HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu

Tag: wahyu Allah

Ketika Nabi Ibrahim Mencari Tuhan

Posted on January 12, 2023January 10, 2023 by admin

Bisakah sebuah kebenaran dicapai tanpa bimbingan wahyu? Bisa jadi bisa.

Bagi para pengagum akal, aktivitas filsafat, berpikir, dan bukti-bukti empiris merupakan sarana mencapai kebenaran.

Bukankah itu pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam?

Dialog dalam Al-Quran

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya.

Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu.

Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya.

Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?”

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-An’am: 75-83)

Ayat-ayat ini menjadi legitimasi bahwa manusia dapat mencapai kebenaran dan pengeahuan mengenai Tuhannya melalui pengamatan terhadap alam semesta.

Sebagaimana Nabi Ibrahim mencari Tuhannya. Beliau ‘alaihis salam seolah sedang berfilsafat, persis ketika para filsuf menanyakan konsep Tuhan, agama, dan dirinya sendiri.

Namun, benarkah demikian?

Penjelasan Tafsir

Padahal dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim dan kitab Qashashul Anbiya’, Ibnu Katsir secara tegas menyatakan bahwa ayat ini menggambarkan perdebatan antara Nabi Ibrahim dengan kaumnya. Lebih tepatnya kepada para penduduk Harran.[1]

Nabi Ibrahim menjelaskan kepada mereka mengenai kekeliruan menyembah bintang-bintang yang beredar.

Di antara semua bintang, ada tiga benda langit yang memiliki cahaya paling terang yaitu matahari, bulan, dan venus.

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (Qs. Al-An’am: 76)

Nabi Ibrahim menjelaskan, Bintang Venus tidak layak dijadikan sebagai Tuhan. Karena ia telah ditundukkan dan ditakdirkan bergerak pada garis edarnya. Ia tidak memiliki kuasa apa pun atas dirinya. Bintang Venus terbit dari timur, beredar menuju barat, lalu menghilang.

“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Qs. Al-An’am: 77-78)

Bulan dan matahari pun sama seperti bintang. Tidak memiliki kuasa atas dirinya. Ia muncul, lalu menghilang kembali.

Lalu Nabi Ibrahim berlepas diri dari sesembahan kaumnya itu. Sebab beliau hanya menyembah Pencipta semua benda-benda itu. Yang mengadakannya, yang menundukkannya, yang menjalankannya, dan yang mengaturnya.[2]

Maka Ibnu Katsir pun bertanya, “Pantaskah bila dikatakan bahwa Nabi Ibrahim menanyakan hal-hal tersebut?

Padahal ia adalah seorang nabi yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firmannya,

“Dan sungguh telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.” (Qs. Al-Anbiya’: 51)

Mustahil bagi seorang Kekasih Allah—yang dijadikan oleh-Nya sebagai panutan umat manusia, taat kepada Allah, cenderung kepada agama yang benar (hanif), dan tidak termasuk orang yang menyekutukan Allah—dianggap sebagai orang yang mempertanyakan hal tersebut.

Bahkan dia orang yang lebih utama untuk memperoleh fitrah yang sehat dan pembawaan yang lurus sesudah Rasulullah Saw. tanpa diragukan lagi.

Yang benar ialah dia dalam keadaan mendebat kaumnya yang menyekutukan Allah Swt. Bukan sebagai orang yang menanyakan hal yang dikisahkan oleh Allah Swt. itu.[3]

Nabi Ibrahim Dibimbing Wahyu

Jadilah Nabi Ibrahim, sebagaimana nabi dan rasul lainnya, seseorang yang mencapai kebenaran dengan bimbingan wahyu.

Bukti empiris dan sains mungkin bisa menjadi sarananya, tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk mencapai kebenaran melalui dua hal tersebut? Sedangkan sains pun senantiasa berubah, tidak absolut, sangat tergantung kepada penelitian-penelitian yang dilakukan manusia.

Sementara itu, kemampuan berpikir manusia pun ada batasnya.

Alhasil, kebenaran yang dicapai hanya bersifat spekulasi, karena ketiadaan arah dan sumber ilmu lain yang bisa digunakan.

Celakanya, mencukupkan diri dengan spekulasi justru disebut dengan berfilsafat.

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra’: 85)


[1] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013), hlm. 216

[2] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz 7, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hlm. 385

[3] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz 7, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hlm. 387-389

Benarkah Nabi Ibrahim Mengajarkan Tiga Agama?

Posted on January 11, 2023January 10, 2023 by admin

Ada salah kaprah di tengah masyarakat mengenai konsep agama samawi (wahyu).

Agama Yahudi, Nasrani, dan Islam dianggap sejajar karena ketiganya merupakan agama-agama yang memperoleh kitab dari Tuhan. Selain itu, ketiganya berasal dari sumber yang satu, yakni Nabi Ibrahim as.

Beliau as. dikisahkan memiliki dua anak: Nabi Ismail as. dan Nabi Ishak as. Dari keturunan Nabi Ismail as., kelak lahirlah Nabi Muhammad Saw. yang membawa risalah Islam.

Sedangkan dari keturunan Nabi Ishak as. lahirlah Nabi Yakub as. (Israel). Anak-anak Nabi Yakub inilah yang kemudian dikenal dengan nama Bani Israel.

Banyak dari kalangan Bani Israel yang Allah Swt. angkat menjadi nabi dan rasul.

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Lut. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), (dan Kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Qs. Al-An’am: 84-87)

Termasuk di dalamnya ialah Nabi Musa as. yang dianggap melahirkan agama Yahudi dan Nabi Isa as. (Yesus) yang dianggap membawa agama Nasrani.

Hingga kini, ketiga agama tersebut masih dikatakan agama samawi. Bersumber dari wahyu Tuhan. Dan dibawa oleh abul anbiya, Nabi Ibrahim as.

Tidak heran kemudian muncul kelompok Gafatar di Indonesia yang mengklaim mengikuti millah Abraham. Lalu benarkah Nabi Ibrahim as. adalah bapak dari ketiga agama tersebut?

Satu Ajaran Nabi Ibrahim dan Lainnya

Kenyataannya, tidak ada satu pun nabi dan rasul yang membawa ajaran baru. Seruan mereka sama dari dahulu hingga masa Rasulullah Saw.

“Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) kepada mereka saudara mereka, Hud. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah…” (Qs. Hud: 50)

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shaleh. Dia berkata,’Wahai kaumku! Sembahlah Allah…” (Qs. Hud: 61)

“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata,’Wahai kaumku! Sembahlah Allah…” (Qs. Hud: 84)[1]

Begitu pula dengan Nabi Ibrahim as. Seruannya ialah mengesakan Allah dan tidak menyekutukannya dengan apa pun.

“Dan (ingatlah) Ibrahim ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya…” (Qs. Al-Ankabut: 16)

“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub, ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Qs. Al-Baqarah: 132)

Meski sama-sama menyerukan ajaran tauhid, namun banyak penyimpangan yang dilakukan oleh Bani Israel. Bahkan walaupun di tengah-tengah mereka ada seorang rasul, tetapi mereka tidak segan-segan berbuat olah.

Di bawah pimpinan Samiri, mereka menjadikan patung anak sapi dari emas sebagai sesembahan (Ilah) saat Nabi Musa as. pergi selama empat puluh hari. Bahkan saat itu ada Nabi Harun as. sebagai penanggung jawab sementara.

“Apabila penyimpangan itu terjadi di kalangan pengikut Rasul, sedangkan Rasul tersebut masih bersama mereka, apatah lagi jika Rasul tersebut masih telah wafat. Karena itu, bukan hal yang aneh jika orang Yahudi mengubah Taurat Musa setelah Musa wafat.”

Allah lalu mengutus Nabi Isa as. kepada Bani Israel dengan membawa Injil untuk meluruskan Taurat yang telah disimpangkan.

Dari sejumlah pengikut Nabi Isa as., terdapat dua belas orang yang menjadi sahabat dan pengikut setia beliau. Mereka ini yang Allah sebut sebagai kelompok Hawariyyun.

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Ali Imran: 52)

“…apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaan-Nya, kamu yang telah mengikuti aku, akan duduk juga di atas 12 tahta untuk menghakimi ke 12 suku Israel…” (Matius: 28)

Namun, sesudah Nabi Isa as. (Yesus) wafat, timbullah berbagai penyimpangan.

Munculnya Paulus

Dalam buku Evolusi Kristen, M.I. Ananias menjabarkan secara panjang bagaimana permulaan agama ini berubah dari Yahudi menjadi bernama Kristen. Adalah Paulus, seorang yang paling keras menentang ajaran Nabi Isa.[2], belum pernah bertemu dengan beliau[3], dan melakukan pembantaian terhadap Yahudi di Jerussalem[4], orang yang paling ‘berjasa’ menciptakan agama Kristen.

Dia mengaku sebagai Rasul dan mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Nabi Isa as. Ketika bersama Barnabas mengunjungi Antiokhia, istilah Kristen diperkenalkan oleh Paulus.

“Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia-lah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” (Kisah Para Rasul: 26)

Pemberian nama ini tentu bukan dari Nabi Isa as. maupun pengikut-pengikutnya yang setia. Tetapi diberikan oleh Paulus untuk para jemaatnya.

Dengan demikian, dialah yang pertama membentuk jemaat Kristen. [5]

Karena kedekatannya dengan Romawi, tidak heran akhirnya pada Konsili Nicea ajaran Paulus mendapatkan legitimasi dari Kaisar Konstantin.

Terciptalah Injil Perjanjian Baru yang banyak memuat ajaran Paulus, paganisme, termasuk pengukuhan bahwa Nabi Isa as. (Yesus) adalah Tuhan.

Penyimpangan Paulus

Setidaknya, ada sebelas penyimpangan Paulus yang bertentangan dengan ajaran Nabi Isa as., bahkan dengan sunnah Nabi Ibrahim as.

  1. Menganggap Yesus sebagai Tuhan.[6]
  2. Mengartikan kata-kata “Bapak” dan “Anak-anak Allah” sesuai makna hakikinya.[7]
  3. Mengingkari hukum Taurat.[8]
  4. Mengingkari perintah sunat.[9]
  5. Menghalalkan khamr.[10]
  6. Mengharamkan makanan halal dan menghalalkan makanan haram.[11]
  7. Mengingkari perintah menyembelih kurban. [12]
  8. Membuat ajaran dosa warisan.[13]
  9. Membolehkan nikah beda agama.[14]
  10. Menjadikan kebangkitan Yesus sebagai pokok keimanan.[15]
  11. Mengarang Injil Paulus.[16]

Dengan berbagai penyimpangan tersebut, jelas sekali bahwa ajaran Yahudi dan Nasrani (Kristen) tidak lagi  cocok disebut agama samawi yang berdasarkan wahyu.

Termasuk tidak tepat juga dinisbatkan kepada Nabi Ibrahim as. Karena jelas, setiap nabi dan rasul menyeru kepada satu hal: mengesakan Allah.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (Qs. Al-Anfal: 30)

“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (Qs. Al-Baqarah: 135)

“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Baqarah: 140)

Agama yang Masih Otentik

Dengan begini, Islam-lah satu-satunya agama samawi yang masih otentik.

Islam tetap mengganggap Yahudi dan Nasrani sebagai ahli kitab.[17] Sebab itu, umat Islam masih diperbolehkan memakan hewan sesembelihan dan menikahi wanita-wanita mereka.

Tetapi secara pokok agama, terdapat garis demarkasi yang tegas perbedaan antara ketiga agama ini. Masihkan tepat kita mengatakan bahwa ketiga agama ini menuju Tuhan yang sama?

Allahu a’lam. []


[1] Surahman Hidayat, Islam, Pluralisme dan Perdamaian (Jakarta: Fikr, 2008), hlm. 75

[2] M.I. Ananias, Evolusi Kristen (Yogyakarta: Gelanggang, 2008), hlm. 53

[3] Ibid, hlm. 54

[4] Ibid, hlm. 56

[5] Ibid, hlm. 70

[6] Ibid, hlm. 79

[7] Ibid, hlm. 83

[8] Ibid, hlm. 96

[9] Ibid, hlm. 108

[10] Ibid, hlm. 112

[11] Ibid, hlm. 116

[12] Ibid, hlm. 120

[13] Ibid, hlm. 131

[14] Ibid, hlm. 134

[15] Ibid, hlm. 138

[16] Ibid, hlm. 142

[17] Surahman Hidayat, Kerukunan Bermasyarakat Dalam Tuntunan Syariat (Jakarta: Rabbani Press, 2012), hlm. 18

Wahyu dan Worldview of Islam

Posted on January 10, 2023January 10, 2023 by admin

Berbicara mengenai Worldview of Islam, sebetulnya mau tak mau kita akan membicarakan worldview dari peradaban lain dan membandingkannya dengan worldview yang dimiliki Islam.

Sebab penyebutan Worldview of Islam (pandangan hidup Islam) sendiri berfungsi untuk mengkhususkan bahwa pandangan ini adalah milik Islam. Menjadi ciri khas agama ini dan tidak dimiliki oleh worldview lain.

Salah satu hal yang membedakan tersebut adalah mengenai konsep wahyu.

Perbedaan Worldview

“Banyak lapisan makna di dalam worldview,” tulis Hamid Fahmi Zarkasyi. “Membahas worldview bagaikan berlayar ke lautan tak bertepi (journey into landless-sea), kata Nietsche. Meskipun begitu, di Barat masalah worldview tetap hanya sejauh jangkauan panca indera.”[1]

Oleh sebab itu, di Barat orang-orang membahas worldview hanya berdasarkan pendekatan kultural dan saintifik. Bukti-bukti nyata mengenai sesuatu harus dibuktikan secara empiris atau melalui pengalaman langsung. Definisi ilmiah bagi mereka ialah apabila sesuatu itu dapat dilihat, didengar, dan diraba.

Karena itulah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dicapai indera, mereka hanya mampu berspekulasi.

Sementara itu bagi setiap Muslim, wahyu adalah bagian dari apa yang orang Barat sebut sebagai sesuatu yang “ilmiah.”

Islam memiliki konsep khabar shadiq (kabar yang benar). Khabar shadiq ini datang dari dua wahyu Allah; Al-Quran dan Sunnah Nabi yang mutawattir.

Sebagaimana kata Hamid Fahmi Zarkasyi, “Dalam Islam, sejauh apa pun pikiran kita berpetualang, wahyu akan tetap menjadi obornya.”[2]

Sehingga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep Tuhan, agama, manusia, surga-neraka, hari akhir, dan sebagainya, setiap Muslim tidak perlu berspekulasi. Dan memang dilarang berspekulasi. Sebab semuanya telah dijelaskan di dalam Al-Quran dan Sunnah.

Seorang Muslim hanya perlu menggalinya dengan metodologi yang tepat.

Kanker Epistemologis

Masalahnya, selain menolak wahyu, mereka juga mengidap apa yang Syamsuddin Arif sebut dengan “Kanker Epistemologis.”[3]

Gejala-gejala yang ditimbulkannya cukup jelas.

Pertama, mereka bersikap skeptis terhadap segala hal. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Meskipun hal tersebut merupakan hal yang qath’i bagi seorang Muslim dan telah dijelaskan melalui wahyu. Perkara-perkara tersebut masih bebas untuk diperdebatkan.

Kedua, berpaham relativistik. Sehingga jika seorang Muslim menjunjung tinggi wahyu, ia tidak boleh menganggap hal tersebut sebagai hal yang paling benar. Seorang relativis berpikir untuk menerima dan menganggap semuanya benar.

Ketiga, mengalami kekacauan ilmu. Ia tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan yang salah. Sehingga konsekuensinya sesuatu yang salah bisa dianggap sebagai kebenaran, begitu pun sebaliknya.

Selain itu, anggaplah mereka yang pikirannya belum terwarnai dengan Worldview of Islam menerima Al-Quran, tetapi ketika menggali sesuatu darinya, mereka tetap saja menafikan konsep wahyu.

“Level berikutnya adalah Al-Quran sebagai data sejarah, yakni sebagai teks yang secara historis berada di tengah-tengah umat Islam. Ia menjadi sumber, fondasi, dan ilham bagi norman dan aturan-aturan yang mengatur kehidupan umat Islam. Pada level inilah, Al-Quran bisa diinterogasi secara ilmiah, dianalisa, diinterpretasikan, dan seterusnya,” tutur Ulil Abshar Abdalla.[4]

Bagi Ulil, Al-Quran sebagai wahyu dan data sejarah harus dipisahkan. Pengkajian ilmiah atas Al-Quran bersifat relatif, karena mengandalkan asumsi, sehingga bersifat kondisional dan provisional. Dari sini, maka tidak heran muncullah Tafsir Hermeneutika. Mengganggap Al-Quran sebagai kitab biasa, sehingga bisa ditafsirkan sebebasnya.

Memang benar bahwa tafsir itu bersifat relatif. Para mufassir terdahulu hingga yang kontemporer tidak pernah ada yang mengklaim bahwa tafsirnya adalah tafsir yang paling benar. Paling sesuai dengan maksud Allah Swt.

Tetapi ketika menafsirkan Al-Quran, mereka menggunakan metodologi yang sesuai prosedur dan memenuhi segala persyaratannya. Syaikh Manna Al-Qathan menjelaskan setidaknya ada 9 syarat bagi mufassir untuk menafsirkan Al-Quran.[5]

  1. Akidah yang benar. Maka mereka yang tidak mempercayai Tuhan, menganggap Tuhan itu lebih dari satu, mengatakan bahwa ada nabi setelah Rasulullah Saw., tidaklah memenuhi persyaratan.
  2. Bersih dari hawa nafsu, sehingga tidak ada keinginan untuk membela kepentingan kelompoknya sendiri apalagi kepentingan orang-orang yang membayarnya.
  3. Lebih dahulu menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran.
  4. Mencari penafsiran dari Sunnah.
  5. Melihat pendapat para shahabat mengenai ayat yang dimaksud.
  6. Merujuk kepada pendapat para tabi’in.
  7. Memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik. Bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga menguasai ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan sebagainya.
  8. Memiliki pengetahuan mengenai Al-Quran. Di antaranya adalah ilmu qira’at, ushul at-tafsir, asbab an-nuzul, nasikh-mansukh, dan lain-lain.
  9. Pemahaman yang cermat untuk menyimpulkan makna dari ayat-ayat tersebut.

Tidak hanya sampai situ, seorang mufassir juga mesti memiliki adab yang baik. Niatnya lurus karena Allah, berakhlak mulia, mengamalkan ilmunya, jujur dalam penilainnya, serta siap mengikuti metodologi yang telah ditetapkan di atas.

Data sejarah—seperti asbab an-nuzul—perlu dipisahkan dalam arti bahwa fakta sejarah tidak menjadi penilaian utama dalam mengambil kesimpulan hukum.

Data tersebut hanya membantu untuk memahami ayat-ayat Allah. Dalam hal ini berlaku kaidah, “Yang dianggap adalah lafazh yang umum, bukan sebab yang khusus.”[6]

Misal, firman Allah berikut, “Kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa itu dari neraka, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi ia memberikan semua itu semua semata-mata karena mencari keridhaan Allah, Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak ia benar-benar mendapatkan kepuasan.” (Qs. Al-Lail: 17-21)

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar. Tetapi apakah hanya Abu Bakar ra. yang bisa memperoleh keutamaan demikian. Jumhur ulama—dan ini merupakan pendapat terkuat—berkata bahwa yang menjadi pegangan adalah lafazh yang umum.

Apabila umat Islam lain melakukan hal yang dikerjakan seperti Abu Bakar, ia bisa mendapatkan keutamaan serupa. Berupa ”Dan kelak ia benar-benar mendapatkan kepuasan.”

Begitulah Worldview of Islam membimbing manusia menuju jalannya yang tepat. Banyak hal yang tidak diketahui manusia. Dan wahyu turun sebagai petunjuk serta menjawab persoalan-persoalan tersebut. Tak hanya itu, wahyu pun mengarahkan manusia agar akalnya mampu berpikir lurus sesuai jalan Tuhannya. Inilah poin utama yang tidak dimiliki oleh worldview peradaban lain.


[1] Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam, (Jakarta: INSISTS, 2012), hlm. 242

[2] Ibid, hlm. 244

[3] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani Press, 2008), hlm. 140-142

[4] Ulil Abshar Abdalla, Alquran Sebagai Wahyu dan Fakta Sejarah, http://islamlib.com/kajian/quran/alquran-sebagai-wahyu-dan-data-sejarah/, diakses pada tanggal 22 Maret 2016 pukul 14.00 WIB

[5] Manna Al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 414-418

[6] Ibid, hlm. 102-104

Recent Posts

  • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
  • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
  • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
  • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
  • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Recent Comments

  1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
  2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
  3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Archives

  • August 2025
  • July 2025
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023

Categories

  • Books
  • Lifestyle
  • Thoughts
© 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme