HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu

Category: Review

ngekost d'paragon dan djurkam

Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam

Posted on July 20, 2025July 20, 2025 by admin

Kalau kamu mahasiswa atau pekerja rantau, ngekost pasti jadi pilihan utama.

Tapi yang namanya cari kost itu… ya, sering jadi drama.

Lokasi kejauhan, fasilitas seadanya, belum lagi harganya yang bikin pusing.

Saya sendiri dulu sering banget pindah kost. Bukan karena mau, tapi memang karena nggak nemu yang pas. Resensi buku ini, misalnya, juga saya tulis sewaktu masih ngekost.

Kalau aja dulu saya kenal D’Paragon, kost eksklusif yang nyaman banget. Sesuai sama jargonnya: “Stay with style”.

Yang lebih menarik lagi, mereka juga punya Djurkam alias Djuragan Kamar. Semacam plaform properti yang bisa bantu siapa aja, termasuk Gen Z kayak kamu, dapat cuan dari kamar kost.

Serius, ini bukan gimmick!

Kenapa D’Paragon Bukan Sekadar Kost-an?

Jika kamu pikir kamar kost itu asal murah dengan kondisi ala kadarnya, D’Paragon hadir dengan standar baru, loh.

Harga tetap ramah di kantong Gen Z sekalipun, tetapi fasilitas dan kenyamanan serasa nginap di hotel!

Apa sih yang bikin D’Paragon beda dengan kost pada umumnya?

  1. Standar hotel, harga kost. Nyari kost minimalis modern? Di sini tempatnya.
  2. Lokasinya strategis tersebar di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Solo, dan Jakarta.
  3. Fasilitasnya lengkap, mulai dari AC, Wi-Fi ngebut, kamar fully furnished, CCTV, parkir, laundry, dan pastinya dapur bersama.
  4. Suasana eksklusif dan terstandardisasi di semua cabangnya.

Kamu bisa cari kost murah dan terdekat langsung via website-nya. Nggak perlu repot survei satu per satu atau tertipu iklan abal-abal.

Djurkam: Cara Gen Z Cuan dari Bisnis Kost

Kalau D’Paragon menawarkan kenyamanan, maka Djurkam menawarkan kesempatan buat para Gen Z mendulang cuan jadi juragan kamar.

Sederhananya, Djurkam ini adalah sebuah platform digital yang memungkinkan siapa pun—termasuk kamu—jadi pemilik atau mitra properti kost.

Cocok banget buat:

  1. Mahasiswa yang masih punya jatah kamar kosong.
  2. Anak kantor yang mulai melek investasi dan nyari sumber pendapatan lain.
  3. Juragan properti yang pengen listing kamar tanpa ribet.

Djurkam bisa bantu kamu:

  1. Promosi kamar kosong lewat digital. Hari gini cuma mengandalkan jualan offline? Ke mana aja?!
  2. Kelola operasional kost lebih efisien, bisa akses aplikasinya pula di mana aja langsung lewat handphone.
  3. Buka peluang passive income dari properti. In this economy, jangan menaruh telur hanya di satu keranjang. Benar, kan?
  4. Akses ke pelatihan dan komunitas mitra. Kamu nggak bakal ditinggal begitu aja, kok.

Tanpa perlu bangun properti dari nol, kamu bisa mulai bisnis kost secara digital.

Siapa bilang investasi properti harus nunggu umur 40-an? Sekarang, dari satu kamar kosong aja, kamu udah bisa mulai.

Keunggulan Ngekost di D’Paragon & Djurkam

D’Paragon dan Djuragan Kamar bukan cuma “jualan” tempat tinggal. Uniknya, mereka udah punya ekosistem yang memadukan kenyamanan dan peluang usaha.
Lengkapnya begini:

  1. Harga fleksibel dan transparan. Nggak ada biaya tersembunyi, semua jelas dari awal.
  2. Mau sewa kost harian, mingguan, hingga bulanan? Semua bisa!
  3. Booking online mudah dan cepat via dparagon.com. Bisa pesan kapan aja dan di mana aja.
  4. Peluang jadi master agent atau mitra kost via djuragankamar.com. Tinggal pilih cara yang paling pas buatmu.
  5. Dukungan digital lengkap, mulai aplikasi, promosi online, sampai social media yang update terus.

Mau cari kost murah, nyaman, atau justru mulai bisnis properti digital dari kamar kosong?

Dua-duanya bisa lewat D’Paragon dan Djurkam.

Cara Booking atau Jadi Mitra Djurkam

Langkah mudah booking kamar di D’Paragon:

  1. Buka https://dparagon.com
  2. Pilih kota & lokasi kost
  3. Lihat fasilitas dan harga
  4. Klik Booking Sekarang

Cara praktis gabung jadi Mitra Djurkam:

  1. Kunjungi https://djuragankamar.com
  2. Klik menu “Gabung”
  3. Lengkapi profil dan listing kamar
  4. Dapatkan bimbingan & support dari tim profesional

Gen Z, Yuk Ngekost Sekaligus Nyari Passive Income!

Kost sekarang nggak cuma soal tempat tinggal sementara.

Bareng D’Paragon, kamu bisa tinggal dengan nyaman dan tenang. Sambil itu, lewat Djuragan Kamar (Djurkam), kamu juga bisa mulai bangun sumber penghasilan jangka panjang.

Gaya hidup cerdas ala Gen Z? Ya ini dia jawabannya. Ngekost dapet kenyamanan, listing kamar dapet cuan.

Sekarang giliran kamu!

  • Booking kamar di D’Paragon aja. Kost modern dengan fasilitas lengkap, tinggal klik tanpa ribet!
  • Gabung jadi mitra Djurkam buat mulai langkahmu jadi juragan kost digital.

Kalau kamu juga penasaran, coba scroll-scroll dulu akun resminya berikut:

  • Instagram: @dparagonkost | @djuragankamar
  • TikTok: @dparagonkost | @djuragankamar

Dari sekadar kepo, siapa tahu cocok, dan bisa jadi awal dari gaya hidup baru kamu.

resensi-kisah-sang-penandai-tere-liye

Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?

Posted on October 2, 2023August 29, 2023 by admin

“Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.” Pria tua itu mengulang kalimatnya. Meluruskan kaki. Membentangkan tangan di sandaran bangku. Bersandar. Menatap santai ribuan capung yang terbang memesona di sekitar mereka. (Hal. 29)

***

Plot Kisah Sang Penandai

Salah satu yang saya suka dari Tere Liye ialah ia tidak pernah membuat novel berlatar cinta picisan. Roman yang remeh. Kisah-kisah manja yang melenakan, mengeluarkan sifat melankolis seseorang. Sebab memang cinta diciptakan untuk membangun. Untuk menguatkan. Untuk meneguhkan setiap jiwa yang menumbuh-mekarkan cinta.

Sebagaimana perjalanan cinta Jim dalam Kisah Sang Penandai.

Namun sayang bagi Jim, ia harus memulai dongeng ini dengan kepedihan. Hidupnya saja sudah cukup merana. Yatim-piatu, papa, tidak mampu membaca dan menulis. Tere Liye semakin lengkap menyifatinya dengan: terlalu lemah untuk berani mengambil keputusan dalam hidup. Yang ia bisa lakukan hanyalah menggesek dawai dan menyenandungkan lagu. Tetapi justru kemampuan itu mengantarnya berkenalan dengan Nayla. Awal dari segala keperihan.

Hubungan Jim dan Nayla berjalan cepat. Secepat mimpi Jim untuk mewujudkan legenda abadi di Ibukota. Legenda kapel tua di atas bukit pada pukul tujuh, tanggal tujuh, dan bulan tujuh.

“Apakah kau juga akan mati untukku?” Nayla bertanya lirih. Jim mengangguk, anggukan yang terlalu berani.

Perbedaan latar belakang keduanya mengawali kepiluan kisah cinta mereka. Nayla adalah gadis putri keluarga bangsawan. Kaya raya dan berpengaruh besar di Anak Benua. Seperti gadis raja umumnya, Nayla telah dijodohkan. Berulang kali Nayla mengirim surat pada Jim. Mendesaknya agar menjemput sang kekasih. Pergi ke mana pun yang ia mau.

Tapi apalah daya bagi seorang Jim. Ia terlalu gentar untuk mengambil tindakan.

Kepedihan Jim

Pagi itu, musibah sampai pada puncaknya. Jim berlari menuju sebuah penginapan. Kemudian merangsek ke lantai dua. Saat itu juga, hati Jim teriris. Nayla yang ia temukan telah terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya membeku damai bersama gaun putih yang dikenakannya. Hanya secarik kertas yang ia tinggalkan.

“… Biarkanlah aku pergi, Jim. Ini jauh lebih membahagiakan. Aku tak berharap banyak darimu selain untuk terakhir kalinya kau akan mengatakan, ‘Aku mencintaimu, Sayang’ di telingaku yang pasti sudah membeku pada tanggal tujuh, bulan tujuh, jam tujuh hari ini. Ketika lonceng kapel tua berdentang. Tempat di mana ikrar cinta sejati kita pernah terucapkan…” (Hal. 23)

Siapa sangka, justru karena itulah Sang Penandai memilih Jim untuk mengguratkan dongeng terindah yang pernah ada. Awal melihat judul buku ini, saya tak paham apa itu ‘penandai’. Ternyata penandai juga bermakna pendongeng. Ialah yang menulis, menjaga, dan mewariskan dongeng yang kalian dengar setiap hendak tidur.

Petualangan Jim

Maka mulailah Jim merangkai kisahnya bersama Armada Kota Terapung untuk menemukan Tanah Harapan. Ekspedisi ini dipimpin oleh Laksamana Ramirez dengan kapal Pedang Langit-nya dan 39 kapal lainnya. Bagi Jim, ini bukan sekadar ekspedisi biasa. Namun ekspedisi untuk melupakan masa lalunya. Ekspedisi untuk percaya pada kalimat Sang Penandai, “Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.”

Bagi saya sendiri, mungkin di sinilah uniknya perjalanan Jim. Tere Liye lebih memilih perjalanan laut dibandingkan sekadar perjalanan biasa. Apalagi sebuah ekspedisi menemukan daratan baru yang belum terjamah. Banyak konflik yang tentu terjadi. Para bajak laut, kemisteriannya, bertemu dengan warga daratan lain yang berbeda bahasa dan budaya, serta konflik-konflik internal. Tentu tidak mudah mengorganisasi begitu banyak orang di tengah laut yang penuh kejutan.

Selain menghidupkan novel, ternyata konflik-konflik inilah yang perlahan membentuk pribadi Jim.

Nyaris mati dan pertama kali menumpahkan darah saat perompak Yang Zhuyi menyerang Armada Kota Terapung. Tergoda untuk ‘meninggalkan’ Nayla saat bertemu gadis bermata jeli penjaga Puncak Adam. Menyelamatkan Champa dari kehancuran, lalu dijodohkan dengan anak raja. Dan lihatlah! Gadis itu sangat mirip dengan Nayla-nya, bahkan namanya pun sama: Nayla. Sang Kelasi yang Menangis kemudian berubah menjadi kepala pasukan yang berwibawa. Menariknya, Tere Liye juga menghadirkan Pate sebagai tandem bagi Jim. Sosok yang cocok menemani petualangan Jim mencari jati diri.

Berulang kali Jim dihadapkan kondisi putus asa. Memaksanya bertemu dengan ajal. Belum lagi konflik batin, haruskah ia meninggalkan Nayla? Haruskah ia mengkhianatinya?

Tetapi kalimat Sang Penandai terus saja terngiang, “Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.”

Sampai kapankah Jim harus percaya pada kalimat itu?

Kepercayaan Kisah Sang Penandai

Tentu selalu ada harga bagi sebuah kepercayaan. Ada balasan indah yang menanti. Hanya saja kita memang harus bersabar melewati seluruh penderitannya. Pahit serta getirnya. Dan Jim mengajari itu semua kepada pembaca. Cinta tidak diciptakan untuk membuatmu lemah. Walau ia telah tiada, kau harus tetap bangkit. Lanjutkan hidupmu! Dongengmu sungguh masih panjang. Bahkan ketika engkau telah menemukan Tanah Harapan. Karena di ujung sana, ada hadiah yang telah lama menunggumu. Hanya saja kamu tidak tahu. Kamu hanya harus percaya.

Judul: Kisah Sang Penandai

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka Publishing, Jakarta

Tebal: iv+295 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Cetakan: VIII, Agustus 2016

Nomor ISBN: 978-602-988-832-4

resensi-novel-tentang-kamu-tere-liye

Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka

Posted on September 1, 2023August 29, 2023 by admin

“Sebelum kulanjutkan, aku tanyakan padamu. Kamu mau memilih menjadi Sri Ningsih atau Sulastri?”

***

Dalam kehidupan berorganisasi, saya kerap menemukan orang-orang yang “kuat” sekali hidup dalam kekecewaan. Mereka memupuk luka di hati, lalu tumbuh hingga mengakar kokoh. Orang-orang ini terus memendam kekecewaan itu, kemudian mundur dari organisasi tanpa berita. Ada yang menganggap pendapatnya tak pernah didengar, ada yang diam-diam tak suka pada kebijakan pemimpin, dan kekecewaan-kekecewaan lainnya.

Padahal kekecewaan, luka, atau rasa sakit itu adalah konsekuensi logis dalam kehidupan sosial. Sebab kita hidup dengan sesama manusia. Kita tak sempurna, mereka pun tak sempurna. Kita bisa salah, mereka pun juga. Bisa jadi semua luka itu hanya salah paham yang bisa terselesaikan dalam waktu singkat dengan komunikasi yang baik.

Saat membaca “Tentang Kamu”, sekilas saya teringat kembali dengan orang-orang ini.

Alur Tentang Kamu

“Tentang Kamu” bermula dari panggilan mendadak dari Sir Thompson, partner senior di firma hukum Thompson & Co., kepada Zaman Zulkarnaen. Sabtu pagi di Belgrave Square itu berbuah kabar baik dan kabar buruk sekaligus bagi Zaman. Kabar baiknya, ia berkesempatan mengisi satu dari enam kursi lawyer senior. Itulah enam kesatria hukum terbaik yang selama ini menjaga kesucian Thompson & Co. Posisi yang tidak mungkin ditolak oleh Zaman. Namun kabar buruknya, ia harus menyelesaikan sebuah kasus pelik untuk mendapatkan kursi tersebut.

Zaman memperoleh mandat untuk menyelesaikan pembagian warisan senilai satu miliar poundsterling. Atau setara dengan 19 triliun rupiah. Nilai yang cukup untuk mengalahkan kekayaan Ratu Inggris dan keluarganya. Harta warisan tersebut tersimpan dalam 1% kepemilikan surat saham di sebuah perusahaan toiletries dunia.

Anehnya, pemilik warisan tersebut bernama Sri Ningsih. Orang Indonesia berpaspor Inggris yang ditemukan meninggal sembilan hari lalu di sebuah panti jompo di Paris. Usianya 70 tahun dan tidak ada data mengenai ahli warisnya.

Petunjuk pertama Zaman ialah La Cerisaie Maison de Retraite. Sebuah panti jompo yang berada di kawasan elit Quay d’Orsay, berjarak sembilan ratus meter dari Menara Eiffel. Sri Ningsih sempat tinggal di panti itu, tepatnya di kamar 602 yang berada di lantai enam. Di sana, Zaman berhasil memperoleh buku diary Sri Ningsih dari Madam Aimée, pengurus panti.

Juz Pertama. Tentang kesabaran. 1946-1960.

Dua halaman pertama buku diary Sri Ningsih membawa Zaman ke Pulau Bungin, Sumbawa. Sebuah pulau kecil di mana rumah-rumah yang tumbuh dari atas permukaan laut, perahu tertambat di tiang-tiang, dan kambing-kambing mengunyah kertas.

Selama empat hari, Zaman ditemani sopir jip bernama La Golo mencoba menelusuri masa kanak-kanak Sri. Sampai akhirnya, di hari kelima, Zaman bertemu Pak Tua Ode. Darinya, Zaman berhasil melacak masa kecil Sri.

Tentang Nugroho dan Rahayu, ayah dan ibu Sri. Kisah Rahayu yang wafat seusai melahirkan Sri. Cerita Nusi Muratta, istri baru Nugroho. Mengenai Tilamuta, adik tiri Sri. Riwayat Nugroho yang tenggelam dalam sebuah pelayaran. Hikayat cinta Nusi Muratta yang berubah menjadi benci. Tentang siksaan itu, tentang luka itu. Dan tentang Sri yang tidak sedikit pun menaruh dendam pada Nusi Muratta.

Uniknya, dalam episode ini muncul kapal Blitar Holland dan Kapten Philips sebagai cameo. Singkat, tapi cukup menghibur. Ini salah satu gebrakan baru dari Bang Tere. Siapa tahu nanti Zaman bisa tergabung dalam satu tim dengan Thomas, Bujang, dan Ambo Uleng. Tapi sepertinya harus menunggu Lail dan Esok membuat mesin waktu. Hehe.

Juz Kedua. Tentang persahabatan. 1961-1966.

Setelah rumahnya terbakar dan Nusi Muratta tewas, Sri dan Tilamuta memutuskan meninggalkan Pulau Bungin. Tilamuta, itulah “harapan” yang membawa Zaman ke Pesantren Kiai Ma’sum di Surakarta.

Kali ini Zaman ditemani Pak Sarwo, sopir yang menjemputnya di Bandara Adi Sumarmo. Di sana Zaman berkenalan dengan Ibu Nur’aini.

Darinya, Zaman mencoba menguak masa remaja Sri. Kisah tentang persahabatan yang rusak karena dengki. Tentang Mbak Lastri dan Mas Musoh yang bergabung dengan PKI. Sejarah pesantren yang diserang dan santrinya yang dibantai. Tentang Tilamuta yang tewas mengenaskan. Cerita pengkhianatan itu, tentang luka itu. Dan tentang Sri yang harus memilih antara kebenaran atau persahabatan.

Saya bisa ibaratkan Mbak Lastri ini sebagai anti-tesis dari Sri Ningsih. Sri seperti tokoh Ray dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Hidupnya akrab bersama musibah. Tapi ia mampu berdamai dengan semua luka itu. Adapun Mbak Lastri, hidup dengan memendam kekecewaan.

Juz Ketiga. Tentang keteguhan hati. 1967-1979.

Zaman berangkat ke Jakarta. Mencari sisa-sisa kehidupan Sri yang terserak. Tidak hanya itu, Ibu Nur’aini juga sempat menyerahkan sebuah kotak berisi surat-surat yang dahulu dikirimkan Sri. Tilamuta wafat, harapan Zaman satu-satunya telah terkubur.

Dalam pencariannya, Zaman disopiri oleh Sueb, pengendara ojek online.  Zaman akhirnya tiba di salah satu perusahaan toiletries multinasional. Ia bertemu kepala pabrik bernama Chaterine.

Darinya dan dari surat-surat Sri, Zaman mencoba mengungkap masa muda Sri yang penuh perjuangan. Tentang gerobak dorong. Mengenai Rahayu Car Rental. Hikayat Peristiwa Malari. Riwayat Sri yang menjadi pengawas pabrik dan belajar di Singapura. Sejarah sabun mandi “Rahayu”. Dan tentang hantu itu, tentang luka yang dicucuk lagi.

Sri tiba-tiba menjual pabriknya dengan 1% kepemilikan saham. Ia lalu pergi ke London. Lagi-lagi Zaman tak memperoleh petunjuk apa pun mengenai ahli waris Sri.

“Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. Aku titip pabrik ini. Rawat dia seperti merawat anakmu sendiri.” (hlm. 278)

Juz Keempat. Tentang cinta. 1980-1999.

Sekembalinya ke London, bus tingkat merah khas London menuntun ingatan Zaman mengenai foto Sri di kamar 602. Foto Sri yang berdiri di depan bus dengan nomor rute 16. Pencariannya kini mengantar Zaman bertemu Lucy di Victoria Bus Station, yang kemudian menuntunnya mengunjungi kawasan Little India di London.

Petunjuk itu benar-benar dekat selama ini. Di kawasan itu, Zaman bertemu Rajendra Khan. Pemilik kios makanan halal di dekat stasiun kereta Victoria. Kios yang hampir setiap hari dikunjungi Zaman sebelum ke Belgrave Square.

Darinya, Zaman menelusuri episode lain kehidupan Sri. Tentang keluarga angkat Sri. Mengenai sopir bus rute 16. Hikayat cinta Sri dan Hakan Karim. Terciptanya lagu “Tentang Kamu”. Kisah kepergian anak Sri, Rahayu dan Nugroho, serta Hakan. Cerita musibah yang bertubi-tubi itu, tentang luka itu. Dan tentang hantu masa lalu yang memaksa Sri kabur ke Paris.

Juz Kelima. Tentang memeluk semua rasa sakit. 2000-….

Tidak ada satu pun keluarga Sri yang dapat ditelusuri jejaknya. Satu-satunya harapan adalah menemukan surat wasiat Sri. Saat itulah, masalah lain datang. Firma hukum A&Z Law mengajak Thompson & Co. untuk bernegosiasi. Mereka membawa dua wanita bernama Ningrum dan Murni. Keduanya mengaku sebagai mertua sekaligus istri Tilamuta dan menjamin bahwa Tilamuta masih hidup.

Insting Zaman mengatakan ada yang sedang tidak beres di sini. Ia harus segera menemukan surat wasiat Sri. Atau harta warisan itu akan jatuh ke tangan yang salah.

“…Karena pada akhirnya, semua hal memang akan selesai, memiliki ujung kisah. Maka saat itu berakhir, aku tidak akan menangis sedih, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi.” (hlm. 409)

***

Ulasan Tentang Kamu

Saya termasuk orang yang suka membaca buku biografi. Tapi ini buku biografi fiksi pertama yang saya kenal. Bagi saya, tema yang diangkat Bang Tere ini sangat fresh. Biografi mampu merangkum semua episode dan emosi sebagaimana manusia umumnya. Bahagia, sedih, kecewa, marah, gagal, berhasil, menyerah, bangkit, menang, kalah, semuanya ada. Lengkap. Berbeda jika kita hanya memotong satu episode kehidupan seorang tokoh. Cerita semakin menarik karena “Tentang Kamu” dikemas dengan konflik pembagian harta warisan.

Tepatlah ketika Bang Tere bilang, sebenarnya novel ini bicara tentang apa sih, ya tentang kamu. Semua pembaca bisa memposisikan diri menjadi siapa pun. Menjadi Sri ketika Pulau Bungin, menjadi Sri saat di pesantren, menjadi Sri yang bertahan hidup di ibukota, menjadi Sri di London dan Paris, atau menjadi seperti tokoh-tokoh lainnya. Itulah uniknya biografi.

“Tentang Kamu” ditulis menggunakan sudut pandang (PoV) orang ketiga. Sulit mencari cela dari sudut pandang ini. Sebab penulis bebas mengeksplorasi narasi, adegan, dan dialog. Beda jika kita bandingkan—misalnya—dengan Pulang yang memakai sudut pandang orang pertama.

Alur dibuat maju-mundur. Tidak melulu bicara tentang Sri Ningsih. Kita tetap bisa mengikuti setiap kemajuan dalam kasus yang tengah ditangani Zaman. Termasuk masa lalu dan kehidupan pribadinya.

Habits

Saya pernah belajar mengenai passion dan visi hidup. Salah satu yang saya pelajari ialah bahwa diri kita hari ini terbentuk dari habit atau kebiasaan kita selama 5 sampai 10 tahun ke belakang. Dan diri kita 5 atau 10 tahun ke depan adalah hasil dari kebiasaan yang kita bangun hari ini. Di dalam “Tentang Kamu”, alur kehidupan Sri Ningsih menjadi masuk akal dengan teori ini.

Kita bisa temukan sosok Sri yang rela membersihkan kakus pondok setiap hari, sebab ia secara tidak langsung sudah terlatih oleh siksaan Nusi Muratta selama di Pulau Bungin. Tubuhnya terpasang alarm alami. Bangun jam 4 pagi, lantas segera mengerjakan segala urusan rumah tangga. Di Jakarta, seluruh pengalamannya berbuah hasil. Ibukota memang sulit ditaklukkan, tapi jiwa pantang menyerah dan kesabaran Sri telah diuji dengan masalah-masalah yang lebih menyesakkan. Ia cepat belajar dan beradaptasi. Kemampuan bahasanya sudah terlihat ketika masih belajar dengan Tuan Guru Bajang. Keterpaduan alur ini membuat perjalanan Sri menjadi logis. Pembaca mungkin hampir tidak bisa bertanya, “Kok tiba-tiba begini, sih?” Seperti saat Sri berkenalan dengan keluarga Rajendra di Chelsea Flower Show secara tidak sengaja. Lalu alur cerita membawa Sri ke Little India sehingga mendapatkan tawaran tinggal di apartemen milik keluarga Rajendra sebagai bentuk balas budi.

Ini bisa disebut kebetulan yang mengada-ada. Tapi ini logis. Karena setiap episodenya saling terpadu.

Eksperimen dalam Tentang Kamu

Saat launching novel ini, Bang Tere sempat mengungkapkan tiga ekperimen terbaru yang dilakukannya. Termasuk membuat setting di luar negeri. Kita memang pernah menemukan Bang Tere menyisipkan kota-kota mancanegara seperti di Pulang dan Rindu. Namun belum ada yang sedetail ini. Mengingatkan saya dengan Ayat-Ayat Cinta 2 milik Kang Abik. Deskripsi kota lengkap dengan jalan-jalannya. Apalagi kehadiran kota-kota itu memang kebutuhan, bukan sekadar gaya-gayaan. Bayangkan sebuah firma hukum yang telah menjadi legenda, para pengacaranya adalah kesatria yang menjunjung prinsip hidup, dan berkesempatan menyelesaikan pembagian harta warisan senilai 1 miliar poundsterling. Maaf, tapi sepertinya kita tidak bisa menemukan itu di Indonesia. Sri juga perlu kabur dari hantu masa lalunya, tidak mungkin hanya berputar-putar di negara yang sama.

Setiap tokoh tidak dideskripsikan secara berlebihan. Saya sendiri mengeja karakter Zaman dari perkataan dan perbuatannya, bukan dari deskripsi penulis. Hal-hal tidak penting seperti tinggi badan dan warna kulit, dikesampingkan. Namun, saya belum menemukan karakter seperti Zaman ini di novel Bang Tere lainnya dalam wujud wanita. Thomas, Bujang, dan Ambo Uleng mirip dengan Zaman, tap ketiganya laki-laki. Barangkali Bang Tere mau bereksperimen dengan hal ini di novel selanjutnya. Hehe.

Setiap tokoh dalam novel juga tidak muncul sia-sia. Mungkin ini salah satu ciri khas dari Bang Tere. Bahkan Encik Razak yang menjadi pilot pesawat jet pun memiliki andil saat menunjuki Zaman mengenai Pulau Bungin. Atau Maximillien yang berperan sebagai gimmick, tanpa kehadirannya mungkin ada beberapa dialog penting di panti yang hilang. Misalnya, dialog antara Zaman dan Aimée.

“…Selain bagiku, janji adalah janji, setiap janji sesederhana apa pun itu, memiliki kehormatan.” (hlm. 45)

Mengenai riset dan pengetahuan, kita mungkin tidak perlu heran lagi. Bagi yang akrab dengan novel Bang Tere dan mengetahui latar belakangnya, kita bisa menebak istilah-istilah ekonomi di dalam novel adalah makanan sehari-hari penulis. “Tentang Kamu” semakin terasa dekat karena beberapa nama tokoh hingga sampul buku merupakan hasil survei di fanpage penulis.

Typo dan Inkonsistensi

Di balik semua itu, cukup disayangkan masih ada beberapa typo dan inkonsistensi penulisan. Padahal buku yang saya baca ini merupakan cetakan keempat. Typo misalnya terletak pada,

“Hari itu, tahun 1955, usia Sri Rahayu menjelang sembilan tahun…” (hlm. 96) Sejak kapan Sri berganti nama?

“SPV? Ini bukan penyelidikan pajak, Eric.” (hlm. 207) Seharusnya Zaman.

Mengenai ikonsistensi misalnya terlihat pada,

“Keluarga Nugroho tiba di Pulau Bungin tahun 1944.”(hlm. 67) dan “…Tahun 1945, Nugroho dan istrinya tiba di pulau ini.” (hlm. 69) Jadi, yang benar yang mana?

Ada pula beberapa kejanggalan yang mengganggu. Kejanggalan paling terasa ialah sosok Sueb. Baiklah, Sueb memang orang asli Jakarta. Dari gaya bicaranya pun menunjukkan itu. Tapi untuk tahu Cadillac dan Fiat, mengingat dengan persis bulan dan tahun banjir setinggi dua meter di Sudirman, tahapan pembangunan Monas, hingga Peristiwa Malari? Di satu sisi, pembaca memang dapat menambah pengetahuan. Tapi apakah Sueb ini wikipedia berjalan? Dan Peristiwa Malari. Aneh untuk pengacara sekaliber Zaman tidak tahu peristiwa itu. Lalu bertanya pada—maaf—seorang tukang ojek?

Saat Zaman menerangkan analisisnya mengapa Ningrum bisa sampai ke Paris juga terkesan kurang smooth. Zaman seperti pihak ketiga yang mengetahui semuanya. Mungkin jika Bang Tere membuat narasi tersendiri, kisahnya bisa lebih mengalir.

Terakhir yang saya sayangkan, mengapa pembaca digantung mengenai empat pertanyaan yang diajukan Eric saat pertama kali mewawancarai Zaman? Saya kira empat pertanyaan itu nantinya akan menjadi bekal Zaman dalam kasus ini. Huft. Ini kekesalan pribadi, sih. Mungkin di lain waktu Bang Tere bisa menjelaskan. Hehe.

Hikmah Tentang Kamu

Terlepas dari segala kekurangan itu, Sri dan orang-orang dan sekitarnya adalah tokoh fiksi yang patut diteladani. Termasuk Mbak Lastri. Dari Mbak Lastri dan Mas Musoh kita belajar bahwa dengki mampu membakar sesuatu yang berharga sekelas persahabatan, sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. Padahal, masalah mereka dapat selesai cukup dengan komunikasi di antara dua pihak. Meluruskan kesalahpahaman dan pandangan negatif yang destruktif.

Saya betul-betul teringat dengan mereka yang masih bisa hidup dengan menggenggam bara kekecewaan. Kawan, kita selalu memiliki pilihan di tengah luka. Berdamai dengan itu atau merawatnya hingga tumbuh subur di dada. Baik cinta maupun benci, sama-sama bisa menjadi energi yang mengagumkan.

Sekali lagi aku tanyakan padamu. Kamu mau memilih menjadi Sri Ningsih atau Sulastri?

***

Judul: Tentang Kamu

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta

Tebal: vi+524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Cetakan: IV, November 2016

Nomor ISBN: 978-602-082-234-1

resensi-novel-ayat-ayat-cinta-2

Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Posted on August 31, 2023August 29, 2023 by admin

Alur Ayat-Ayat Cinta 2

Seusai menikah dengan Aisha, Fahri kini tinggal di daerah Edinburgh, Skotlandia. Atau lebih tepatnya di kawasan Stoneyhill Grove, Musselburgh.

Di kompleks berbentuk letter L ini, Fahri bertetangga dengan orang-orang yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda. Ada Nenek Catarina, seorang Yahudi tulen yang rajin pergi ke sinagog. Terdapat pula Brenda, wanita kantoran yang sering pulang larut malam dan suka minum minuman keras. Kemudian ada juga Nyonya Janet yang hidup bersama kedua anaknya, Keira dan Jason. Kedua kakak-beradik tersebut sangat membenci Fahri sebagai seorang Muslim. Keira beberapa kali menaruh tulisan di kaca mobil Fahri seperti “MUSLIM=TERORIST! GO HELL!”. Sedangkan Jason selalu mengucapkan kata-kata kasar setiap kali berpapasan dengan Fahri. “Fuck you!” umpatnya.

Fahri sendiri tinggal bersama Paman Hulusi. Seorang pemabuk yang diselamatkannya dari sekumpulan preman. Dan kini ia menjadi supir pribadi Fahri.

Kesehariannya diisi dengan menjadi dosen Ph.D di The University of Edinburgh. Selain itu, Fahri juga mengelola dua bisnis besar. Yakni resto dan minimarket Agnina serta AFO Boutique yang ia dirikan bersama Aisha dan Ozan (sepupu Aisha).

Tapi kehidupan indah tersebut ternyata masih menyisakan tangis bagi Fahri. Karena hingga kini, Aisha tak berada di sisinya. Ia hilang di Palestina bersama seorang temannya bernama Alicia. Meski Alicia telah ditemukan tewas terbunuh oleh Zionis Israel, namun itu tidak menyurutkan Fahri untuk tetap mencari dan menanti Aisha. Dorongan untuk menikah lagi datang dari segala sisi. Tetapi tidak pernah ia pedulikan.

Tawaran Sulit

Tawaran pertama datang dari Ozan. Ia menawari Fahri agar meminang Hulya, adik Ozan. “Dia tidak hafal Al-Qur’an tapi bagus bacaan Al-Qur’annya. Dia baru lulus B.A dari METU.” (hlm. 62)

Sedangkan tawaran kedua datang dari Syaikh Utsman, guru talaqqi dan qiraah sab’ah Fahri ketika di Mesir. Syaikh meminta Fahri agar menikahi cucu perempuannya bernama Yasmin. Akhlaknya terjaga, hafal Al-Qur’an sejak usia 11 tahun, dan sedang menempuh Ph.D hukum islam di Durham University.

Perlahan, suasana di rumah Fahri bertambah ramai. Sejak ia memutuskan menanggung seluruh beasiswa Misbah di Heriot-Watt University. Teman satu rumahnya di Kairo dulu itu, kini tinggal selangkah lagi meraih gelar Ph.D Ekonomi Islam.

Fahri juga beberapa kali diundang makan dan mendapat kunjungan dari keluarga Tuan Taher. Dosen di Queen Margaret University ini tinggal bersama istri dan seorang putrinya yang bernama Heba.

Penghuni rumah Fahri pun bertambah satu lagi. Foto Sabina, seorang muslimah dengan wajah rusak, tiba-tiba muncul di The Edinburgh Morning dengan tulisan di dada: I’m homeless! Help me! Bagi Fahri ini adalah panggilan dakwah. Sementara legalisasi Sabina diurus, mau tak mau ia menetap di bagian basement rumah Fahri.

Masalah Fahri tak berhenti di situ. Ia ditantang oleh Baruch, anak tiri Nenek Catarina, berbebat mengenai konsep amalek. Fahri juga menerima tawaran debat akbar di The Oxford Union dari Profesor Charlotte. Yakni sebuah forum debat tertua dan paling bergengsi di dunia. Lawan debatnya kali ini tidak main-main. Ada Profesor Mona Bravmann, pakar kajian timur dekat dari Chicago, dan Prof. Alex Horten, pakar sosiologi agama dari King’s College London.

Apakah Fahri berhasil mengatasi masalah-masalah tersebut? Termasuk apakah akhirnya ia memilih menikah lagi atau tetap mempertahankan hatinya pada Aisha? Siapakah yang akan Fahri pilih, Hulya atau Yasmin?

Banyak pertanyaan-pertanyaan besar yang sayang dilewatkan jawabannya dalam buku setebal 690 halaman ini.

***

Analisis Umum Ayat-Ayat Cinta 2

Apa jawaban Anda jika ditanya, “Kenapa orang Muslim suka bom bunuh diri?”

Mungkin sebagian dari kita langsung mengernyitkan dahi. Lalu bertanya dalam hati, “Mengapa orang tersebut bisa berpikir demikian?” Sebab, redaksi kalimatnya jelas menghakimi.

Begitu pula yang dirasakan Fahri Abdullah. Kala ia menggantikan Profesor Charlotte Brewster mengajar kelas Filologi di The University of Edinburgh. Pertanyaan polos dari seorang mahasiswi asal Cina bernama Ju Se tersebut, seolah menggambarkan bahwa ia benar-benar tidak mengenal Islam. Atau ia justru memperoleh penjelasan mengenai Islam dari sumber-sumber yang tidak tepat.

Pertanyaan semacam itu—yang muncul di awal bab—pun seakan menggambarkan topik besar yang ada di dalam novel ini. Dan benar saja. Topik islamopobia cukup besar mewarnai isi novel. Apalagi Fahri tinggal di negara dengan jumlah muslim yang minoritas.

Indahnya Islam

Beberapa kali Kang Abik menunjukkan bahwa begitulah Islam. Ia datang sebagai rahmat bagi seluruh alam. Melalui tindakan-tindakan Fahri, penulis ingin memperlihatkan bahwa kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan pula. Dan dakwah tidak boleh dengan paksaan. Tetapi harus melalui hikmah, nasihat yang baik, dan argumentasi ilmiah kalaupun harus berdebat.

Misalnya, ketika Fahri memindahkan Brenda yang tak sadarkan diri di tengah jalan akibat mabuk, ke depan rumahnya. Atau mengantar Nenek Catarina ke Sinagog. Bahkan rela merawat beliau dan membeli rumahnya yang sempat ingin dijual oleh Baruch. Fahri juga menanggapi Keira dan Jason dengan santai. Keduanya bahkan dibantu oleh Fahri, meskipun Keira tidak mengeahuinya. Jason diberi beasiswa hingga menjadi seorang pesepakbola profesional. Dan Keira dilatih biola oleh Madam Varenka—orang bayaran Fahri—hingga memenangi kontes dunia.

Paman Hulusi pun sampai bingung mengapa Fahri bisa rela hanya tidur beberapa jam. Di tengah ibadah dan murajaah hafalannya, ia tidak berhenti menunaikan amanahnya di The University of Edinburgh.

“Cara melawan itu semua adalah dengan menunjukkan bahwa kita, umat Islam ini berkualitas. Bahkan harus lebih berkualitas dan lebih profesional dibanding orang-orang asli penduduk sini. Sudah menjadi naluri bahwa penduduk asli mendapatkan prioritas. Itu yang harus kita sadari. Maka kita harus menunjukkan nilai lebih yang tidak dimiliki penduduk asli.” (hlm. 25)

Fahri juga menambahkan, “Saya tidak muluk-muluk. Cukuplah bahwa saya bisa menyampaikan akhlak Islam dan kualitas saya sebagai orang Islam kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya, jika saya bisa, itu saya sudah bahagia.” (hlm. 26)

Konsep Amalek

Topik besar lainnya yang mengisi novel ini ialah mengenai konsep amalek milik kaum Yahudi. Melalui konsep inilah, Israel melegalisasi penjajahannya di atas tanah Palestina. Bagi mereka, anak-anak keturunan Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Di antara manusia lalu muncul bangsa-bangsa yang tidak menyukai prinsip ini dan berusaha melenyapkan bangsa Yahudi. Mereka inilah yang disebut dengan kaum amalek. Orang-orang amalek ini wajib ditumpas oleh kaum Yahudi karena dianggap mengancam eksistensi mereka. Termasuk amalek ialah semua orang Arab, orang muslim, dan orang Palestina.

Konsep inilah yang coba dibantah oleh Kang Abik melalui debat antara Fahri dan Baruch. Fahri berhasil menjelaskannya dengan argumen ilmiah dan cukup telak.

Meski materinya cukup padat, namun tema cinta tetap tidak ketinggalan. Sebagaimana penuturan penulisnya sendiri ketika bedah buku Api Tauhid di AQL sekitar tahun lalu. Semua buku beliau memang sengaja dibumbui tema cinta. Ada Ketika Cinta Bertasbih, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta, dan lain-lain. Ini semata agar novel terasa lebih ringan dan lebih dekat dengan pembaca. Siapa yang tidak suka dengan tema cinta?

Perbedaan 2 Ayat-Ayat Cinta

Secara umum, ada beberapa perbedaan antara Ayat-Ayat Cinta 1 dan 2.

Pertama, jelas bahwa latar temat yang dipilih berbeda. Kalau dahulu bertempat di Mesir, kini lokasinya berpindah ke Skotlandia.

Kedua, jika dahulu tema besar yang diangkat adalah mengenai pernikahan Islam, kini tema besarnya berkutat pada isu-isu di dunia Islam.

Ketiga, sudut pandang pada Ayat-Ayat Cinta 1 memakai sudut pandang pertama. Sedangkan kali ini point of view yang digunakan adalah sudut pandang ketiga yang terpusat di Fahri. Sehingga kita bisa lebih mengeksplorasi isi kepala atau tindakan tokoh lain tanpa Fahri mengetahuinya. Seperti, ketika Sabina menangis di kamarnya atau mimik wajah para penonton ketika menyaksikan debat antara Fahri dan Baruch.

***

Kelebihan dan Kekurangan Ayat-Ayat Cinta 2

Sebagai karya manusia biasa, tentu sebuah novel pun tidak lepas dari cela. Meski begitu, kelebihannya kadang mampu menutupi cela tersebut. Sebagaimana novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini.

Kelebihan Ayat-Ayat Cinta 2

1. Berani

    Menghadirkan tema amalek dan berusaha membantahnya bisa dibilang berani untuk sebuah novel. Jika novel ini akan difilmkan juga, saya jadi bertanya apakah tema ini tetap akan diangkat atau tidak. Saya berpikir tema ini bisa jadi sangat kontroversial di dunia internasional. Tapi justru memang itulah poin lebih Ayat-Ayat Cinta 2. Sebagaimana endorsment Melly Goeslaw, “Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah karya sastra racikan Kang Abik yang mengejutkan. Lebih berani dan dinamis. Tapi tetap sarat makna dan pesan.”

    2. Kesan Islam Sebagai Rahmat Bagi Semesta Alam

    Tokoh Fahri begitu apik menjadi role model bagaimana seharusnya menjadi Muslim yang paripurna, meski di negeri mayoritas non-muslim. Kaya, berwawasan, memiliki bisnis, dermawan, dan pandai menghadirkan akhlak Islam yang begitu agung. Kita seolah menemukan makna Islam rahmatan lil alamin dalam novel ini. Setiap Muslim sepertinya “wajib” merenungi lembar per lembarnya.

    3. Pemaparan Latar yang Detail

    Deskripsi Kang Abik mengenai Skotlandia beserta jalan-jalannya terasa begitu nyata. Beliau seolah pernah berkunjung ke sana dan meriset lokasi serta budaya masyarakat setempat. Bagi para penulis pemula, tentu hal ini dapat dijadikan pelajaran. Sebab latar bukan hanya tentang semburat senja atau rinai hujan, tetapi juga mengenai detail lokasi. Ketika sebuah novel dapat memadukan riset dan sastra, tentu itu akan menjadi poin yang sangat baik.

    Kekurangan Ayat-Ayat Cinta 2

    1. Fahri yang Terlalu Sempurna

    Hampir sama dengan novel sebelumnya, sosok Fahri di sini seperti sosok yang utopis. Sangat jarang kita menemukan sosok yang begitu bersahaja. Cerdas, kaya, dermawan, berprestasi, dan digilai banyak wanita. Sepertinya hal inilah yang tidak disukai oleh beberapa pembaca.

    Tapi saya sedikit memiliki pandangan lain. Saya khawatir, justru umat Islam hari ini memang sedang dilanda penyakit inferior (rendah diri) yang akut. Sehingga ketika melihat sosok Fahri, kita menganggap bahwa sosok tersebut tidak riil. Padahal kalau kita ingin menengok sejarah, sosok Rasulullah Saw. dan para shahabat adalah orang-orang yang bahkan melebihi Fahri. Ada Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang kaya namun sangat dermawan. Rasulullah pun menjadi role model bagaimana bersikap terhadap non-muslim. Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Masihkah kita menganggap semua itu tidak riil?

    Kalau saja kita mau mengamati sedikit lagi, Fahri pun sebenarnya tidak sesempurna yang kita bayangkan. Ia sangat lemah terhadap fitnah wanita. Contohnya jelas pada Ayat-Ayat Cinta 1. Dan di novel ini pun ketika ia tidak ingin melepaskan hatinya dari Aisha merupakan bukti bahwa wanita adalah cobaan terberat bagi Fahri.

    2. Klimaks yang Tidak Klimaks

    Pada Ayat-Ayat Cinta 1, kita bisa menganalisa bahwa klimaks ceritanya adalah ketika Fahri tersebas dari tuduhan pemerkosaan. Namun di novel ini, bisakah kita menetapkan mana klimaksnya? Apakah ketika Fahri berdebat di The Oxford Union? Agak susah menyimpulkannya. Karena setelah itu pun kita masih menunggu jawaban di mana sosok Aisha kini berada. Kalau ditemukannya Aisha itu adalah klimaks, tetapi debat di Oxford itu dan Keira yang akhirnya mengetahui siapa pemberi beasiswanya juga bisa dibilang klimaks.

    Inilah hal yang hilang di Ayat-Ayat Cinta 2. Kang Abik memang tidak menggunakan teknik khusus agar pembaca mau terus membuka bab per bab. Tapi dengan banyaknya pertanyaan tersebut, sudah cukup membuat kita terus membaca novel ini dan berusaha mencari jawabannya. Alurnya begitu meliuk-liuk.

    3. Plot Twist yang Bisa Ditebak

    Tentu para pembaca menanti-nanti, di manakah Aisha kini? Tetapi entah kenapa Kang Abik beberapa kali memberikan kode. Seperti lekuk tubuh dan timbre suara Sabina yang mirip Aisha. Tangisan Sabina di beberapa scene. Jari Sabina yang tiba-tiba terbakar ketika hendak diperiksa sidik jarinya. Dan beberapa kode lainnya. Benar-benar membuat pembaca menebak, apakah Sabina itu sebetulnya adalah Aisha? Premis inilah yang membuat akhir cerita sedikit bisa ditebak.

    4. Terlalu Padat

    Ayat-Ayat Cinta 2 bisa dikatakan lebih tebal dua kali lipat dari novel sebelumnya. Kang Abik banyak sekali memasukkan materi keislaman di dalam novel, sehingga isinya tampak padat sekali.

    Misal, dialog antara Fahri dan Misbah mengenai hukum menjual minuman keras di negara mayoritas non-muslim. Atau lintasan pikiran Fahri ketika mengetahui bahwa Profesor Charlotte tidak masuk Islam karena kelakukan Muslim sendiri yang tidak mencerminkan akhlak Islam. Di sini lintasan pikiran Fahri panjang sekali.

    5. Kesalahan Tulis

    Kali ini koreksi bagi editor dan penerbit. Sayang sekali novel sebagus ini masih harus ada keasalahan ketik. Seperti penulisan kalau menjadi kau, Fahri menjadi Fahmi, dan beberapa typo lainnya.

    Akhirnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel ini tetap layak dikonsumsi bagi setiap Muslim. Sangat bergizi dan membangun jiwa. Mendorong setiap Muslim agar menjadi Muslim yang paripurna. Meneladani kehidupan Rasulullah dan para shahabat. Lalu mempraktikannya dalam kehidupan masyarakat. Sehingga tidak ada lagi sekat antara keagungan Islam dengan keindahan akhlak seorang Muslim.

    Judul: Ayat-Ayat Cinta 2

    Penulis: Habiburrahman El Shirazy

    Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta

    Tebal: vi+698 halaman; 13.5 x 20.5 cm

    Cetakan: VII, Desember 2015

    Nomor ISBN: 978-602-0822-15-0

    resensi-buku-jalan-cinta-para-pejuang

    Resensi Buku Jalan Cinta Para Pejuang

    Posted on August 29, 2023August 29, 2023 by admin

    Satu kata cinta Bilal:

    “Ahad!”

    Dua kata cinta Sang Nabi:

    “Selimuti aku..!”

    Tiga kata cinta Ummu Sulaim:

    “Islammu, itulah maharku!”

    Empat kata cinta Abu Bakar:

    “Ya Rasulallah, saya percaya..!”

    Lima kata cinta ‘Umar:

    “Ya Rasulallah, izinkan kupenggal lehernya!”

    Selamat datang di jalan cinta para pejuang.

    Apa yang berlarian di pikiran Anda ketika terletup kata ‘cinta’? Apakah kegilaan Qais pada Layla yang mengakhirkan kenestapaan? Atau roman klasik Romeo-Juliet yang jua ditutup dengan tragedi mengiris hati? Keduanya tampak indah dan romantis. Membekas di relung benak setiap pendengar kisahnya. Tetapi bukan ‘cinta’ jenis ini yang hendak kita diperjuangkan.

    Seperti serangkaian kata penulisnya di bagian pembukaan, cinta sebagai bentuk emosi yang lain semisal takut, benci, dan harap harus diikat dengan sesuatu yang lebih agung dalam hidup. Kedudukan cinta bukanlah sebagai tujuan. Ia sepatutnya menjadi bekal bagi kita untuk memenuhi tugas sebagai hamba Allah dalam beribadah dan mengelola karunia-Nya.

    Salim A. Fillah pun melanjutkan, “Lalu tugas besar kita pun dimulai: ubah cinta, ubah jiwa, ubah dunia.”

    Tapak Pertama Jalan Cinta Para Pejuang

    Tidak heran, tapak pertama kita menyusuri buku ini ialah dengan menelusuri jejak pemahaman-pemahaman cinta yang cenderung melemahkan jiwa. Betajuk “Dari Dulu Beginilah Cinta”, pada bagian permulaan ini segala teori tentang cinta yang justru menyengsarakan coba dipatahkan satu per satu. Bimbingan wahyu menjadi pemandu kita mereguk makna cinta yang selayaknya menguatkan.

    Sebagaimana tulis Anis Matta yang dikutip di buku ini pada halaman 34, “Seperti ini, kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak—atau tak beroleh kesempatan—untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan.”

    Itulah sebagian ketidaktepatan memadukan antara kebahagiaan dan cinta. Pemahaman mengenai cinta yang keliru kerap membuat umur cinta tidak tahan lama. Di jalan cinta para pejuang, kita hendak membina kesetiaan dan pengorbanan. Mengesahkan komitmen sebagai tapak pertama kita.

    Tajuk Kedua Jalan Cinta Para Pejuang

    Tajuk bagian kedua, “Dunia kita hari ini”, lalu ingin mengajak kita menyeksamai dunia yang akan menjadi bingkai jalan cinta. Kita memahaminya agar mampu menaklukannya. Sebab dunia ini telah berubah. Tidak ada jalan lain, selain kita harus berbenah. ‘Pejuang’ lain dengan segala ismenya, pemikir-pemikir liberal, kaum ubersexual, dan musuh-musuh dalam selimut sedia mengintai kelemahan kita. Menanti kelalaian kita.

    Barangkali Anda bingung, apa hubungan cinta dengan dunia kita hari ini? Mengapa mereka yang biasanya berada di ranah pemikiran islam, kini hadir di bawah payung bertema ‘cinta’?

    Memang beginilah cinta semestinya. Ia membangkitkan tekad, menguatkan iman, mengokohkan gairah. Sekali lagi, ia bukan tujuan. Ia merupakan bekal kita sebagaimana emosi-emosi kita lainnya. Dan kita, insya Allah, lebih memahaminya ketika memasuki bagian ketiga. Yakni tatkala kita menapaki empat jejak jalan cinta.

    Jejak-Jejak

    Pertama, membangun visi. Agar cinta menjadi gagah. Tidak mudah lelah apalagi menyerah. Kita harus bangkit dari lelap panjang ini. Kita punya tugas yang harus segera ditunaikan di dunia nyata. Para pemimpi yang berpikiran besar biasanya tidak mudah berpaling atau rentan menoleh. Ia memiliki hijab yang tebal nan kuat. Hijab agar ia tidak mudah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.

    Penulis sempat menyuguhkan sebuah penilitian yang digelar BBC mengenai Brainsex. Penelitian ini insya Allah dapat membuat Anda lebih mudah memahami mengapa kita tidak layak berurusan dengan hal-hal kecil. Visi yang terang benderang membuat cinta bertahan lebih lama dan lebih terarah. Sebab sebagaimana penulis mengingatkan pada halaman 157, “Takdir adalah misteri, tugas kita adalah mencitakan dan merencanakan.”

    Selepas merajut cita-cita, apa jejak keduanya? Ialah mengasah gairah. Semua orang mungkin mampu merenda mimpi, tapi kemampuan ini kerap kalah dari kemampuan kita untuk menunda. Padahal cinta adalah kata kerja. Mereka yang siap mencintai, berarti mereka siap memberi dan berkorban. Mereka siap bertanggung jawab. Bahkan cemburu pun menjadi letupan gairah. Membuat visi yang jauh, terasa berada di depan kelopak.

    Namun kadang, keduanya tetap tak cukup membeningkan keadaan. Seluruhnya masih tampak buram dan kelam. Maka jejak ketiga ialah melihat seluruhnya dengan nurani yang bersih.

    Nurani yang menyelamatkan. Jernih dari sangka buruk pada Allah. Tidak terlalu menghitam akibat dosa dan maksiat. Dengan nurani, cinta mengejawantah dalam kerja-kerja besar dakwah dan jihad. Menerangi visi dan membatasi gairah yang kerap meletup tak berbatas. Nurani menjadikan kita bersyukur tak sekadar berpuas.

    “Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah puas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas, janganlah puas sekadar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.” (hlm. 282)

    Jika ketiganya telah ditunaikan, cukupkah? Belum, selama kita tidak mendisiplinkan diri. Inilah jejak keempat. Tidak ada yang memegang kemudi kita, kecuali diri kita sendiri.

    Ulasan Buku

    Bagi yang sering menyelami riuhnya tulisan-tulisan Salim A. Fillah, mungkin hampir tidak dapat menemukan perbedaan gaya tulisannya pada buku ini dengan buku-buku beliau yang lain. Seakan inilah khas beliau yang tidak dimiliki penulis lain. Meski mungkin bagi sebagian orang cenderung membosankan, namun nyatanya banyak pembacanya kini perlahan menuruni gaya tulisan beliau.

    Diksi yang dipilihnya kerap bersastra. Kalimatnya dibuat lebih soft sehingga tidak muncul kesan menghakimi. Penjabaran materi tidak melulu dalil yang menjadikannya kaku. Berpuluh kisah berhikmah menemani pembaca menyeksamai kalimat demi kalimat. Tak kalah menarik, di buku ini teramat banyak penulis menampilkan penelitian tertentu dan teori-teori psikologi. Menambah bobot kualitas pemaparan beliau mengenai cinta dan seni membangunnya.

    Meski begitu, sangat disayangkan masih ada beberapa kata yang salah ketik. Seperti menulis tafsir dengan ‘tofsir’, Injil dengan ‘Injili’, arsy dengan ‘arsa’. Selain itu, beberapa kisah mungkin pernah pembaca dengar pada buku beliau yang lain. Cerita-cerita ini menjadi berulang ditulis. Bagi sebagian pembaca, hal ini barangkali mengganggu dan sedikit membosankan.

    Judul: Jalan Cinta Para Pejuang

    Penulis: Salim A. Fillah

    Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta

    Tebal: 344 halaman; 14 x 20 cm

    Cetakan: 9, Juli 2013

    Nomor ISBN: 979-1273-08-1

    the-dead-returns

    Resensi The Dead Returns: Nyawamu Hasil Pengorbanan Banyak Orang

    Posted on February 16, 2023February 2, 2023 by admin

    “..Diabaikan secara tak sadar dan tanpa alasan rasanya lebih menyakitkan daripada diabaikan karena di-bully.” (hal. 98)

    Pernahkah kita khawatir, jika nanti mati, apa tanggapan orang-orang di sekitar kita? Menangis sedih, merasa biasa saja, atau justru tertawa gembira? Rasa penasaran yang kuat bercampur dengan kengerian untuk menyaksikannya.

    Namun, sepertinya Koyama Nobuo sudah siap menerima semua kenyataan di hadapannya. Apa yang perlu ia harapkan pada teman-teman sekelasnya di SMA Higashi? Koyama hanyalah seorang otaku (fanatik) kereta api di kelasnya. Tidak punya kelebihan, tidak menonjol, dan pastinya tidak digemari murid-murid perempuan. Bersama sahabatnya, Yoshio, ia bertahan di tengah orang-orang yang menganggap mereka pemilik masa depan suram. Keduanya tidak di-bully, tapi tidak diperhatikan juga.

    Betul saja. Sekembalinya ia ke kelas, bahkan bunga putih untuk mengenangnya pun tergeletak layu. Tidak ada yang mengganti airnya.

    Koyama harus sabar. Bukan itu tujuan ia kembali ke sana. Kini tubuhnya adalah milik Takahashi Shinji, murid pindahan berwajah cerah, tampan blasteran, dan lebih tinggi darinya. Seseorang yang berusaha menyelamatkannya saat terempas akibat didorong oleh pelaku misterius di Tebing Miura Kaishoku pada malam setelah upacara pembukaan semester baru.

    Saat Koyama siuman dari koma panjang, ia telah bertukar tubuh dengan Takahashi. Kesempatan ini tidak boleh dibuang percuma. Koyama punya kehidupan kedua yang harus dimanfaatkan guna mencari si pelaku. Tersangka utama: 35 orang teman sekelasnya.

    ***

    Ulasan The Dead Returns

    Tidak butuh waktu lama untuk memutuskan membaca The Dead Returns seusai logika saya diaduk-aduk oleh Girls in the Dark. Akiyoshi Rikako kembali menyajikan cerita misteri yang lincah dan mengajak pembaca berspekulasi.

    Mula-mula, kita dijebak untuk mencurigai Sasaki dan Arai. Kemudian muncul tokoh Jozaki. Maruyama yang berkepribadian sama dengan Koyama juga tak boleh diabaikan. Perlahan, kita pun seakan dipaksa untuk menebak Yoshio sebagai pelakunya. Bahkan ibu Koyama, Sakamoto-sensei, dan Takahashi Shinji sendiri tidak bisa lepas dari praduga.

    Saya sejenak berpikir, jangan-jangan ujung novel ini mirip Murder on the Orient Express-nya Agatha Christie. Everyone is suspect!

    Sayangnya, lagi-lagi plot twist. Sulit benar-benar menemukan jawabannya kalau belum sampai halaman terakhir.

    Rasanya saya juga perlu berterima kasih pada Penerbit Haru yang berhasil menerjemahkan novel ini dengan baik. Dialog maupun narasinya mengalir sebagaimana novel remaja pada umumnya. Gambaran mengenai kehidupan sekolah di Jepang juga cukup terlukiskan secara apik. Kegiatan klub, festival budaya, sungguh masa muda yang penuh energi. Sayangnya, kasus bullying tampak tidak pernah selesai.

    Budaya modernnya yang membanjiri dunia hari ini memoles sisi kelam negeri sakura tersebut. Kita kerap terpukau pada kemajuan teknologi dan masyarakat Jepang yang terkenal disiplin. Faktanya, angka bunuh diri di Jepang termasuk yang tertinggi dari seluruh negara. Kementrian Kesehatan setempat, pada tahun 2016 lalu, mencatat angka kematian akibat bunuh diri mencapai hampir 22 ribu orang (Kompas.com).

    Adapun di Indonesia, jumlahnya cenderung menurun. Dari 30 ribu kasus pada 2005, hingga hanya 840 kasus di tahun 2013. Terdapat empat penyebab utama: putus cinta, masalah ekonomi, keluarga yang tidak harmonis, dan masalah sekolah!

    Saling Terbuka

    Koyama yang berupaya mencari pembunuhnya, ternyata juga disadarkan pemandangan menarik. Kadang ia menyaksikan kepalsuan teman-temannya, kadang justru ia menemukan kebaikan di balik anggapan kelirunya. Begitu pula Yoshio maupun Maruyama. Ketiganya menganggap teman-teman yang lain tidak mengerti mereka, tanpa disadari mereka pun punya pandangan negatif terhadap teman sekelasnya. Semua masalah tersebut ternyata mampu diselesaikan melalui hal sederhana: komunikasi. Saling terbuka dan menyampaikan hal-hal yang disukai maupun tidak disukainya.

    Nyawa kita terlalu mahal untuk dikorbankan begitu saja. Padahal bisa jadi ada andil pengorbanan banyak orang agar kita tetap hidup.

    “Kau bilang keberadaanmu muncul karena pengorbanan orang lain. Tapi, bukankah semua orang memang seperti itu? Namun, sedikit sekali orang yang menyadari fakta penting itu. Akan tetapi, Takahashi-kun, kau bisa menyadari hal yang mulia itu. Bukankah itu bagus sekali? Dengan itu saja, kau sudah cukup berarti untuk dilahirkan. Karean itu, percaya dirilah. Aku ingin kau hidup dengan bangga. Hmm… menurutku, Takahashi-kun pantas untuk hidup.” (hal. 156)

    Judul: The Dead Returns
    Penulis: Akiyoshi Rikako
    Penerbit: Penerbit Haru
    Tebal: 252 halaman
    Cetakan: VIII, Oktober 2017
    Nomor ISBN: 978-602-7742-57-4

    novel-pergi

    Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy

    Posted on February 14, 2023February 2, 2023 by admin

    Ada dua momen paling penting dalam hidup. Pertama, ketika kita dilahirkan. Kedua, saat kita tahu mengapa.

    Sepanjang sejarah kehidupan, manusia selalu bertanya: siapa mereka, sekarang ada di mana, dan mau menuju ke mana. Setiap individu akan mencapai suatu titik untuk bertanya demikian pada dirinya sendiri. Itulah pertanyaan dasar yang harus dijawab. Dan itu pula yang berkelindan di benak Bujang saat ini. Ia bukan Tauke Besar biasa, memuaskan ambisinya tanpa putus. Ia Bujang, pemilik darah tukang pukul terbaik negeri sekaligus pewaris darah seorang ulama besar.

    ***
    Tentang Novel Pergi

    Melanjutkan novel Pulang, Pergi dibuka dengan adegan penyerbuan ke markas El Pacho di Meksiko. Bersama si kembar Kiko dan Yuki, White, serta Salonga, Bujang hendak merebut teknologi pendeteksi serangan siber milik Keluarga Tong yang dicuri oleh salah satu penguasa shadow economy di Asia Pasifik tersebut.

    Pembukaan semacam ini seolah mengindikasikan bahwa Pergi akan berjalan dalam tempo yang cepat. Tidak bertele-tele mengenalkan karakter atau membangun konflik cerita. Pembaca lekas dihadapkan pada situasi menegangkan, pertempuran antara dua kelompok shadow economy. Rasa penasaran pembaca semakin membuncah, ketika Tere Liye menghadirkan tokoh baru. Memakai bahasa Bujang, lantas menyebut Bujang sebagai adik lelakinya. Hmm, siapa dia?

    “…Aku harus pergi. Adios, Hermanito.” (hal. 26)

    Berawal dari penyerbuan itu, alur Pergi merangsek maju. Sepeninggal Tauke Besar sebelumnya, Bujang yang kini menjadi Tauke Besar baru berhasil mengembangkan bisnis Keluarga Tong. Mereka tidak lagi bergerak di bidang bisnis kotor selayak perjudian, narkoba, atau perdagangan obat-obatan. Keluarga Tong telah bertransformasi selama dua puluh tahun terakhir, begitu pula beberapa penguasa shadow economy lainnya.

    “Catat baik-baik: satu di antara empat kapal di perairan dunia adalah milik keluarga penguasa shadow economy. Satu di antara enam properti penting di dunia adalah milik shadow economy. Bahkan satu di antara dua belas lembar pakaian, satu di antara delapan telepon genggam, satu di antara sembilan website adalah milik jaringan organisasi shadow economy. Media sosial raksasa tempat banyak orang memposting foto, status, atau aplikasi transportasi online misalnya, itu ada miliki shadow economy—disamarkan lewat startup yang sesungguhnya dimodali oleh keluarga shadow economy. Berapa besar nilai bisnis shadow economy? Nyaris seperempat dari GDP (gross domestic product/produk domestik bruto) dunia.” (hal. 39)

    Total ada delapan keluarga besar shadow economy di dunia. Aturan mereka sederhana: fokus pada bisnis dan kawasan masing-masing, tidak perlu mengganggu keluarga lain. Namun, bisnis tetaplah bisnis. Langit tidak cukup menjadi batas keserakahan manusia.

    Master Dragon selaku penguasa Hong Kong ternyata menghimpun kekuatan untuk  menghabisi Keluarga Tong. Aliansi terbentuk. Keluarga Wong dari Beijing, Keluarga Lin dari Makau, dan El Pacho dari Meksiko turut bergabung. Mereka juga menyewa Sersan Vasily Okhlopkov, sniper terbaik dunia dan Yurii Kharlistov, pembuat bom ternama.

    Keluarga Tong terancam. Atas saran orang-orang kepercayaannya, Bujang berupaya mencari sekutu. Negosiasi dijalankan untuk merebut kepercayaan Keluarga Yamaguchi di Jepang dan Keluarga Krestniy Otets, pimpinan Bratva Rusia. Adapun Keluarga J.J. Costello di Florida tidak pernah ikut berperang. Dibandingkan menguasai Asia Pasifik, mereka lebih suka berekspansi ke Eropa, Amerika, dan Australia.

    Well, di sini tidak ada twist berupa pengkhianatan orang dalam, kok. Tidak seperti di Pulang. Jadi nggak perlu menebak-nebak, hehe.

    Di tengah usaha menstabilkan kawasan Asia Pasifik, Bujang lagi-lagi bertemu hantu masa lalunya. Ia dipaksa mengingat kembali kisah ibunya, Midah dan bapaknya, Samad melalui kehadiran si kakak tiri. Mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di masa lampau melalui sekumpulan surat berisi cerita-cerita yang belum pernah dituturkan siapapun.

    Mampukah Bujang mengalahkan Master Dragon? Siapakah sebenarnya kakak tiri Bujang dan apa alasan di balik kemunculannya yang mendadak? Novel setebal 455 halaman ini siap menjawab itu semua.

    ***
    Bujang Next Level

    Kehadiran Pergi seakan mengobati rindu para pembaca yang bertanya-tanya, “Akankah Tere Liye kembali menerbitkan buku?” Menyusul pernyataan beliau yang memutuskan untuk berhenti dari dunia perbukuan sampai keadilan pajak bagi penulis ditegakkan. Alhamdulillah, novel-novel Tere Liye masih bisa terus dinikmati pembaca.

    Pergi juga seperti menjawab kebingungan saya seusai menuntaskan Pulang. Baiklah, Bujang telah memaafkan masa lalunya, rela memeluk seluruh rasa sakit.

    Tapi sehabis itu, apa? Memang, saya pun tak berharap Bujang bertaubat atau Keluarga Tong tiba-tiba berbisnis syariah dengan menjual gamis dan jilbab. Hei! Pulang bukan novel Islami, meski terselip nilai-nilai moral di sela paragraf-paragrafnya. Hanya saja, ending Pulang masih terasa menggantung—cliffhanger.

    Melalui novel ini, pencarian Bujang atas jati dirinya dimulai. Dia sudah memahami posisinya. Bujang bukan lagi sekadar penyelesai konflik tingkat tinggi, tetapi seorang Tauke Besar! Status barunya mendorong Bujang bertafakkur, “Mau dibawa ke mana Keluarga Tong?”

    Pertanyaan mengenai siapa kita, sekarang ada di mana, dan hendak menuju arah mana merupakan pertanyaan dasar kehidupan. Setiap individu akan mencapai titik untuk bertanya demikian pada dirinya sendiri.

    Selama berabad-abad, manusia bahkan merumuskan sejumlah jawabannya. Membuat teori ini, teori itu. Menyusun konsep ini, konsep itu. Sebuah pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban panjang. Dan itulah yang sedang Bujang pikirkan.

    “…Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa ‘kendaraannya’? Dan ke mana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang. Menemukan jawaban tersebut. ‘Kamu akan pergi ke mana?’, Nak.” (hal. 86)

    Di tengah perseteruan aliansi Keluarga Tong melawan Master Dragon beserta para sekutunya, Bujang terus bergulat dengan batinnya. Ini menarik, sebab pertanyaan rumit nan filosofis di atas tidak dijawab melalui dialog membosankan atau kalimat-kalimat bijak klasik. Tetapi melalui bentangan episode hidup yang panjang.

    Walau demikian, sebagaimana novel Tere Liye terdahulu, Pergi juga memiliki tokoh-tokoh ‘tua’ yang kadang menyampaikan petuah. Kali ini ada Tuanku Imam dan Salonga.

    ***

    Shadow Economy

    Pembaca biasanya memiliki ekspektasi lebih terhadap sebuah sekuel. Begitu juga saya ketika menyeksamai novel ini. Untungnya, Pergi tidak kalah hebat dari Pulang. Tema filosofis mengenai makna hidup disajikan secara apik di tengah dunia shadow economy.

    Apakah shadow economy itu benar-benar nyata?

    Saya tergolong orang yang percaya pada teori konspirasi. Dalam artian, yang tersiar di media sering kali berbeda pada kenyataannya. Kalaupun bukan kebohongan, minimal ada fakta yang disembunyikan. Dari buku How The World Works karangan Noam Chomsky contohnya, kita akhirnya tahu bahwa banyak kericuhan terjadi di negara-negara Amerika Latin karena terdapat campur tangan Amerika Serikat. Yes, they are always in the middle of things. Dan media saat itu tidak memberitakannya.

    Dari Membentangkan Ketakutan-nya Shofwan Al-Banna kita juga memperoleh fakta bahwa program penanggulangan terorisme di seluruh dunia—termasuk Indonesia—berawal dari doktrin keamanan ala Amerika Serikat. ‘With us or against us’, begitu slogannya.

    Hingga hari ini memang tidak ada definisi pasti mengenai shadow economy. Para pakar juga kadang menyebutnya sebagai black economy atau underground economy. Seluruh aktivitas bisnis yang lenyap dari pantauan pajak atau tidak benar-benar tercatat dalam GDP, umumnya dianggap perbuatan shadow economy.

    Hanya saja, dari apa yang kita dapat dalam Pulang dan Pergi, shadow economy tidak sesederhana itu. Dulu mungkin aktivitas ekonomi mereka bergerak di bawah tanah. Tetapi sekarang mereka pun merambah bisnis terbuka.

    Kalau di Indonesia, kasusnya mungkin mirip 9 Naga. Mereka adalah para tokoh yang diyakini menguasai perekonomian negeri ini. Bisnisnya bukan bisnis gelap. Melainkan perusahaan mobil, bank, maskapai, properti, rokok, elektronik, dan masih banyak lagi. Sebagian besar dari apa yang masyarakat pakai sehari-hari adalah produk mereka, dan kadang kita tidak menyadarinya.

    Tema mengenai makna hidup dan shadow economy, barangkali memang itulah kekuatan dari novel Pergi. Di samping itu, tampak pula keunggulan lain di tengah cerita. Mulai dari adegan pertarungan yang detail, nuansa film action ala Hollywood, penokohan dengan karakter yang seolah hidup di kepala pembaca, hingga deskripsi latar yang tidak berlebihan. Mirip seperti Pulang.

    Ciri Khas Novel Pergi

    Saya juga ingin mengulas sedikit yang menjadi ciri khas Pergi:

    1. Sampul Depan

    Novel ini memiliki desain cover berupa sebuah jalan yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Menggambarkan kondisi kehidupan Bujang dan Keluarga Tong yang kini telah pindah ke Ibu Kota Negara. Sepanjang cerita, Bujang juga kerap bolak-balik ke negara dan kota besar. Daratan Sumatera tidak disebut kecuali sedikit. Bandingkan dengan cover baru Pulang yang melukiskan suasana pedesaan, lengkap dengan pepohonan, rumah sederhana, dan perbukitan. Sebab dari situlah jalan cerita Pulang bermula.

    2. Tanpa Footer

    Bagi saya, footer dalam novel itu sedikit mengganggu. Saya hanya ingin menikmati sampai habis, tanpa dipusingkan oleh istilah rumit yang membutuhkan penjelasan lanjutan. Untungnya, Pergi tidak memiliki itu. Sesekali memang muncul bahasa asing, seperti bahasa inggris, bahasa spanyol, dan jepang. Namun, makna dari setiap kata diterjemahkan langsung dalam dialog.

    “White konsentrasi penuh mengendalikan setir, mobil jip melintasi tumpukan kontainer di halaman stasiun, juga beberapa gantry crane—alat bongkar muat kontainer.” (hal. 30)

    “Maraming Salamat Po Imam, terima kasih atas sambutannya yang ramah.” Salonga balas mengangguk takzim, mereka berdua saling bersalaman. (hal. 81)

    3. Thomas dan Koenraad Philips

    Siapa mereka berdua?

    Sebelum novel Tentang Kamu terbit, Tere Liye pernah bilang bahwa beliau hendak membuat sejumlah eksperimen. Salah satunya crossover tokoh. Dan di novel ini, eksperimen itu diterapkan kembali.

    Maka kita akan menemukan tokoh Thomas dari Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk bertemu dengan Bujang. Meski sesaat, tetapi perannya cukup penting untuk menemukan bom di pernikahan anak Keluarga Yamaguchi. Adapun Koenraad Philips, si nahkoda kapal Von Humboldt, bisa kita kira-kira merupakan buyut dari Kapten Philips dalam novel Rindu berdasarkan keterangan penulis.

    “Nama lengkap nahkoda itu adalah Koenraad Philips. Ayahnya seorang nahkoda, kakeknya seorang nahkoda, ayah dari kakeknya pun seorang nahkoda terkenal di era 1930-an. Dia mewarisi darah pelaut tangguh, sekaligus mewarisi nama keluarga ‘Philips’.” (hal. 382)

    Siapa tahu nanti Soke Bahtera dari Hujan bisa bertemu si jenius Ali dari serial Bumi, hehe.

    Sedikit Kekurangan

    Sayangnya, dengan segala keunggulan itu, Pergi tetap tidak bisa lepas dari kekurangan. Di antaranya:

    1. Typo

    Hampir tidak ada buku yang ‘bersih’ seratus persen, sedikit kesalahan ketik dianggap wajar. Namun bagi novel yang sudah masuk cetakan keempat, harapan pembaca tentulah tinggi. Kesalahan ketik paling parah menurut saya terletak pada header berikut. Lokasinya terlalu menonjol untuk terlewat saat pengecekan.

    2. Inkonsistensi penulisan

    Contohnya, penulisan gelar panggilan orang Jepang pada kata “Hiro-san”. Terkadang diketik menggunakan huruf miring (Hiro-san), kadang diketik biasa saja (Hiro-san).

    Secara subjektif, saya menilai ada perbedaan mendasar antara Pulang dan novel Pergi. Meski masih membahas shadow economy, novel Pergi lebih diwarnai nilai-nilai filosofis kehidupan. Adegan pertarungannya lebih sedikit dibandingkan novel Pulang. Terlebih, beberapa adegan tampak ganjal. Salah satunya pada bagian Interogasi Tingkat Tinggi. Cukup mengherankan Bujang bisa menebak isi kepala orang hanya melalui ludahan dan dengusan. Alangkah lebih masuk akal apabila Bujang, misalnya, membaca mikro ekspresi selayak interogasi-interogasi dalam serial TV Lie to Me atau The Mentalist.

    Di luar itu semua, kelanjutan kisah Bujang masih layak dinantikan. Di samping itu, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Siapakah sebenarnya sosok Yurii Kharlistov? Rencana apa yang akan dibuat kakak tiri Bujang terhadap seluruh keluarga penguasa shadow economy? Ke mana Bujang sesungguhnya akan pergi setelah turun dari tahta Keluarga Tong? Bahkan, apakah Bujang akan menikah? Hehe. Ujung dari pengembaraan ini patut ditunggu!

    “Cerita-cerita dongeng memang fiksi, tapi inspirasi yang ditimbulkan jelas nyata.” (hal. 128)

    Judul: Pergi
    Penulis: Tere Liye
    Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
    Tebal: iv+455 halaman; 13.5 x 20.5 cm
    Cetakan: IV, Juni 2018
    Nomor ISBN : 978-602-573-405-2

    komet-komet-minor

    Mencari Kekuatan Terbaik di Dunia Paralel

    Posted on February 10, 2023February 2, 2023 by admin

    Di antara tokoh Harry Potter lainnya, mungkin Luna Lovegood adalah salah satu favorit saya. Dalam film, ia pernah bercakap dengan Harry, “Well, if I were You-Know-Who, I’d want to you to feel cut off from everyone else. Because if it’s just you alone, you’re not as much of a threat.”

    Persahabatan barangkali tema yang sudah basi. Tapi tidak bagi Tere Liye. Melalui imajinasinya yang liar, ia mampu mengangkat tema klise ini dalam dunia fantasi yang penuh petualangan seru. Bahkan menjadikan “persahabatan” sebagai kunci pembuka pintu keluar bagi masalah-masalah yang dihadapi para tokohnya.

    Inilah kisah tentang persahabatan itu. Tentang Raib, Seli, dan Ali. Tentang perjuangan yang mendekati titik akhir dalam novel Ceros dan Batozar, Komet, serta Komet Minor.

    GAMBARAN CERITA

    Ceros dan Batozar

    Novel satu ini merupakan spin-off dari Serial Bumi. Berada di urutan 4.5, antara Bintang dan Komet. Di dalamnya terdapat dua cerita, yakni ketika Raib dan kawan-kawan berhadapan dengan sepasang Ceros (Badak) serta saat mereka diculik oleh Batozar.

    Sepasang Ceros tersebut tak lain ialah Ngglanggeran dan Ngglanggeram, penduduk Klan Aldebaran di dunia paralel. Mereka terkurung di bawah bangunan kuno Bor-O-Bdur. Bila malam tiba, keduanya akan berubah menjadi monster badak yang menghancurkan apa pun di sekelilingnya. Satu-satunya alat yang mampu mengontrol perubahan tersebut hanyalah Sarung Tangan Bumi milik Ali, atau lebih tepatnya kepunyaan mereka yang dicuri Si Tanpa Mahkota ribuan tahun lalu. Di akhir cerita, mereka memutuskan untuk tetap berada di perut bumi. Lantas mengembalikan sarung tangan itu ke Ali. Sebuah pengorbanan yang tulus.

    Adapun Batozar Sang Pengintai adalah tahanan Klan Bulan yang kabur untuk menculik Raib. Sebagai seorang Putri Bulan, Raib sebenarnya memiliki kekuatan berbicara dengan alam hingga sanggup memutar kembali kenangan masa lalu. Batozar ingin sekali melihat wajah istri dan anaknya, yang ia hampir lupakan setelah 100 tahun lamanya. Sehabis kekuatan Raib tersebut berhasil dikeluarkan, Batozar kabur menggunakan teknologi portal cermin.

    Si kembar Ngglanggeran dan Ngglanggeram serta Batozar akan muncul lagi dalam Komet Minor.

    Komet

    Berbeda dengan empat novel sebelumnya, novel kelima Serial Bumi ini tidak berlama-lama membuka cerita. Hanya dalam dua bab, Raib dan kawan-kawan segera diundang menuju Klan Matahari untuk menghadiri penutupan Festival Bunga Matahari di dunia paralel. Tepat ketika bunga matahari pertama sedikit lagi mekar. Si Tanpa Mahkota beserta pasukannya diperkirakan akan memanfaatkan kekuatan bunga tersebut untuk membuka portal menuju Klan Komet.

    Pertempuran besar meletus di tengah-tengah stadion Kota Ilios. Namun, Si Tanpa Mahkota berhasil melompat ke dalam portal. Sebelum portal tertutup rapat, Raib dan kawan-kawan menyusulnya.

    Raib, Seli, dan Ali terjebak di gugusan pulau bernama Komet. Bersama Max Si Nahkoda, mereka bertualang dari Pulau Hari Senin hingga Pulau Hari Minggu. Setibanya di pulau terakhir, mereka diuji oleh Paman Kay dan Bibi Nay. Raib dan kawan-kawan pun berhasil masuk ke dalam portal menuju Komet Minor. Sayangnya, Max berkhianat.

    Komet Minor

    Max alias Si Tanpa Mahkota menahan Raib dan kawan-kawan untuk masuk menuju Klan Komet Minor. Saat itulah, Batozar muncul dari portal cermin. Seorang sekutu dan teman perjalanan yang cukup tangguh menandingi Si Tanpa Mahkota.

    Berkeliling di Komet Minor, mereka berempat mengejar waktu demi mengumpulkan kepingan tombak pusaka. Mulai dari bertemu Tuan Entre, Arci, Lady Oopraah alias Kulture, hingga Finale. Pengorbanan dan perjuangan yang lebih berat terasa kental dalam novel ini.

    Sanggupkah mereka mencegah Si Tanpa Mahkota memperoleh tombak pusaka tersebut dan menjadi petarung terkuat di dunia paralel?

    KEUNIKAN KARAKTER

    Tokoh utama dalam ketiga novel ini masih berpusat pada Raib, Seli, Ali, dan Si Tanpa Mahkota. Terdapat beberapa tambahan, semisal Ngglanggeran, Ngglanggeram, serta Batozar dalam Ceros dan Batozar, yang lalu muncul kembali dalam Komet Minor. Dalam Komet, pembaca bisa bertemu dengan Paman Kay dan Bibi Nay. Adapun Tuan Entre, Arci, Lady Oopraah alias Kulture, dan Finale menjadi tokoh kunci di novel terakhir.

    Jangan lupakan juga cameo ST4R dan SP4RK yang berasal dari konstelasi Proxima Centauri. Nanti akan ada bukunya tersendiri, loh.

    Uniknya, saya jadi berpikir, pemilihan nama-nama tokoh dalam serial ini seperti bukan kebetulan. Contohnya Raib, sesuai namanya, ia bisa menghilang. Seli biasanya dipakai sebagai bentuk pendek dari Selena yang bermakna seseorang berkepribadian menarik, sesuai karakter dalam novelnya yang selalu tampak ceria bahkan sering melakukan hal yang tak terduga. Ali yang punya pukulan beruang barangkali terinspirasi dari sosok legenda tinju M. Ali, sedangkan kepandaiannya mungkin diambil dari sahabat Rasul Ali bin Abi Thalib yang dijuluki gerbang ilmu pengetahuan.

    Nama Entre bisa jadi dipilih karena pembuka bagi pencarian benda pusaka di Komet Minor. Arci menggambarkan kemampuan memanahnya, Kulture melukiskan profesinya sebagai budayawan dan ahli sejarah, serta Finale merupakan akhir dari pencarian benda pusaka sekaligus akhir dari perlawanan Si Tanpa Mahkota.

    Sebagaimana biasanya, Tere Liye juga menghadirkan tokoh-tokoh bijak dalam novelnya. Bila sebelumnya kita berkenalan dengan Av atau Faar, kali ini ada Paman Kay dan Bibi Nay.

    “…Aku juga bisa menghentikan banyak kerusakan di dunia sekarang juga, tapi membiarkan kalian belajar, tumbuh dengan hati yang jernih, akan membawa lebih banyak kebaikan bagi dunia paralel.” (Komet, hal. 365)

    KEKUATAN RISET

    “Karya fiksi yang kuat adalah yang didukung dengan riset mendalam,” ujar Bernard Batubara. Kekuatan riset sulit dihilangkan dalam banyak novel Tere Liye, sebut saja Tentang Kamu, Pulang, Pergi, dan masih banyak lagi. Melalui riset yang mendalam, pembaca benar-benar yakin bahwa Tere Liye sungguh mengetahui apa yang ia tulis, meskipun menggunakan jasa co-author.

    Dalam dunia paralel Serial Bumi pun demikian. Salah satunya mengenai pemilihan nama yang sudah dibahas di atas. Selain itu, tampak juga dalam pemilihan kata-kata yang terlihat sepele. Contohnya, kata binjak yang berarti “kembar” menurut Klan Aldebaran. Aslinya, kata tersebut memang ada. Bahasa Albania yang berarti “kembar” pula.

    “Kembar? Oh, maksud kalian binjak? Iya, kami memang kembar. Binjak.” Ngglanggeran tersenyum. (Ceros dan Batozar, hal. 67)

    Gugusan bintang sebagai penunjuk arah, fenomena fisika, dan sejumlah fakta biologi tentu hasil lain dari riset yang kuat.

    “Inilah pohon coco de mer. Spesies langka dari tumbuhan kelapa, tumbuh di Kepulauan Seychelles, Laut India. Tinggi pohonnya bisa mencapai 25-34 meter, dengan buah raksasa seberat 15-30 kilogram. Inilah buah dengan biji terbesar di seluruh bumi.” (Komet, hal. 15)

    “…Kalian tahu burung albatros di dunia kita? Nah, burung itu bahkan terbang sambil tidur. Silakan cari tahu sendiri jika kalian tidak percaya…” (Komet Minor, hal. 48)

    ULASAN ALUR

    Seluruh novel dunia paralel Serial Bumi memiliki plot yang terus merangsek maju, tanpa menyediakan tempat sedikit pun pada kilas balik. Sudut pandangnya masih ada di tangan Raib. Walaupun memakai sudut pandang orang pertama, Raib sering tampak tahu segala hal. Di antaranya tinggi orang, lebar kapal, maupun jam berapa sekarang. Tetapi karena Tere Liye menampilkannya secara konsisten, kita bisa anggap itu sebagai gaya menulis beliau.

    Di tiga novel ini juga unsur gimmick berupa komedi serta sedikit romance antara Raib dan Ali yang membuat cerita terasa lebih renyah.

    Yang menarik, bagi saya, setiap novel seolah menonjolkan sisi-sisi lain dari Raib, Seli, maupun Ali.

    Dalam cerita Ceros, karakter Ali ditampilkan cukup dominan. Terutama ketika ia meikhlaskan sarung tangannya bahkan rela menggantikan si kembar untuk terkurung di bawah Bor-O-Bdur.

    Dalam cerita Batozar, Raib secara sabar meladeni Batozar hingga mengerahkan seluruh tenaga untuk mengeluarkan kekuatan tersembunyi yang dimilikinya.

    Dalam cerita Komet, giliran Seli datang. Karakter yang tahan banting dan setia menemani kedua temannya. Ia sampai tidak makan demi menyuplai tenaga bagi Raib dan Ali saat mereka terjebak di tengah lautan menuju Pulau Hari Minggu.

    Sementara itu, persahabatan mereka semakin diuji kala berada di Klan Komet Minor. Terlebih, ketika Seli hampir mati. Di situlah pengorbanan dan perjuangan menemukan titik klimaksnya.

    Di samping itu semua, ada sebagian Plot Hole yang bikin saya sedikit kesal alias gregetan.

    Pertama, ketika Ali naik ke atas panggung Lady Oopraah untuk berbicara mengenai keluarga sembari mengangkat kisah seorang anak yang lahir di tengah lautan, kemudian hidup bersama para pembantu dengan ilusi kedua orang tuanya bekerja di luar negeri. Apakah itu benar-benar kisah hidup Ali atau ia hanya mengada-ada? Saat Seli menanyakannya pun, Ali tidak ingin menjawabnya sambil memasang wajah ketus. Duh, penasaran, nih!

    Belum lagi pengakuan Si Tanpa Mahkota bahwa Ali adalah keturunannya. Boleh nih kalau ada novel spin-off khusus buat Ali.

    Kedua, orang tua kandung Raib yang belum terjawab hingga akhir novel. Saya kira teka-teki itu akan terkuak, tapi ternyata dibahas di novel selanjutnya, Nebula. Hfft, harus sabar nunggu lagi, deh!

    ENDING KURANG NENDANG

    Bagian ini yang membuat saya sedikit kurang puas. Saya membayangkan sebuah perang akbar terjadi di akhir novel. Ketika Si Tanpa Mahkota, Tamus, Fala-tara-tana IV beserta pasukannya melawan Raib dan kawan-kawan ditambah koalisi armada tempur tiga klan. Layaknya serangan besar-besaran yang dilancarkan sekutu Voldemort saat menyerang Hogwarts.

    Sayangnya, ekspektasi saya tidak terwujud. Pertempuran semacam itu justru hanya terjadi sekilas, yaitu tatkala Si Tanpa Mahkota hendak membuka portal menuju Klan Komet.

    Formasi Makhluk Cahaya juga ternyata tidak cukup kuat untuk menandingi Si Tanpa Mahkota. Saya kira, inilah jurus pamungkasnya. Terakhir, Si Tanpa Mahkota malah kalah karena kebodohannya. Memang sih, semua itu karena jasa kejeniusan Ali. Tapi, kekuatan persahabatan yang sering dikatakan sebagai kekuatan terhebat di dunia paralel, seolah menemukan titik anti-klimaks.

    PERSAHABATAN DAN HARAPAN

    Selain quote Luna Lovegood di awal tulisan ini, Dumbledore juga pernah berkata dalam Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, “It takes a great deal of bravery to stand up to your enemies. But a great deal more to stand up to your friends.”

    Genre fantasi dengan nilai-nilai persahabatan hampir selalu laku di pasaran, meski tampak klise. Lihat saja serial Harry Potter, Hobbit, The Lord of The Ring, Maze Runner, atau Hunger Games. Film pun demikian. Tidak terkecuali komik atau anime Jepang semacam Naruto dan One Piece.

    Di serial inilah, termasuk tiga novel yang tengah dibahas, nilai-nilai persahabatan tersebut bermekaran di dunia paralel. Bak jamur di musim hujan. Saya juga suka bagaimana Tere Liye memilih tidak “mengakhiri hidup” Si Tanpa Mahkota. Ia kalah, justru oleh pemaafan dari Raib. Ibarat Talk no Jutsu Naruto yang hampir selalu berhasil menyelesaikan masalah-masalah besar, tanpa harus menghabisi musuhnya.

    Bukankah banyak konflik di dunia ini yang sebenarnya bisa selesai karena komunikasi?

    Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya yakin para pembaca pasti ingin serial ini diangkat ke layar lebar. Harapannya Hollywood bisa ambil alih. Kalau diambil produser dalam negeri, khawatir kejadian dalam film Hafalan Shalat Delisa terulang. Tahu kan ya, bagaimana kualitas CGI dalam film tersebut?

    Tidak perlu sebagus Harry Potter atau The Lord of The Ring, minimal efek-efek yang tersaji tidak merusak mata, hehe.

    Dan…tolong dong seseorang membuat fan art Raib, Seli, dan Ali. Penasaran deh melihat wajah dan tubuh mereka kalau digambar akan bagaimana jadinya. Ada yang minat?

    “…Ketahuilah, bukan teknik bertarung, bukan menghancurkan gunung-gunung kekuatan terbaik dunia paralel, melainkan persahabatan. Selalu berusaha menjadi orang yang baik dan berani.” (Ceros dan Batozar, hal. 124)

    Judul: Ceros dan Batozar
    Penulis: Tere Liye
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Tebal: 376 halaman
    Cetakan: I, Mei 2018
    Nomor ISBN: 978-602-038-5914

    Judul: Komet
    Penulis: Tere Liye
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Tebal: 384 halaman
    Cetakan: I, Mei 2018
    Nomor ISBN: 978-602-038-5938

    Judul: Komet Minor
    Penulis: Tere Liye
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Tebal: 376 halaman
    Cetakan: II, Maret 2019
    Nomor ISBN: 978-602-062-3399

    • 1
    • 2
    • Next

    Recent Posts

    • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
    • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
    • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
    • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
    • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

    Recent Comments

    1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
    2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
    3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

    Archives

    • August 2025
    • July 2025
    • October 2023
    • September 2023
    • August 2023
    • March 2023
    • February 2023
    • January 2023

    Categories

    • Books
    • Lifestyle
    • Thoughts
    © 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme