HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu

Tag: opini

Islam dan Penyerahan Diri Kepada Allah, Tadabbur Qs. Ali Imran: 18-20

Posted on January 13, 2023January 10, 2023 by admin

Pada tanggal 11 Mei 2003, Harian Jawa Pos memuat wawancara yang dilakukan Ulil Abshar Abdalla kepada Budhy Munawar Rahman.

Tokoh JIL yang juga dosen Univeritas Paramadina itu mengatakan, “…inti keberagaman itu kan kesadaran Tuhan. Kosa kata “din” dalam bahasa Arab itu sendiri berarti ketundukan dan keterikatan kepada Tuhan. Kata Islam juga bisa dikembalikan kepada maknanya yang generik, yang asal, artinya, kepasrahan dan ketundukan…”[1]

Begitulah pemahaman kelompok liberal mengenai ayat “Inna ad-dina indallahi al-Islam.”

Dengan begitu makna ayat tersebut bukanlah, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.” Tetapi menjadi, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah kepasrahan atau ketundukan (Submission).”

Pemahaman ini mendorong para penganutnya untuk menganggap bahwa semua agama sama saja. Banyak jalan menuju Tuhan. Asal ada rasa kepasrahan dan ketundukan (submission).

Tetapi tidak jelas, kepasrahan apa yang dimaksud. Bagaimana bentuknya dan kepada siapa.

Tafsir Ayat

Agar memaknai ayat ini lebih, minimal kita menengok kembali penafsiran para ulama serta melihat ayat sebelum dan sesudahnya untuk mencari munasabah (hubungan) antarayat.

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.

Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.

Siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.’

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’

Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali Imran: 18-20)

Sebelum Allah menyatakan Islam sebagai agama yang hanya diridhai-Nya, Allah memproklamirkan keesaan-Nya. “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan…”

Pernyataan ini diiringi oleh kesaksian para malaikat dan para ulama. “…Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian itu)…”

Lalu Allah menguatkan lagi (taukid) pernyataan tersebut pada kalimat berikutnya. “…Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…” Al-Aziz Yang Mahaperkasa, Yang keagungan dan kebesaran-Nya tidak dapat dibatasi, lagi Mahabijaksana dalam semua ucapan, perbuatan, syariat, dan takdir-Nya.[2]

Setelah mendapatkan wahyu ini, Rasulullah Saw. pun mengucapkan, “Dan aku termasuk salah seorang yang mempersaksikan hal tersebut, ya Tuhanku.”[3]

Pada ayat selanjutnya, Allah mengabarkan bahwa tidak ada agama (din) yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dimaksud dengan Islam yaitu mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah Swt. di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad Saw. yang membawa agama, menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang ditempuhnya.

Karena itu, siapa yang menghadap kepada Allah—sesudah Nabi Muhammad Saw. diutus—dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah.[4]

“Siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya…” (Qs. Ali Imran: 85)

Kepasrahan dan Ketundukan

Mengacu ilmu ushul fiqh, jika sebuah nash syariat terdapat lafal yang bermakna ganda (musytarak)—antara makna bahasa dan makna syariat—maka yang harus digunakan adalah makna syariat.[5]

Meski Islam secara bahasa bermakna keselamatan, ketundukan, kepasrahan, dan sebagainya, namun makna ini harus digugurkan. Makna Islam harus dikembalikan kepada syariat.

“Dan siapakah yang lebih baik agama (din)-nya daripada orang yang menyerahkan (aslama) dirinya kepada Allah…” (Qs. An-Nisa: 125)

Syaikh Naquib Al-Attas menegaskan, “Menurut Kitab Suci Al-Quran manusia tidak dapat terlepas dari hidup dalam suatu din, karena semuanya berserah diri dan patuh (aslama) kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, istilah din dipakai juga untuk agama-agama lain selain Islam.

Namun, yang membuat Islam berbeda dari agama-agama lain itu adalah bahwa penyerahan diri menurut Islam adalah penyerahan diri yang tulus dan menyeluruh kepada kehendak Allah, dan ini dijalankan dengan sepenuh hati dengan ketaatan secara mutlak terhadap hukum yang diwahyukan oleh-Nya.[6]

Islam menjadi din yang mengikuti millah Nabi Ibrahim. Sebab itu, para nabi dan rasul serta para pengikutnya dianggap sebagai Muslim.

Meskipun perwujudan Islam dalam bentuknya yang sempurna baru ada di masa Nabi Muhammad Saw. Agama mereka termasuk hanif dan disebut dengan din al-qayyim. Ajarannya bersumber dari wahyu Allah tanpa perubahan sedikit pun.

Sedangkan agama-agama lain mengembangkan sistem atau bentuk penyerahan dirinya yang didasarkan pada tradisi-tradisi kebudayaan mereka sendiri.

Tradisi-tradisi tersebut tidak bersumber dari millah Nabi Ibrahim. Para Ahli Kitab pun tidak disebut memiliki din yang benar, walaupun ajarannya mencampurkan kebudayaan mereka dan wahyu Allah.

Mereka tidak berserah diri dengan tepat, justru memilih menyerahkan diri dengan cara mereka sendiri.

Banyak metode penyerahan diri yang justru bertentangan dengan yang diperintahkan oleh-Nya.

Penyerahan diri yang sejati adalah yang telah disempurnakan oleh Nabi Saw. sebagai teladan bagi manusia. Karena penyerahan diri tersebut merupakan bentuk penyerahan diri dari semua nabi dan rasul sebelum beliau. Penyerahan diri yang diridhai, diwahyukan, dan diperintahkan kepada Allah.[7]

Setelah mengabarkan hal ini, Allah melanjutkan firman-Nya, “…Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka…”

Allah menyebut perselisihan yang dilakukan oleh golongan Ahli Kitab, padahal sebelumnya telah diturunkan kebenaran melalui nabi dan rasul-Nya.

Mereka dipenuhi rasa dengki, benci, dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kedengkian ini membuat mereka tak segan menentang orang lain, meski orang tersebut benar.

”…Siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya…”

Maka siapa pun yang ingkar dengan apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya, tersedia balasan baginya. Siapa yang tidak menyerahkan dirinya dengan benar, ketahuilah bahwa hisab Allah sangat cepat.

Sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaan itu. Allah juga akan menghukumnya akibat ia menentang kitab-Nya.[8]

“…Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.’…”

Jika ada yang mendebat kita dengan kebenaran, ada yang mendebat kita mengenai masalah tauhid, balaslah dengan perkataan yang sederhana. Katakanlah aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri.[9]

Atas kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah, Dia pun memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya untuk menyeru orang-orang Ahli Kitab dan orang-orang ummi dari kalangan musyrik agar masuk Islam dan mengamalkan apa yang Allah turunkan.

Tidak mungkin perintah ini muncul, kecuali Islam adalah agama yang benar, sedangkan yang lainnya salah.

“…Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’

Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

Tidak ada paksaan bagi Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Allah-lah yang Maha Melihat hamba-Nya. Mana yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan.

Islam, Agama yang Diterima Allah

Dengan memahami ayat-ayat ini, telah jelas bagi kita mana agama yang diterima di sisi-Nya dan makna penyerahan diri yang sebenarnya.

Atas hikmah dan rahmat-Nya, risalah Nabi Muhammad Saw. adalah satunya-satunya yang murni dan ditujukan umum bagi seluruh makhluk.

Penyerahan diri sejati ialah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw. sehingga melahirkan keimanan yang sejati pula. Allahu a’lam. []


[1] Artawijaya, #IndonesiaTanpaLiberal, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012), hal. 41.

[2] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Juz 3, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hal. 311.

[3] Ibid, hal. 311.

[4] Ibid, hal. 314.

[5] Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushul Fikih, (Jakarta: Pustaka Amani, 2003), hal. 257.

[6] Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, (Bandung: PIMPIN, 2011), hal. 78.

[7] Ibid, hal. 80.

[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Juz 3, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hal. 316.

[9] Ibid, hal. 316.

Bisakah Metode Tafsir Hermeneutika Diterapkan Pada Al-Quran?

Posted on January 8, 2023January 8, 2023 by admin

Hikmah adalah barang yang sangat berharga. Senilai harta karun. Dan kita bisa menyerapnya dari manapun.

Namun, muslim yang baik tentu hanya mengambil yang baik pula, bukan? Termasuk tiap hikmah yang kita ‘impor’ dari luar khazanah Islam kita yang begitu megah. Tidak asal memungut hikmah yang tercecer tersebut. Tidak serta-merta menolak atau menerima tanpa curiga.

Sebagai contoh, hermeneutika yang dewasa ini sedang marak digunakan sebagai ‘manhaj tafsir alternatif’. Bahkan menjadi mata kuliah khusus di berbagai perguruan tinggi.

Apa yang Dimaksud Hermeneutika?

Secara etimologi istilah “hermeneutics” sebenarnya berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti ‘hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan.

Dalam karya logika Aristoteles, kata “hermeneias” berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.

Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah ‘interpretatio’ untuk tafsir, bukan ‘hermeneusis’. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul “De optimo genere interpretandi” (Tentang bentuk penafsiran yang terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis “De interpretatione divinae scripturae” (Tentang penafsiran Kitab Suci).

Adapun pembakuan istilah ‘hermeneutics’ sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, ‘hermeneutics’ biasanya dikontraskan dengan ‘exegesis’, sebagaimana ‘ilmu tafsir’ dibedakan dengan ‘tafsir’. (Lihat CAP Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen).

Pada perkembangannya, hermeneutika digunakan para teolog Kristen untuk memahami teks-teks Bibel dengan satu pertanyaan: apakah Bibel termasuk kalam Tuhan atau kalam manusia?

Karena setidaknya ada 3 masalah yang dimiliki Bibel (yang tentunya tidak ada dalam Al-Quran); masalah otentisitas teks, segi bahasa, dan isinya.

Gerakan penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan suatu teks telah dimulai sejak abad 18 Masehi seiring gerakan reformasi yang diluncurkan Martin Luther di Jerman. Mulanya para teolog Protestan ketika itu mengklaim bahwa setiap orang berhak menafsirkan Bibel, asalkan tahu bahasa dan konteks sejarahnya.

Asumsi dan Konsekuensi

Dengan sejarah dan definisi seperti di atas, kata DR. Syamsudin Arif dalam buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, hermeneutika jelas mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.

Pertama, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama. Asumsi ini lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bibel. Campur tangan manusia di dalamnya ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan.

Apabila digunakan pula pada Al-Quran, maka kitab ini tidak akan dianggap sebagai Kalamullah, akan dipertanyakan otentisitasnya, dan pada gilirannya akan menggugat kemutawatiran mushaf Utsmani.

Kedua, hermeneutika menganggap semua teks sebagai ‘produk sejarah’. Asumsi yang lahir mengingat kasus sejarah Bibel yang problematika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru).

Sedangkan Al-Quran merupakan kitab yang kebenarannya melintasi batas waktu dan ditujukan bagi seluruh umat manusia.

Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptik, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya. Sikap semacam ini jelas hanya cocok bagi Bibel yang telah banyak gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin), memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi.

Tetapi tidak bagi Al-Quran yang jelas kesahihan transmisinya hingga menjadi mushaf.

Metode hermeneutika, selain itu, juga menghendaki pelakunya menganut relativisme epistemologis.

Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks zaman dan tempat tertentu.

Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, paham ini juga akan melahirkan mufassir gadungan, liar, dan sesat lagi menyesatkan.

Menurut DR. Syamsuddin Arif sendiri, hermeneutika lebih tepat dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah. Metode ini bukan ‘tidak bisa’ digunakan pada Al-Quran, namun ‘tidak sesuai’. Karena perkara ini lebih menyangkut dampak dan hasil, ketimbang hukumnya.

Sebagai penutup, kita simak apa yang pernah disampaikan Josef van Ess, profesor emeritus dan pakar sejarah teologi Islam Universitas Tuebingen, Jerman:

“We should, however, be aware of the fact that German hermeneutics WAS NOT MADE FOR ISLAMIC STUDIES as such. It was originally a product of Protestant theology. Schleiermacher applied it to the Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with German literature and antiquity. When such people say ‘text’ they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato’s dialogues, a poem by Holderlin. This is not necessarily so in Islamic studies.”

Recent Posts

  • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
  • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
  • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
  • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
  • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Recent Comments

  1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
  2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
  3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Archives

  • August 2025
  • July 2025
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023

Categories

  • Books
  • Lifestyle
  • Thoughts
© 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme