HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu

Bisakah Metode Tafsir Hermeneutika Diterapkan Pada Al-Quran?

Posted on January 8, 2023January 8, 2023 by admin

Hikmah adalah barang yang sangat berharga. Senilai harta karun. Dan kita bisa menyerapnya dari manapun.

Namun, muslim yang baik tentu hanya mengambil yang baik pula, bukan? Termasuk tiap hikmah yang kita ‘impor’ dari luar khazanah Islam kita yang begitu megah. Tidak asal memungut hikmah yang tercecer tersebut. Tidak serta-merta menolak atau menerima tanpa curiga.

Sebagai contoh, hermeneutika yang dewasa ini sedang marak digunakan sebagai ‘manhaj tafsir alternatif’. Bahkan menjadi mata kuliah khusus di berbagai perguruan tinggi.

Apa yang Dimaksud Hermeneutika?

Secara etimologi istilah “hermeneutics” sebenarnya berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti ‘hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan.

Dalam karya logika Aristoteles, kata “hermeneias” berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.

Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah ‘interpretatio’ untuk tafsir, bukan ‘hermeneusis’. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul “De optimo genere interpretandi” (Tentang bentuk penafsiran yang terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis “De interpretatione divinae scripturae” (Tentang penafsiran Kitab Suci).

Adapun pembakuan istilah ‘hermeneutics’ sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, ‘hermeneutics’ biasanya dikontraskan dengan ‘exegesis’, sebagaimana ‘ilmu tafsir’ dibedakan dengan ‘tafsir’. (Lihat CAP Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen).

Pada perkembangannya, hermeneutika digunakan para teolog Kristen untuk memahami teks-teks Bibel dengan satu pertanyaan: apakah Bibel termasuk kalam Tuhan atau kalam manusia?

Karena setidaknya ada 3 masalah yang dimiliki Bibel (yang tentunya tidak ada dalam Al-Quran); masalah otentisitas teks, segi bahasa, dan isinya.

Gerakan penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan suatu teks telah dimulai sejak abad 18 Masehi seiring gerakan reformasi yang diluncurkan Martin Luther di Jerman. Mulanya para teolog Protestan ketika itu mengklaim bahwa setiap orang berhak menafsirkan Bibel, asalkan tahu bahasa dan konteks sejarahnya.

Asumsi dan Konsekuensi

Dengan sejarah dan definisi seperti di atas, kata DR. Syamsudin Arif dalam buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, hermeneutika jelas mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.

Pertama, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama. Asumsi ini lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bibel. Campur tangan manusia di dalamnya ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan.

Apabila digunakan pula pada Al-Quran, maka kitab ini tidak akan dianggap sebagai Kalamullah, akan dipertanyakan otentisitasnya, dan pada gilirannya akan menggugat kemutawatiran mushaf Utsmani.

Kedua, hermeneutika menganggap semua teks sebagai ‘produk sejarah’. Asumsi yang lahir mengingat kasus sejarah Bibel yang problematika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru).

Sedangkan Al-Quran merupakan kitab yang kebenarannya melintasi batas waktu dan ditujukan bagi seluruh umat manusia.

Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptik, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya. Sikap semacam ini jelas hanya cocok bagi Bibel yang telah banyak gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin), memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi.

Tetapi tidak bagi Al-Quran yang jelas kesahihan transmisinya hingga menjadi mushaf.

Metode hermeneutika, selain itu, juga menghendaki pelakunya menganut relativisme epistemologis.

Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks zaman dan tempat tertentu.

Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, paham ini juga akan melahirkan mufassir gadungan, liar, dan sesat lagi menyesatkan.

Menurut DR. Syamsuddin Arif sendiri, hermeneutika lebih tepat dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah. Metode ini bukan ‘tidak bisa’ digunakan pada Al-Quran, namun ‘tidak sesuai’. Karena perkara ini lebih menyangkut dampak dan hasil, ketimbang hukumnya.

Sebagai penutup, kita simak apa yang pernah disampaikan Josef van Ess, profesor emeritus dan pakar sejarah teologi Islam Universitas Tuebingen, Jerman:

“We should, however, be aware of the fact that German hermeneutics WAS NOT MADE FOR ISLAMIC STUDIES as such. It was originally a product of Protestant theology. Schleiermacher applied it to the Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with German literature and antiquity. When such people say ‘text’ they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato’s dialogues, a poem by Holderlin. This is not necessarily so in Islamic studies.”

Category: Thoughts

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
  • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
  • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
  • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
  • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Recent Comments

  1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
  2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
  3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Archives

  • August 2025
  • July 2025
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023

Categories

  • Books
  • Lifestyle
  • Thoughts
© 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme