HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu

Category: Review

si-anak-badai

Resensi Si Anak Badai: Persahabatan, Perjuangan, dan Kemenangan

Posted on February 8, 2023February 2, 2023 by admin

Mendung Sebelum Badai

Ada kejadian menarik saat aksi unjuk rasa mahasiswa mengenai Revisi UU KPK beberapa waktu lalu. Yakni hadirnya peserta demo dari kalangan siswa SMA/SMK. Tak pernah kita mendengar anak-anak ini turun ke jalan. Sontak, media dan masyarakat dibuat terheran-heran. Ada yang mengapresiasi, dan tidak sedikit pula yang meremehkan, “Anak sekolah ngerti apa?”

Terlepas dari kontroversi tersebut, sudah sepatutnya kita menyadari bahwa mungkin ada lubang dalam pendidikan negeri ini. Pendidikan kita terlambat membuat mereka dewasa. Seakan menganggap mereka sulit diajak berpikir kritis. Padahal usia remaja, khususnya yang sudah baligh, bukan lagi masa-masa hanya memikirkan diri sendiri. Nurani mereka dapat dipupuk untuk peduli dan ambil bagian dalam memperbaiki negeri.

Buktinya, 2001 silam, lebih dari lima ratus pelajar yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) DKI Jakarta melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia. Aksi bertajuk Pelajar Cinta Damai itu menuntut elit politik agar segera menghentikan pertikaian, meningkatkan SDM guru, menurunkan biaya pendidikan, serta mengembalikan perhatian pemerintah kepada masalah pelajar.

Pendidikan bukan hanya berbicara tentang sekolah. Salah satunya, seberapa besar dan mudah masyarakat mengakses buku bacaan. Di sinilah, menurut saya, terdapat missing link genre buku berdasarkan usia.

Buku anak berserakan di mana-mana. Buku-buku untuk kalangan dewasa, minimal untuk kategori mahasiswa, berlimpah ruah. Namun, buku yang fokus menyasar remaja? Minim sekali jumlahnya. Kalaupun ada, masih didominasi tema percintaan, baik yang berunsur komedi atau berakhir sedih.

Hadirnya Serial Anak Nusantara, terutama Si Anak Badai, barangkali bisa sedikit menambal missing link itu. Melalui novel yang menggugah jiwa ini, kita diajak untuk semakin dekat dengan budaya negeri sekaligus menyadari apa yang sesungguhnya sanggup dilakukan oleh para remaja. Semuanya terangkum dalam tiga kata: persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

***

Badai

Si Anak Badai mengambil latar belakang di Kampung Manowa. Sebuah tempat yang dilukiskan sebagai perkampungan para nelayan. Lengkap dengan rumah-rumah yang berdiri tegak di atas sungai serta jalan-jalan kecil yang terbuat dari papan kayu ulin.

Di dunia nyata, sulit menebak lokasi persis kampung tersebut. Mungkin memang fiksi. Tapi kita tahu, kehidupan nelayan sudah melekat pada sebagian besar penduduk negeri ini. Terlebih, atmosfer Nusantara semakin kental melalui penamaan tokoh seperti Ode dan Ros, penggambaran pasar terapung, dan penggunaan panggilan “Oi!” khas tanah Sumatra.

Oi, Indonesia pun punya pasar terapung ternama. Contohnya yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pasar tersebut dahulu dibangun oleh pedagang-pedagang Melayu. Di Palembang juga ada. Tepatnya di atas Sungai Musi. Berbelanja sembari menikmati kecantikan Jembatan Ampera.

Latar waktunya mungkin sekitar awal 2000-an, sekitar tahun 2002-2003 ketika KPK baru pertama kali dibentuk. Selain ditandai dengan berdirinya lembaga tersebut, pembaca juga dapat menilai dari adegan ibu-ibu penabuh rebana yang menyanyikan lagu khas Nasida Ria. Zaenal pun sempat menyebut tokoh kartun bajak laut yang punya kemampuan memelarkan tubuhnya bak karet. Tokoh yang dimaksud bisa jadi Luffy dari serial kartun One Piece, yang masih boleh tayang di layar kaca pada awal millenium lalu.

   Nenek moyangku seorang pelaut

   Gemar mengarung luas samudra

   Menerjang ombak tiada takut

   Menempuh badai sudah biasa

Tidak ada awal dalam novel ini.

Pembaca segera dihadapkan pada keramaian kampung nelayan melalui tokoh utama Zaenal (sudut pandang orang pertama). Bersama Malim, Ode, dan sejumlah anak lain, mereka berebut mengambil koin yang dilemparkan para penumpang kapal ke atas sungai. Seru, meski tampak berbahaya. Persis sebagaimana aktivitas anak-anak pengumpul koin di Pelabuhan Merak atau Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Cerita terus berpusat pada Zaenal, Malim, Ode, dan Awang. Kelak bocah-bocah yang baru berusia 12 tahun ini disebut Geng Si Anak Badai karena petualangan besar yang berhasil dilewati.

Sepanjang sepertiga buku, hari-hari tampak cerah. Ada kelucuan di tengah omelan Pak Kapten. Terdapat pelajaran kehidupan saat keempatnya berinteraksi dengan Guru Rudi. Hadirnya sedikit tangisan tatkala mengingat kasih sayang Mamak. Muncul pula nuansa keakraban dan semangat gotong-royong dalam beberapa kejadian.

Namun semua perlahan berubah ketika Pak Alex dan Utusan Gubernur datang.

Keduanya merupakan inisiator pembangunan pelabuhan di Kampung Manowa. Sayangnya, rencana pembangunan tersebut hanya diputuskan sepihak tanpa melibatkan warga setempat. Penduduk kampung tentu menolak. Apalagi, tidak ada kejelasan mengenai ganti-rugi dan nasib mereka ke depan.

Apakah pembangunan pelabuhan itu akan terus berlanjut? Bagaimana takdir akan berakhir bagi kehidupan Zaenal, Malim, Ode, Awang, serta penduduk lainnya?

   “Kehidupan terus berlanjut tanpa melihat kita sedang sedih atau gembira.” (Hal. 225)

***

Cahaya Setelah Badai

Selama lebih dari 50 tahun, Weekly Shonen Jump sebagai majalah komik terlaris di Jepang berhasil menginspirasi ribuan hingga jutaan anak muda di sana. Bukan hanya mengasyikkan, sebagian besar komik yang diterbitkan selalu hadir dengan tiga elemen penting: persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

Sebut saja serial Captain Tsubasa, yang akhirnya sukses mendorong remaja-remaja pria di negeri sakura untuk menjangkau mimpinya sebagai pesepak bola kelas dunia. Contoh lainnya serial Naruto, yang bersama teman-teman satu angkatannya berjuang menyelamatkan dunia ninja (shinobi).

Nilai-nilai tersebut tergambar pula dalam novel Si Anak Badai.

Mereka mungkin tidak sampai pergi menyelamatkan dunia. Tetapi Zaenal, Malim, Ode, maupun Awang mengajarkan kita bahwa ratusan kemenangan kecil bisa diraih bersama sahabat-sahabat terbaik, melalui sedikit pengorbanan dan usaha keras.

Kita sering terbuai untuk buru-buru mengubah semesta. Tanpa disadari, banyak langkah kecil yang sebenarnya bisa diwujudkan. Di sekeliling kita. Di lingkungan kita sendiri.

Awang, si pandai berenang, rela telanjang bulat lalu menyelam di bawah sekolah demi mengambil bolpoin kesayangan adik kelasnya. Zaenal tidak mau pulang sebelum selesai memperbaiki kesalahan ukur baju, sebagai bentuk tanggung jawab. Malim yang dipaksa kembali bersekolah oleh ketiga temannya. Hingga petualangan mereka di tengah badai sungguhan dan ketika berupaya menghentikan pembangunan pelabuhan.

Apa pun bisa dicapai, asal ada sahabat terbaik di situ.

Ingat! Mereka semua masih usia belasan tahun. Di umur segitu, saya masih ketagihan main kelereng. Ya begitulah, pendidikan kita terlambat mendewasakan. Alhasil, hari ini sulit rasanya menemukan sosok mirip Usamah bin Zaid yang pada usia 19 tahun telah menjadi panglima perang, membawahi veteran sekelas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Hampir mustahil sepertinya menjumpai anak muda bak Muhammad Al-Fatih yang pada usia 24 tahun berhasil menaklukan benteng Konstantinopel, ibukota dunia pada saat itu.

Pernah menemukan anak kelas 6 SD yang berani menghentikan sebuah proyek besar? Atas nama keadilan. Demi kampungnya tercinta! Demi tanah leluhurnya tersayang!

Kritik Sosial dalam Si Anak Badai

Di sini Tere Liye juga menyajikan secuplik kenyataan pahit. Betapa masih banyak terjadi pembangunan terselubung yang bersembunyi di bawah ketiak modernisasi. Tidak mengindahkan kearifan lokal, dananya pun masuk kantung sendiri. Warga di desa-desa bisa apa? Suara mereka tidak akan didengar. Para pengadil disumpal cuan berjuta-juta.

Kritik sosial semacam ini mengingatkan saya pada buku The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared karangan Jonas Jonasson. Jurnalis asal Swedia itu membawakan kritik pada kegilaan dunia melalui novel komedi yang inspiratif. Konflik yang tersaji tidak sampai membuat kita mengernyitkan dahi. Pembaca hanya akan tenggelam bersama aliran cerita.

Dalam Si Anak Badai sendiri, hanya 9 dari 25 bab yang benar-benar terhubung dengan konflik pembangunan pelabuhan. Sisanya, mempertontonkan kehidupan kampung yang berjalan lambat, akrab, dan saling menolong. Sesuatu yang semakin pudar, khususnya di tengah masyarakat perkotaan. Cenderung egosentris dan kehilangan adab. Sampai-sampai kita mendengar kabar seorang ibu membunuh anaknya sendiri karena depresi oleh ocehan mertua dan tetangga.

Persahabatan, perjuangan, dan kemenangan.

Kita rindu pada remaja-remaja yang peduli pada lingkungannya. Kita rindu pada manusia yang tidak hanya berpikir mengenai dirinya sendiri. Namun sejatinya, kita juga rindu pada diri kita. Pada diri yang terlukis dalam sosok Si Anak Badai.

Judul: Si Anak Badai
Penulis: Tere Liye
Co-author: Saripuddin
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Tebal: 322 halaman
Cetakan: I, Agustus 2019
Nomor ISBN: 978-602-573-4939

sang-pangeran-dan-janissary-terakhir

Resensi Buku Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Posted on February 6, 2023February 2, 2023 by admin

Sejarah adalah milik para pemenang. Adagium itu terlintas dalam lamunan ketika saya tengah mengikuti kelas Sekolah Pemikiran Islam beberapa tahun silam. Tepatnya saat pembicara berpesan, “Hari ini kita kekurangan ahli sejarah. Bayangkan, penelitian mendalam mengenai Pangeran Diponegoro justru dilakukan oleh Prof. Peter Carey, sejarawan yang bukan asli orang Indonesia.”

Tidak banyak yang saya ingat mengenai Sang Pangeran, kecuali kekaguman atas gelarnya yang terdengar islami. Itu pun saya lupa lengkapnya. Sisanya, sayup-sayup terlukis nama Kyai Mojo dan makam leluhur yang terimbas pembangunan jalan sehingga meletuskan Perang Diponegoro.

Barulah belakangan saya tahu, teori yang diajarkan sejak SD itu memang diambil dari arsip-arsip Belanda. Benar, kan? Sejarah memang milik para pemenang.

Lalu, apa yang sebenarnya melatarbelakangi perang pada 1825-1830 itu?

Syukurlah, referensi peradaban tanah air tidak putus sepenuhnya melalui kelahiran novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir. Inilah novel pertama yang ditulis oleh Salim A. Fillah. Walaupun, sebagian dari kita mungkin sudah terbiasa mereguk hikmah dalam buku-buku beliau lainnya, yang banyak menuturkan kisah menakjubkan.

Tentang Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir ditulis menggunakan plot maju-mundur dengan sudut pandang orang ketiga. Sesuai judulnya, novel ini tidak hanya menyoroti Pangeran Diponegoro, terutama menjelang berakhirnya masa perang. Melainkan juga petualangan Nurkandam Pasha dan kawan-kawan yang berusaha membantu atas nama pasukan elit Turki Utsmaniyah, Janissary.

Dari situ kita bisa menebak bahwa Perang Diponegoro bukan perang lokal biasa. Demi mengalahkan pasukan multinasional, tidak cukup bermodalkan semangat kesukuan saja.

Sebagai fiksi sejarah, novel setebal 632 halaman ini menyajikan banyak fakta menarik. Mulai dari latar belakang terjadinya perang, alasan mengapa Janissary harus turun tangan, perseteruan Daendels dan Van den Bosch yang bekerja di bawah dua kekaisaran berbeda, hingga kronologi pengasingan Pangeran Diponegoro.

Riset mendalam, sebagai puzzle yang hilang di banyak novel Indonesia, tersusun apik di dalam novel. Kaya diksi, tanpa harus berputar-putar dan sok menyastra. Pembaca juga bisa lebih mengenal aneka makanan khas dari berbagai negara. Namun, terkadang saya masih bingung dengan beberapa gambaran mengenai deskripsi lokasi maupun bangunan. Ya, mungkin karena baru mendengarnya.

Sisi menarik lainnya, berulang kali kata “Maktub” tertuang di tengah dialog. Ini mengingatkan saya pada masterpiece Paulo Coelho, Sang Alkemis. Keduanya sama-sama mengajak kita menginsyafi diri bahwa segala sesuatunya telah tertulis. Termasuk pecahnya Perang Diponegoro, yang ternyata menggelindingkan bola salju kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagaimanapun, bagi sebagian orang, sebuah novel masih belum kuat dijadikan sebagai referensi sejarah. Tapi kita berdoa dan berharap, dari yang belum sempurna ini mampu mendorong lebih banyak orang untuk mengupas lebih jauh warisan sejarah bangsanya sendiri.

Judul: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Terbit: 2019
ISBN: 978-623-7490-06-7

memory-of-glass-novel

Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh

Posted on February 4, 2023February 2, 2023 by admin

Polisi bilang, aku melaporkan diriku sendiri.
Kata mereka, aku membunuh seorang pria.
Hanya saja… aku tidak ingat.
Aku tidak ingat pernah melapor, apalagi membunuh orang.
Sebenarnya, apa yang terjadi?

Setelah menamatkan Giselle, saya tidak terlalu mengikuti kabar mengenai novel terbaru Akiyoshi Rikako. Buka Instagram Penerbit Haru pun sekadar scrolling. Sampai seorang teman bertanya, “Sudah ikutan pre order Memory of Glass?”

Hah?

Tidak lama kemudian saya mengulik infonya, tapi masih menahan diri untuk membeli. Maklum, harganya lumayan *peace sign. Buah kesabaran memang tidak pernah mengecewakan. Akhirnya beruntung mendapatkan diskonan di Islamic Book Fair 2020, sekaligus belanja novel Murder at Shijinso yang pada tahun 2019 sudah difilmkan.

Apa yang menarik dari Memory of Glass?

***

Ingatan bak Kaca

Seperti biasa, kesan kelam menyelimuti novel-novel karangan cerpenis Yuki no Hana ini. Terlebih, penerbit mendesain sampul berwarna dominasi hitam, lengkap dengan gambar seorang wanita yang memegang pisau di antara pecahan kaca. Atmosfer honkaku mystery yang berisi teka-teki pembunuhan pun semakin membuat bulu kuduk merinding.

Lembar cerita dibuka melalui penuturan Kashihara Mayuko yang tiba-tiba mendapati dirinya berada di rumah sakit. Tetapi ia tidak ingat apa pun. Wanita berusia 41 tahun itu bahkan masih merasa sebagai seorang siswi SMA.

Di tengah kebingungan itu, Kiritani Yuka dan Nomura Junji berdiri di hadapannya. Dua detektif tersebut menjelaskan semua yang terjadi secara perlahan. Termasuk mengenai Mayuko yang melaporkan dirinya telah membunuh seseorang dan penyakit Gangguan Fungsi Eksekutif Otak yang membatasi ingatannya.

Korban bernama Gouda. Pria yang membunuh kedua orang tua Mayuko sekitar dua puluh tahun silam secara sporadis di pinggir jalan Ginza. Mayuko berusaha lari. Malangnya, ia tertabrak mobil yang dikendarai Mitsuharu, yang kini menjadi suaminya. Karena luka di bagian otaknya, ingatan Mayuko ibarat kaca: rapuh, mudah pecah, bahkan hanya bertahan selama 10-20 menit.

Penyelidikan berjalan alot. Padahal tersangka sudah di depan mata, tetapi bukti tidak mencukupi dan nihil saksi mata. Bantuan dari Mitsuharu pun tampaknya kurang memberikan titik terang,

Saat itulah muncul sosok Yonemori Hisae. Kepada kedua detektif di atas, ia menerangkan berbagai kejanggalan selama penyelidikan. Kasih sayangnya yang ingin menyelamatkan Mayuko turut melahirkan kecurigaan pada Mitsuharu. Ia juga tidak segan menyewa Ogio Masamichi, pengacara muda yang namanya cukup dikenal di dunia penggiat HAM.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Mayuko yang mudah lupa itu benar-benar bisa membunuh seseorang? Atau jangan-jangan, ada pihak ketiga? Siapa yang harusnya Mayuko… eh, yang harus pembaca percayai?

***

Dua Sudut Pandang

Alur cerita kali ini berjalan dalam tempo yang agak lambat. Akiyoshi Rikako secara jeli menyusun berbagai kepingan puzzle yang menghadirkan detail-detail kecil kepada pembaca. Berkat penerjemahan yang apik, detail tersebut tidak terasa membosankan. Pembaca lagi-lagi dibuat penasaran, menerka-nerka, sekaligus menata akhir cerita di benaknya sendiri.

Tempo yang lambat ini juga disebabkan karena penulis memakai dua sudut pandang berbeda. Pada satu bab, cerita berpusat di Mayuko dengan sudut pandang orang pertama. Kita bisa ikut merasakan betapa polosnya penderita gangguan otak yang hampir setiap saat harus segera menulis apa yang terjadi di secarik kertas atau tangannya sendiri. Penuh kesedihan, penuh penderitaan.

Lalu pada bab lain, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yang menyoroti kehidupan Kiritani Yuka. Di sela pekerjaan, ia juga harus merawat ibunya yang menderita gangguan otak serupa. Lebih tepatnya demensia tipe Alzheimer.

Plot twist yang tersaji mungkin tidak terlalu mengejutkan. Apalagi kalau sudah membaca Holy Mother. Ekspektasi kita barangkali berlebihan. Meski begitu, ending cerita justru menghangatkan hati hingga meleleh.

Pembaca disentak dengan kenyataan betapa sulitnya merawat orang-orang dengan penyakit seperti Mayuko. Bahkan apabila orang tersebut adalah keluarga kita sendiri, terlebih orang tua. Perilaku mereka seperti anak bayi. Tapi bayi pun punya “masa depan” dan kita hanya harus bersabar beberapa tahun lagi sampai mereka dewasa. Tetapi orang yang sudah tua? Mereka tidak akan tumbuh lagi. Di tengah keputusasaan itu, kita pun harus siap menelan pil pahit kehilangan.

Terima kasih, Sensei. Benar-benar novel yang luar biasa!

“Tidak melakukan apa yang tidak bisa dilakukan itu, tidak buruk dan tidak salah. Tidak ada artinya memaki diri sendiri atau tertekan oleh rasa bersalah.” (h. 345)

Judul: Memory of Glass
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 360 halaman
Cetakan: I, November 2019
Nomor ISBN: 978-623-7351-21-4

girls-in-the-dark

Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Posted on February 2, 2023February 2, 2023 by admin

Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Awal kali saya berjumpa dengan novel ini sekitar tahun 2017 silam. Tepatnya ketika cuci mata di Gramedia Matraman. Dan pertemuan tersebut begitu menggoda. Mulai dari tampilan sampul, ukuran buku yang pas di genggaman tangan, hingga narasi sinopsisnya.

Sayang, dompet saat itu mirip peci: tipis! Tahu sendiri, kan, kalau di Gramedia itu nggak ada diskon. #eh

Syukur ada kesempatan di International Indonesia Book Fair (IIBF) tahun ini. Waktunya hunting buku diskonan berbekal uang hadiah lomba Resensi Pergi Tere Liye (#sombong).

Seperti biasa, booth Penerbit Haru terbilang unik. Di booth yang juga menjual sejumlah aksesoris itu, gelombang kalap sudah tidak bisa dibendung. Tiga buku segera dibungkus mbak-mbak kasir: Girls in the Dark, The Dead Returns, dan Holy Mother dari penulis yang sama.

Beberapa minggu setelahnya, tangan seolah tak sabar membuka Girls in the Dark. Zalim sih sebenarnya. Banyak buku yang dibeli berbulan-bulan lalu, belum dibaca sampai sekarang. Sedangkan ini ada anak kemarin sore datang ke rumah, langsung bertahta di atas singgasana.

Untung mereka nggak bikin demo.

***

Kematian Menggemparkan

Cerita bermula dari kegemparan di SMA Katolik Putri Santa Maria atas kematian Shiraishi Itsumi. Anak pengelola sekolah tersebut bersimbah darah sambil memegang setangkai bunga lily, terlentang di bagian teras seolah jatuh dari lantai atas.

Apakah gadis cantik itu dibunuh? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu.

Seminggu kemudian, enam gadis dari Klub Sastra yang dulu diketuai oleh Itsumi mengadakan pertemuan. Sumikawa Sayuri, selaku wakil ketua, memimpin kegiatan yami-nabe di salon sastra mereka yang berkelas.

Seluruh peserta akan memasukkan bahan-bahan aneh yang mereka bawa ke dalam panci dan semua orang harus memakannya di tengah kegelapan. Bahannya bisa berupa benda yang bisa dimakan maupun tidak, asal tetap higienis. Selama kegiatan berlangsung, masing-masing peserta wajib menulis cerita pendek sekaligus membacakan naskahnya.

Inilah gairah sesungguhnya yami-nabe. Terlebih, Sayuri telah menetapkan tema khusus. “Iya. Tema kali ini adalah kematian Ketua Klub sebelumnya, Shiraishi Itsumi.” (hal. 15)

Siapa sangka, cerita pendek yang mereka buat ternyata berisi analisis siapa yang menjadi pembunuh Itsumi.

Naskah

Naskah pertama: Tempat Berada oleh Nitani Mirei. Murid kelas 1-A itu mengisahkan kehidupannya yang di bawah kecukupan, orang tua yang bercerai, serta kebanggaannya setelah memperoleh beasiswa. Ia juga mendeskripsikan ketakjubkannya pada kebaikan dan keanggunan Itsumi hingga undangan untuk bergabung dengan Klub Sastra, kelompok elit yang tidak semua orang dapat memasukinya.

Di akhir cerita, Mirei melempar tuduhan pada Koga Sonoko sebagai pembunuh Itsumi. Bunga lily mengandung pesan, “Yang membunuhku adalah perempuan dengan harum bunga lily.”

Naskah kedua: Macaronage oleh Kominami Akane. Akane merupakan anak pemilik sebuah restoran Jepang ternama. Ayahnya sendiri yang menjadi koki. Hatinya merasa sakit setelah tahu restoran akan diwariskan kepada kakaknya. Demi terus memupuk semangat, ia pun mulai menekuni masakan Barat.

Dapur salon sastra menjadi dunia kecilnya. Ibarat istana yang dilengkapi bahan masakan kelas satu serta peralatan masak terlengkap dan terbaik di dunia. Walau tersirat, murid kelas 2-B itu menganggap Mirei bertanggung jawab atas kematian Ketua Klub mereka.

Naskah ketiga: Balkan di Musim Semi oleh Diana Detcheva. Seorang gadis yang berasal dari sebuah desa kecil di Bulgaria. Ia dan kakaknya, Ema, menjadi pemandu Itsumi untuk mengelilingi desa sekaligus mengunjungi sejumlah objek wisata bersejarah dalam program semester pendek.

Diana kemudian terpilih sebagai peserta murid internasional karena Ema tiba-tiba mengalami kecelakaan. Sepanjang kehidupannya di sekolah, Diana menemukan fakta bahwa tangan Takaoka Shiyo telah berlumur darah Itsumi.

Naskah keempat: Perjamuan Lamia oleh Koga Sonoko. Anak jurusan IPA, sekelas dengan Itsumi, serta sama-sama bermimpi menjadi dokter. Selain sebagai anggota Klub Sastra, tahun ini ia juga menjabat sebagai ketua perayaan Paskah dan Pantekosta. Super sibuk.

Tetapi berbagai kegiatan tersebut justru mengantarkannya membuat kesimpulan bahwa pembunuh sebenarnya ialah Diana.

“…Darah? Lamia. Tukang sihir. Setan pengisap darah. Hamba iblis…” (hal. 186)

Naskah kelima: Pengibirian Raja Langit oleh Takaoka Shiyo. Bisa dibilang, murid kelas 2-C ini adalah anggota pertama yang direkrut Itsumi. Namanya tersohor sejak merilis novel remaja ringan, Kimi-kage Sou.

Baginya, Itsumi bak kakak idaman. Sebab itu, dirinya menyesal setelah menyaksikan Akane mendorong Itsumi di teras.

Cerita pendek siapa yang dapat dipercaya?

***

Penuh Twist

Secara garis besar, cerpen yang disusun setiap anggota mempunyai pola yang sama. Mendeskripsikan kehidupan mereka, luapan emosi kegembiraan karena bergabung dengan Klub Sastra, kekaguman pada kesempurnaan Itsumi, sampai menyusun teori pembunuhan.

Di sinilah letak kejeniusan Akiyoshi Rikako yang membuat pembaca menerka-nerka hingga akhir bab. Terutama ketika pembacaan naskah keenam oleh Sumikawa Sayuri berjudul Bisikan dari Kubur, cerpen yang ditulis oleh Itsumi sendiri. Loh?

“Ah, sial. Ternyata…”

Saya tidak tahu banyak tentang sastra Jepang, tapi ada ketertarikan untuk membacanya. Novel ini adalah yang kedua, setelah sebelumnya saya menghabiskan Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga). Di lain waktu, mungkin saya ingin menyicipi karya-karya Haruki Murakami. Katanya sih fantasinya di luar nalar.

Sebagai penggemar serial Sherlock Holmes dan detektif-detektif Agatha Christie, Girls in the Dark berhasil menyajikan twist sempurna. Alur yang sulit ditebak, lengkap dengan petunjuk-petunjuk yang membingungkan.

Pembaca pun dibuat terhenyak karena ternyata setiap anggota Klub Sastra memiliki rahasia kelam. Topeng yang menutupi kebusukan hati. Misterinya berjalan lugas, tanpa bumbu thriller atau horor khas negeri sakura. Memang ada beberapa bagian yang salah ketik serta terlalu banyak penggunaan kata ganti “aku”. Sedikit mengganggu, tapi jadi tidak terasa karena gaya bahasa penerjemahannya yang kaya diksi dan membuat cerita mengalir dalam tempo cepat. Perpindahan sudut pandang pada setiap cerpen dibangun sedemikian rupa sehingga pembaca merasakan perbedaan karakter yang cukup dalam.

Novel ini tepat bagi dua orang. Pertama, para pecinta teka-teki. Kedua, mereka yang ingin belajar menguatkan karakter pada tokoh novel atau cerpen.

“Siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang memegang tongkat kekuasaan, siapa yang memilik wibawa… gadis-gadis itu mengendusnya, memilah-milahnya. Dan kalau ada kesempatan, mereka mengincar untuk merebutnya. Begitulah yang saya lihat tentang siswi SMA di Jepang.” (hal. 129)

“Pegang rahasianya, rebut tempatnya berada, dan sudutkan. Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam jiwanya. Tidak ada kepuasan yang melebihi kepuasan itu.” (hal. 227)

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 289 halaman
Cetakan: XII, Januari 2018
Nomor ISBN: 978-6027742-31-4

  • Previous
  • 1
  • 2

Recent Posts

  • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
  • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
  • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
  • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
  • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Recent Comments

  1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
  2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
  3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Archives

  • August 2025
  • July 2025
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023

Categories

  • Books
  • Lifestyle
  • Thoughts
© 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme