Catarina, berbebat mengenai konsep amalek. Fahri juga menerima tawaran debat akbar di The Oxford Union dari Profesor Charlotte. Yakni sebuah forum debat tertua dan paling bergengsi di dunia. Lawan debatnya kali ini tidak main-main. Ada Profesor Mona Bravmann, pakar kajian timur dekat dari Chicago, dan Prof. Alex Horten, pakar sosiologi agama dari King’s College London.

Apakah Fahri berhasil mengatasi masalah-masalah tersebut? Termasuk apakah akhirnya ia memilih menikah lagi atau tetap mempertahankan hatinya pada Aisha? Siapakah yang akan Fahri pilih, Hulya atau Yasmin?

Banyak pertanyaan-pertanyaan besar yang sayang dilewatkan jawabannya dalam buku setebal 690 halaman ini.

***

Analisis Umum Ayat-Ayat Cinta 2

Apa jawaban Anda jika ditanya, “Kenapa orang Muslim suka bom bunuh diri?”

Mungkin sebagian dari kita langsung mengernyitkan dahi. Lalu bertanya dalam hati, “Mengapa orang tersebut bisa berpikir demikian?” Sebab, redaksi kalimatnya jelas menghakimi.

Begitu pula yang dirasakan Fahri Abdullah. Kala ia menggantikan Profesor Charlotte Brewster mengajar kelas Filologi di The University of Edinburgh. Pertanyaan polos dari seorang mahasiswi asal Cina bernama Ju Se tersebut, seolah menggambarkan bahwa ia benar-benar tidak mengenal Islam. Atau ia justru memperoleh penjelasan mengenai Islam dari sumber-sumber yang tidak tepat.

Pertanyaan semacam itu—yang muncul di awal bab—pun seakan menggambarkan topik besar yang ada di dalam novel ini. Dan benar saja. Topik islamopobia cukup besar mewarnai isi novel. Apalagi Fahri tinggal di negara dengan jumlah muslim yang minoritas.

Indahnya Islam

Beberapa kali Kang Abik menunjukkan bahwa begitulah Islam. Ia datang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Melalui tindakan-tindakan Fahri, penulis ingin memperlihatkan bahwa kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan pula. Dan dakwah tidak boleh dengan paksaan. Tetapi harus melalui hikmah, nasihat yang baik, dan argumentasi ilmiah kalaupun harus berdebat.

Misalnya, ketika Fahri memindahkan Brenda yang tak sadarkan diri di tengah jalan akibat mabuk, ke depan rumahnya. Atau mengantar Nenek Catarina ke Sinagog. Bahkan rela merawat beliau dan membeli rumahnya yang sempat ingin dijual oleh Baruch. Fahri juga menanggapi Keira dan Jason dengan santai. Keduanya bahkan dibantu oleh Fahri, meskipun Keira tidak mengeahuinya. Jason diberi beasiswa hingga menjadi seorang pesepakbola profesional. Dan Keira dilatih biola oleh Madam Varenka—orang bayaran Fahri—hingga memenangi kontes dunia.

Paman Hulusi pun sampai bingung mengapa Fahri bisa rela hanya tidur beberapa jam. Di tengah ibadah dan murajaah hafalannya, ia tidak berhenti menunaikan amanahnya di The University of Edinburgh.

“Cara melawan itu semua adalah dengan menunjukkan bahwa kita, umat Islam ini berkualitas. Bahkan harus lebih berkualitas dan lebih profesional dibanding orang-orang asli penduduk sini. Sudah menjadi naluri bahwa penduduk asli mendapatkan prioritas. Itu yang harus kita sadari. Maka kita harus menunjukkan nilai lebih yang tidak dimiliki penduduk asli.” (hlm. 25)

Fahri juga menambahkan, “Saya tidak muluk-muluk. Cukuplah bahwa saya bisa menyampaikan akhlak Islam dan kualitas saya sebagai orang Islam kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya, jika saya bisa, itu saya sudah bahagia.” (hlm. 26)

Konsep Amalek

Topik besar lainnya yang mengisi novel ini ialah mengenai konsep amalek milik kaum Yahudi. Melalui konsep inilah, Israel melegalisasi penjajahannya di atas tanah Palestina. Bagi mereka, anak-anak keturunan Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Di antara manusia lalu muncul bangsa-bangsa yang tidak menyukai prinsip ini dan berusaha melenyapkan bangsa Yahudi. Mereka inilah yang disebut dengan kaum amalek. Orang-orang amalek ini wajib ditumpas oleh kaum Yahudi karena dianggap mengancam eksistensi mereka. Termasuk amalek ialah semua orang Arab, orang muslim, dan orang Palestina.

Konsep inilah yang coba dibantah oleh Kang Abik melalui debat antara Fahri dan Baruch. Fahri berhasil menjelaskannya dengan argumen ilmiah dan cukup telak.

Meski materinya cukup padat, namun tema cinta tetap tidak ketinggalan. Sebagaimana penuturan penulisnya sendiri ketika bedah buku Api Tauhid di AQL sekitar tahun lalu. Semua buku beliau memang sengaja dibumbui tema cinta. Ada Ketika Cinta Bertasbih, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta, dan lain-lain. Ini semata agar novel terasa lebih ringan dan lebih dekat dengan pembaca. Siapa yang tidak suka dengan tema cinta?

Perbedaan 2 Ayat-Ayat Cinta

Secara umum, ada beberapa perbedaan antara Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2.

Pertama, jelas bahwa latar temat yang dipilih berbeda. Kalau dahulu bertempat di Mesir, kini lokasinya berpindah ke Skotlandia.

Kedua, jika dahulu tema besar yang diangkat adalah mengenai pernikahan Islam, kini tema besarnya berkutat pada isu-isu di dunia Islam.

Ketiga, sudut pandang pada Ayat-Ayat Cinta 1 memakai sudut pandang pertama. Sedangkan kali ini point of view yang digunakan adalah sudut pandang ketiga yang terpusat di Fahri. Sehingga kita bisa lebih mengeksplorasi isi kepala atau tindakan tokoh lain tanpa Fahri mengetahuinya. Seperti, ketika Sabina menangis di kamarnya atau mimik wajah para penonton ketika menyaksikan debat antara Fahri dan Baruch.

***

Kelebihan dan Kekurangan Ayat-Ayat Cinta 2

Sebagai karya manusia biasa, tentu sebuah novel pun tidak lepas dari cela. Meski begitu, kelebihannya kadang mampu menutupi cela tersebut. Sebagaimana novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini.

Kelebihan Ayat-Ayat Cinta 2

1. Berani

    Menghadirkan tema amalek dan berusaha membantahnya bisa dibilang berani untuk sebuah novel. Jika novel ini akan difilmkan juga, saya jadi bertanya apakah tema ini tetap akan diangkat atau tidak. Saya berpikir tema ini bisa jadi sangat kontroversial di dunia internasional. Tapi justru memang itulah poin lebih Ayat-Ayat Cinta 2. Sebagaimana endorsment Melly Goeslaw, “Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah karya sastra racikan Kang Abik yang mengejutkan. Lebih berani dan dinamis. Tapi tetap sarat makna dan pesan.”

    2. Kesan Islam Sebagai Rahmat Bagi Semesta Alam

    Tokoh Fahri begitu apik menjadi role model bagaimana seharusnya menjadi Muslim yang paripurna, meski di negeri mayoritas non-muslim. Kaya, berwawasan, memiliki bisnis, dermawan, dan pandai menghadirkan akhlak Islam yang begitu agung. Kita seolah menemukan makna Islam rahmatan lil alamin dalam novel ini. Setiap Muslim sepertinya “wajib” merenungi lembar per lembarnya.

    3. Pemaparan Latar yang Detail

    Deskripsi Kang Abik mengenai Skotlandia beserta jalan-jalannya terasa begitu nyata. Beliau seolah pernah berkunjung ke sana dan meriset lokasi serta budaya masyarakat setempat. Bagi para penulis pemula, tentu hal ini dapat dijadikan pelajaran. Sebab latar bukan hanya tentang semburat senja atau rinai hujan, tetapi juga mengenai detail lokasi. Ketika sebuah novel dapat memadukan riset dan sastra, tentu itu akan menjadi poin yang sangat baik.

    Kekurangan Ayat-Ayat Cinta 2

    1. Fahri yang Terlalu Sempurna

    Hampir sama dengan novel sebelumnya, sosok Fahri di sini seperti sosok yang utopis. Sangat jarang kita menemukan sosok yang begitu bersahaja. Cerdas, kaya, dermawan, berprestasi, dan digilai banyak wanita. Sepertinya hal inilah yang tidak disukai oleh beberapa pembaca.

    Tapi saya sedikit memiliki pandangan lain. Saya khawatir, justru umat Islam hari ini memang sedang dilanda penyakit inferior (rendah diri) yang akut. Sehingga ketika melihat sosok Fahri, kita menganggap bahwa sosok tersebut tidak riil. Padahal kalau kita ingin menengok sejarah, sosok Rasulullah Saw. dan para shahabat adalah orang-orang yang bahkan melebihi Fahri. Ada Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang kaya namun sangat dermawan. Rasulullah pun menjadi role model bagaimana bersikap terhadap non-muslim. Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Masihkah kita menganggap semua itu tidak riil?

    Kalau saja kita mau mengamati sedikit lagi, Fahri pun sebenarnya tidak sesempurna yang kita bayangkan. Ia sangat lemah terhadap fitnah wanita. Contohnya jelas pada Ayat-Ayat Cinta 1. Dan di novel ini pun ketika ia tidak ingin melepaskan hatinya dari Aisha merupakan bukti bahwa wanita adalah cobaan terberat bagi Fahri.

    2. Klimaks yang Tidak Klimaks

    Pada Ayat-Ayat Cinta 1, kita bisa menganalisa bahwa klimaks ceritanya adalah ketika Fahri tersebas dari tuduhan pemerkosaan. Namun di novel ini, bisakah kita menetapkan mana klimaksnya? Apakah ketika Fahri berdebat di The Oxford Union? Agak susah menyimpulkannya. Karena setelah itu pun kita masih menunggu jawaban di mana sosok Aisha kini berada. Kalau ditemukannya Aisha itu adalah klimaks, tetapi debat di Oxford itu dan Keira yang akhirnya mengetahui siapa pemberi beasiswanya juga bisa dibilang klimaks.

    Inilah hal yang hilang di Ayat-Ayat Cinta 2. Kang Abik memang tidak menggunakan teknik khusus agar pembaca mau terus membuka bab per bab. Tapi dengan banyaknya pertanyaan tersebut, sudah cukup membuat kita terus membaca novel ini dan berusaha mencari jawabannya. Alurnya begitu meliuk-liuk.

    3. Plot Twist yang Bisa Ditebak

    Tentu para pembaca menanti-nanti, di manakah Aisha kini? Tetapi entah kenapa Kang Abik beberapa kali memberikan kode. Seperti lekuk tubuh dan timbre suara Sabina yang mirip Aisha. Tangisan Sabina di beberapa scene. Jari Sabina yang tiba-tiba terbakar ketika hendak diperiksa sidik jarinya. Dan beberapa kode lainnya. Benar-benar membuat pembaca menebak, apakah Sabina itu sebetulnya adalah Aisha? Premis inilah yang membuat akhir cerita sedikit bisa ditebak.

    4. Terlalu Padat

    Ayat-Ayat Cinta 2 bisa dikatakan lebih tebal dua kali lipat dari novel sebelumnya. Kang Abik banyak sekali memasukkan materi keislaman di dalam novel, sehingga isinya tampak padat sekali.

    Misal, dialog antara Fahri dan Misbah mengenai hukum menjual minuman keras di negara mayoritas non-muslim. Atau lintasan pikiran Fahri ketika mengetahui bahwa Profesor Charlotte tidak masuk Islam karena kelakukan Muslim sendiri yang tidak mencerminkan akhlak Islam. Di sini lintasan pikiran Fahri panjang sekali.

    5. Kesalahan Tulis

    Kali ini koreksi bagi editor dan penerbit. Sayang sekali novel sebagus ini masih harus ada keasalahan ketik. Seperti penulisan kalau menjadi kau, Fahri menjadi Fahmi, dan beberapa typo lainnya.

    Akhirnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel ini tetap layak dikonsumsi bagi setiap Muslim. Sangat bergizi dan membangun jiwa. Mendorong setiap Muslim agar menjadi Muslim yang paripurna. Meneladani kehidupan Rasulullah dan para shahabat. Lalu mempraktikannya dalam kehidupan masyarakat. Sehingga tidak ada lagi sekat antara keagungan Islam dengan keindahan akhlak seorang Muslim.

    Judul: Ayat-Ayat Cinta 2

    Penulis: Habiburrahman El Shirazy

    Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta

    Tebal: vi+698 halaman; 13.5 x 20.5 cm

    Cetakan: VII, Desember 2015

    Nomor ISBN: 978-602-0822-15-0

    resensi-buku-jalan-cinta-para-pejuang

    Resensi Buku Jalan Cinta Para Pejuang

    Posted on August 29, 2023August 29, 2023 by admin

    Satu kata cinta Bilal:

    “Ahad!”

    Dua kata cinta Sang Nabi:

    “Selimuti aku..!”

    Tiga kata cinta Ummu Sulaim:

    “Islammu, itulah maharku!”

    Empat kata cinta Abu Bakar:

    “Ya Rasulallah, saya percaya..!”

    Lima kata cinta ‘Umar:

    “Ya Rasulallah, izinkan kupenggal lehernya!”

    Selamat datang di jalan cinta para pejuang.

    Apa yang berlarian di pikiran Anda ketika terletup kata ‘cinta’? Apakah kegilaan Qais pada Layla yang mengakhirkan kenestapaan? Atau roman klasik Romeo-Juliet yang jua ditutup dengan tragedi mengiris hati? Keduanya tampak indah dan romantis. Membekas di relung benak setiap pendengar kisahnya. Tetapi bukan ‘cinta’ jenis ini yang hendak kita diperjuangkan.

    Seperti serangkaian kata penulisnya di bagian pembukaan, cinta sebagai bentuk emosi yang lain semisal takut, benci, dan harap harus diikat dengan sesuatu yang lebih agung dalam hidup. Kedudukan cinta bukanlah sebagai tujuan. Ia sepatutnya menjadi bekal bagi kita untuk memenuhi tugas sebagai hamba Allah dalam beribadah dan mengelola karunia-Nya.

    Salim A. Fillah pun melanjutkan, “Lalu tugas besar kita pun dimulai: ubah cinta, ubah jiwa, ubah dunia.”

    Tapak Pertama Jalan Cinta Para Pejuang

    Tidak heran, tapak pertama kita menyusuri buku ini ialah dengan menelusuri jejak pemahaman-pemahaman cinta yang cenderung melemahkan jiwa. Betajuk “Dari Dulu Beginilah Cinta”, pada bagian permulaan ini segala teori tentang cinta yang justru menyengsarakan coba dipatahkan satu per satu. Bimbingan wahyu menjadi pemandu kita mereguk makna cinta yang selayaknya menguatkan.

    Sebagaimana tulis Anis Matta yang dikutip di buku ini pada halaman 34, “Seperti ini, kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak—atau tak beroleh kesempatan—untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan.”

    Itulah sebagian ketidaktepatan memadukan antara kebahagiaan dan cinta. Pemahaman mengenai cinta yang keliru kerap membuat umur cinta tidak tahan lama. Di jalan cinta para pejuang, kita hendak membina kesetiaan dan pengorbanan. Mengesahkan komitmen sebagai tapak pertama kita.

    Tajuk Kedua Jalan Cinta Para Pejuang

    Tajuk bagian kedua, “Dunia kita hari ini”, lalu ingin mengajak kita menyeksamai dunia yang akan menjadi bingkai jalan cinta. Kita memahaminya agar mampu menaklukannya. Sebab dunia ini telah berubah. Tidak ada jalan lain, selain kita harus berbenah. ‘Pejuang’ lain dengan segala ismenya, pemikir-pemikir liberal, kaum ubersexual, dan musuh-musuh dalam selimut sedia mengintai kelemahan kita. Menanti kelalaian kita.

    Barangkali Anda bingung, apa hubungan cinta dengan dunia kita hari ini? Mengapa mereka yang biasanya berada di ranah pemikiran islam, kini hadir di bawah payung bertema ‘cinta’?

    Memang beginilah cinta semestinya. Ia membangkitkan tekad, menguatkan iman, mengokohkan gairah. Sekali lagi, ia bukan tujuan. Ia merupakan bekal kita sebagaimana emosi-emosi kita lainnya. Dan kita, insya Allah, lebih memahaminya ketika memasuki bagian ketiga. Yakni tatkala kita menapaki empat jejak jalan cinta.

    Jejak-Jejak

    Pertama, membangun visi. Agar cinta menjadi gagah. Tidak mudah lelah apalagi menyerah. Kita harus bangkit dari lelap panjang ini. Kita punya tugas yang harus segera ditunaikan di dunia nyata. Para pemimpi yang berpikiran besar biasanya tidak mudah berpaling atau rentan menoleh. Ia memiliki hijab yang tebal nan kuat. Hijab agar ia tidak mudah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.

    Penulis sempat menyuguhkan sebuah penilitian yang digelar BBC mengenai Brainsex. Penelitian ini insya Allah dapat membuat Anda lebih mudah memahami mengapa kita tidak layak berurusan dengan hal-hal kecil. Visi yang terang benderang membuat cinta bertahan lebih lama dan lebih terarah. Sebab sebagaimana penulis mengingatkan pada halaman 157, “Takdir adalah misteri, tugas kita adalah mencitakan dan merencanakan.”

    Selepas merajut cita-cita, apa jejak keduanya? Ialah mengasah gairah. Semua orang mungkin mampu merenda mimpi, tapi kemampuan ini kerap kalah dari kemampuan kita untuk menunda. Padahal cinta adalah kata kerja. Mereka yang siap mencintai, berarti mereka siap memberi dan berkorban. Mereka siap bertanggung jawab. Bahkan cemburu pun menjadi letupan gairah. Membuat visi yang jauh, terasa berada di depan kelopak.

    Namun kadang, keduanya tetap tak cukup membeningkan keadaan. Seluruhnya masih tampak buram dan kelam. Maka jejak ketiga ialah melihat seluruhnya dengan nurani yang bersih.

    Nurani yang menyelamatkan. Jernih dari sangka buruk pada Allah. Tidak terlalu menghitam akibat dosa dan maksiat. Dengan nurani, cinta mengejawantah dalam kerja-kerja besar dakwah dan jihad. Menerangi visi dan membatasi gairah yang kerap meletup tak berbatas. Nurani menjadikan kita bersyukur tak sekadar berpuas.

    “Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah puas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas, janganlah puas sekadar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.” (hlm. 282)

    Jika ketiganya telah ditunaikan, cukupkah? Belum, selama kita tidak mendisiplinkan diri. Inilah jejak keempat. Tidak ada yang memegang kemudi kita, kecuali diri kita sendiri.

    Ulasan Buku

    Bagi yang sering menyelami riuhnya tulisan-tulisan Salim A. Fillah, mungkin hampir tidak dapat menemukan perbedaan gaya tulisannya pada buku ini dengan buku-buku beliau yang lain. Seakan inilah khas beliau yang tidak dimiliki penulis lain. Meski mungkin bagi sebagian orang cenderung membosankan, namun nyatanya banyak pembacanya kini perlahan menuruni gaya tulisan beliau.

    Diksi yang dipilihnya kerap bersastra. Kalimatnya dibuat lebih soft sehingga tidak muncul kesan menghakimi. Penjabaran materi tidak melulu dalil yang menjadikannya kaku. Berpuluh kisah berhikmah menemani pembaca menyeksamai kalimat demi kalimat. Tak kalah menarik, di buku ini teramat banyak penulis menampilkan penelitian tertentu dan teori-teori psikologi. Menambah bobot kualitas pemaparan beliau mengenai cinta dan seni membangunnya.

    Meski begitu, sangat disayangkan masih ada beberapa kata yang salah ketik. Seperti menulis tafsir dengan ‘tofsir’, Injil dengan ‘Injili’, arsy dengan ‘arsa’. Selain itu, beberapa kisah mungkin pernah pembaca dengar pada buku beliau yang lain. Cerita-cerita ini menjadi berulang ditulis. Bagi sebagian pembaca, hal ini barangkali mengganggu dan sedikit membosankan.

    Judul: Jalan Cinta Para Pejuang

    Penulis: Salim A. Fillah

    Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta

    Tebal: 344 halaman; 14 x 20 cm

    Cetakan: 9, Juli 2013

    Nomor ISBN: 979-1273-08-1

    Recent Posts

    • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
    • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
    • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
    • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
    • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

    Recent Comments

    1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
    2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
    3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

    Archives

    • August 2025
    • July 2025
    • October 2023
    • September 2023
    • August 2023
    • March 2023
    • February 2023
    • January 2023

    Categories

    • Books
    • Lifestyle
    • Thoughts
    © 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme