HaryBlog.com

Sepena Sekata

Menu
  • Home
  • Review
    • Books
  • Thoughts
Menu

Category: Books

sang-pangeran-dan-janissary-terakhir

Resensi Buku Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Posted on February 6, 2023February 2, 2023 by admin

Sejarah adalah milik para pemenang. Adagium itu terlintas dalam lamunan ketika saya tengah mengikuti kelas Sekolah Pemikiran Islam beberapa tahun silam. Tepatnya saat pembicara berpesan, “Hari ini kita kekurangan ahli sejarah. Bayangkan, penelitian mendalam mengenai Pangeran Diponegoro justru dilakukan oleh Prof. Peter Carey, sejarawan yang bukan asli orang Indonesia.”

Tidak banyak yang saya ingat mengenai Sang Pangeran, kecuali kekaguman atas gelarnya yang terdengar islami. Itu pun saya lupa lengkapnya. Sisanya, sayup-sayup terlukis nama Kyai Mojo dan makam leluhur yang terimbas pembangunan jalan sehingga meletuskan Perang Diponegoro.

Barulah belakangan saya tahu, teori yang diajarkan sejak SD itu memang diambil dari arsip-arsip Belanda. Benar, kan? Sejarah memang milik para pemenang.

Lalu, apa yang sebenarnya melatarbelakangi perang pada 1825-1830 itu?

Syukurlah, referensi peradaban tanah air tidak putus sepenuhnya melalui kelahiran novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir. Inilah novel pertama yang ditulis oleh Salim A. Fillah. Walaupun, sebagian dari kita mungkin sudah terbiasa mereguk hikmah dalam buku-buku beliau lainnya, yang banyak menuturkan kisah menakjubkan.

Tentang Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir ditulis menggunakan plot maju-mundur dengan sudut pandang orang ketiga. Sesuai judulnya, novel ini tidak hanya menyoroti Pangeran Diponegoro, terutama menjelang berakhirnya masa perang. Melainkan juga petualangan Nurkandam Pasha dan kawan-kawan yang berusaha membantu atas nama pasukan elit Turki Utsmaniyah, Janissary.

Dari situ kita bisa menebak bahwa Perang Diponegoro bukan perang lokal biasa. Demi mengalahkan pasukan multinasional, tidak cukup bermodalkan semangat kesukuan saja.

Sebagai fiksi sejarah, novel setebal 632 halaman ini menyajikan banyak fakta menarik. Mulai dari latar belakang terjadinya perang, alasan mengapa Janissary harus turun tangan, perseteruan Daendels dan Van den Bosch yang bekerja di bawah dua kekaisaran berbeda, hingga kronologi pengasingan Pangeran Diponegoro.

Riset mendalam, sebagai puzzle yang hilang di banyak novel Indonesia, tersusun apik di dalam novel. Kaya diksi, tanpa harus berputar-putar dan sok menyastra. Pembaca juga bisa lebih mengenal aneka makanan khas dari berbagai negara. Namun, terkadang saya masih bingung dengan beberapa gambaran mengenai deskripsi lokasi maupun bangunan. Ya, mungkin karena baru mendengarnya.

Sisi menarik lainnya, berulang kali kata “Maktub” tertuang di tengah dialog. Ini mengingatkan saya pada masterpiece Paulo Coelho, Sang Alkemis. Keduanya sama-sama mengajak kita menginsyafi diri bahwa segala sesuatunya telah tertulis. Termasuk pecahnya Perang Diponegoro, yang ternyata menggelindingkan bola salju kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagaimanapun, bagi sebagian orang, sebuah novel masih belum kuat dijadikan sebagai referensi sejarah. Tapi kita berdoa dan berharap, dari yang belum sempurna ini mampu mendorong lebih banyak orang untuk mengupas lebih jauh warisan sejarah bangsanya sendiri.

Judul: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Terbit: 2019
ISBN: 978-623-7490-06-7

memory-of-glass-novel

Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh

Posted on February 4, 2023February 2, 2023 by admin

Polisi bilang, aku melaporkan diriku sendiri.
Kata mereka, aku membunuh seorang pria.
Hanya saja… aku tidak ingat.
Aku tidak ingat pernah melapor, apalagi membunuh orang.
Sebenarnya, apa yang terjadi?

Setelah menamatkan Giselle, saya tidak terlalu mengikuti kabar mengenai novel terbaru Akiyoshi Rikako. Buka Instagram Penerbit Haru pun sekadar scrolling. Sampai seorang teman bertanya, “Sudah ikutan pre order Memory of Glass?”

Hah?

Tidak lama kemudian saya mengulik infonya, tapi masih menahan diri untuk membeli. Maklum, harganya lumayan *peace sign. Buah kesabaran memang tidak pernah mengecewakan. Akhirnya beruntung mendapatkan diskonan di Islamic Book Fair 2020, sekaligus belanja novel Murder at Shijinso yang pada tahun 2019 sudah difilmkan.

Apa yang menarik dari Memory of Glass?

***

Ingatan bak Kaca

Seperti biasa, kesan kelam menyelimuti novel-novel karangan cerpenis Yuki no Hana ini. Terlebih, penerbit mendesain sampul berwarna dominasi hitam, lengkap dengan gambar seorang wanita yang memegang pisau di antara pecahan kaca. Atmosfer honkaku mystery yang berisi teka-teki pembunuhan pun semakin membuat bulu kuduk merinding.

Lembar cerita dibuka melalui penuturan Kashihara Mayuko yang tiba-tiba mendapati dirinya berada di rumah sakit. Tetapi ia tidak ingat apa pun. Wanita berusia 41 tahun itu bahkan masih merasa sebagai seorang siswi SMA.

Di tengah kebingungan itu, Kiritani Yuka dan Nomura Junji berdiri di hadapannya. Dua detektif tersebut menjelaskan semua yang terjadi secara perlahan. Termasuk mengenai Mayuko yang melaporkan dirinya telah membunuh seseorang dan penyakit Gangguan Fungsi Eksekutif Otak yang membatasi ingatannya.

Korban bernama Gouda. Pria yang membunuh kedua orang tua Mayuko sekitar dua puluh tahun silam secara sporadis di pinggir jalan Ginza. Mayuko berusaha lari. Malangnya, ia tertabrak mobil yang dikendarai Mitsuharu, yang kini menjadi suaminya. Karena luka di bagian otaknya, ingatan Mayuko ibarat kaca: rapuh, mudah pecah, bahkan hanya bertahan selama 10-20 menit.

Penyelidikan berjalan alot. Padahal tersangka sudah di depan mata, tetapi bukti tidak mencukupi dan nihil saksi mata. Bantuan dari Mitsuharu pun tampaknya kurang memberikan titik terang,

Saat itulah muncul sosok Yonemori Hisae. Kepada kedua detektif di atas, ia menerangkan berbagai kejanggalan selama penyelidikan. Kasih sayangnya yang ingin menyelamatkan Mayuko turut melahirkan kecurigaan pada Mitsuharu. Ia juga tidak segan menyewa Ogio Masamichi, pengacara muda yang namanya cukup dikenal di dunia penggiat HAM.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Mayuko yang mudah lupa itu benar-benar bisa membunuh seseorang? Atau jangan-jangan, ada pihak ketiga? Siapa yang harusnya Mayuko… eh, yang harus pembaca percayai?

***

Dua Sudut Pandang

Alur cerita kali ini berjalan dalam tempo yang agak lambat. Akiyoshi Rikako secara jeli menyusun berbagai kepingan puzzle yang menghadirkan detail-detail kecil kepada pembaca. Berkat penerjemahan yang apik, detail tersebut tidak terasa membosankan. Pembaca lagi-lagi dibuat penasaran, menerka-nerka, sekaligus menata akhir cerita di benaknya sendiri.

Tempo yang lambat ini juga disebabkan karena penulis memakai dua sudut pandang berbeda. Pada satu bab, cerita berpusat di Mayuko dengan sudut pandang orang pertama. Kita bisa ikut merasakan betapa polosnya penderita gangguan otak yang hampir setiap saat harus segera menulis apa yang terjadi di secarik kertas atau tangannya sendiri. Penuh kesedihan, penuh penderitaan.

Lalu pada bab lain, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yang menyoroti kehidupan Kiritani Yuka. Di sela pekerjaan, ia juga harus merawat ibunya yang menderita gangguan otak serupa. Lebih tepatnya demensia tipe Alzheimer.

Plot twist yang tersaji mungkin tidak terlalu mengejutkan. Apalagi kalau sudah membaca Holy Mother. Ekspektasi kita barangkali berlebihan. Meski begitu, ending cerita justru menghangatkan hati hingga meleleh.

Pembaca disentak dengan kenyataan betapa sulitnya merawat orang-orang dengan penyakit seperti Mayuko. Bahkan apabila orang tersebut adalah keluarga kita sendiri, terlebih orang tua. Perilaku mereka seperti anak bayi. Tapi bayi pun punya “masa depan” dan kita hanya harus bersabar beberapa tahun lagi sampai mereka dewasa. Tetapi orang yang sudah tua? Mereka tidak akan tumbuh lagi. Di tengah keputusasaan itu, kita pun harus siap menelan pil pahit kehilangan.

Terima kasih, Sensei. Benar-benar novel yang luar biasa!

“Tidak melakukan apa yang tidak bisa dilakukan itu, tidak buruk dan tidak salah. Tidak ada artinya memaki diri sendiri atau tertekan oleh rasa bersalah.” (h. 345)

Judul: Memory of Glass
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 360 halaman
Cetakan: I, November 2019
Nomor ISBN: 978-623-7351-21-4

girls-in-the-dark

Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Posted on February 2, 2023February 2, 2023 by admin

Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Awal kali saya berjumpa dengan novel ini sekitar tahun 2017 silam. Tepatnya ketika cuci mata di Gramedia Matraman. Dan pertemuan tersebut begitu menggoda. Mulai dari tampilan sampul, ukuran buku yang pas di genggaman tangan, hingga narasi sinopsisnya.

Sayang, dompet saat itu mirip peci: tipis! Tahu sendiri, kan, kalau di Gramedia itu nggak ada diskon. #eh

Syukur ada kesempatan di International Indonesia Book Fair (IIBF) tahun ini. Waktunya hunting buku diskonan berbekal uang hadiah lomba Resensi Pergi Tere Liye (#sombong).

Seperti biasa, booth Penerbit Haru terbilang unik. Di booth yang juga menjual sejumlah aksesoris itu, gelombang kalap sudah tidak bisa dibendung. Tiga buku segera dibungkus mbak-mbak kasir: Girls in the Dark, The Dead Returns, dan Holy Mother dari penulis yang sama.

Beberapa minggu setelahnya, tangan seolah tak sabar membuka Girls in the Dark. Zalim sih sebenarnya. Banyak buku yang dibeli berbulan-bulan lalu, belum dibaca sampai sekarang. Sedangkan ini ada anak kemarin sore datang ke rumah, langsung bertahta di atas singgasana.

Untung mereka nggak bikin demo.

***

Kematian Menggemparkan

Cerita bermula dari kegemparan di SMA Katolik Putri Santa Maria atas kematian Shiraishi Itsumi. Anak pengelola sekolah tersebut bersimbah darah sambil memegang setangkai bunga lily, terlentang di bagian teras seolah jatuh dari lantai atas.

Apakah gadis cantik itu dibunuh? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu.

Seminggu kemudian, enam gadis dari Klub Sastra yang dulu diketuai oleh Itsumi mengadakan pertemuan. Sumikawa Sayuri, selaku wakil ketua, memimpin kegiatan yami-nabe di salon sastra mereka yang berkelas.

Seluruh peserta akan memasukkan bahan-bahan aneh yang mereka bawa ke dalam panci dan semua orang harus memakannya di tengah kegelapan. Bahannya bisa berupa benda yang bisa dimakan maupun tidak, asal tetap higienis. Selama kegiatan berlangsung, masing-masing peserta wajib menulis cerita pendek sekaligus membacakan naskahnya.

Inilah gairah sesungguhnya yami-nabe. Terlebih, Sayuri telah menetapkan tema khusus. “Iya. Tema kali ini adalah kematian Ketua Klub sebelumnya, Shiraishi Itsumi.” (hal. 15)

Siapa sangka, cerita pendek yang mereka buat ternyata berisi analisis siapa yang menjadi pembunuh Itsumi.

Naskah

Naskah pertama: Tempat Berada oleh Nitani Mirei. Murid kelas 1-A itu mengisahkan kehidupannya yang di bawah kecukupan, orang tua yang bercerai, serta kebanggaannya setelah memperoleh beasiswa. Ia juga mendeskripsikan ketakjubkannya pada kebaikan dan keanggunan Itsumi hingga undangan untuk bergabung dengan Klub Sastra, kelompok elit yang tidak semua orang dapat memasukinya.

Di akhir cerita, Mirei melempar tuduhan pada Koga Sonoko sebagai pembunuh Itsumi. Bunga lily mengandung pesan, “Yang membunuhku adalah perempuan dengan harum bunga lily.”

Naskah kedua: Macaronage oleh Kominami Akane. Akane merupakan anak pemilik sebuah restoran Jepang ternama. Ayahnya sendiri yang menjadi koki. Hatinya merasa sakit setelah tahu restoran akan diwariskan kepada kakaknya. Demi terus memupuk semangat, ia pun mulai menekuni masakan Barat.

Dapur salon sastra menjadi dunia kecilnya. Ibarat istana yang dilengkapi bahan masakan kelas satu serta peralatan masak terlengkap dan terbaik di dunia. Walau tersirat, murid kelas 2-B itu menganggap Mirei bertanggung jawab atas kematian Ketua Klub mereka.

Naskah ketiga: Balkan di Musim Semi oleh Diana Detcheva. Seorang gadis yang berasal dari sebuah desa kecil di Bulgaria. Ia dan kakaknya, Ema, menjadi pemandu Itsumi untuk mengelilingi desa sekaligus mengunjungi sejumlah objek wisata bersejarah dalam program semester pendek.

Diana kemudian terpilih sebagai peserta murid internasional karena Ema tiba-tiba mengalami kecelakaan. Sepanjang kehidupannya di sekolah, Diana menemukan fakta bahwa tangan Takaoka Shiyo telah berlumur darah Itsumi.

Naskah keempat: Perjamuan Lamia oleh Koga Sonoko. Anak jurusan IPA, sekelas dengan Itsumi, serta sama-sama bermimpi menjadi dokter. Selain sebagai anggota Klub Sastra, tahun ini ia juga menjabat sebagai ketua perayaan Paskah dan Pantekosta. Super sibuk.

Tetapi berbagai kegiatan tersebut justru mengantarkannya membuat kesimpulan bahwa pembunuh sebenarnya ialah Diana.

“…Darah? Lamia. Tukang sihir. Setan pengisap darah. Hamba iblis…” (hal. 186)

Naskah kelima: Pengibirian Raja Langit oleh Takaoka Shiyo. Bisa dibilang, murid kelas 2-C ini adalah anggota pertama yang direkrut Itsumi. Namanya tersohor sejak merilis novel remaja ringan, Kimi-kage Sou.

Baginya, Itsumi bak kakak idaman. Sebab itu, dirinya menyesal setelah menyaksikan Akane mendorong Itsumi di teras.

Cerita pendek siapa yang dapat dipercaya?

***

Penuh Twist

Secara garis besar, cerpen yang disusun setiap anggota mempunyai pola yang sama. Mendeskripsikan kehidupan mereka, luapan emosi kegembiraan karena bergabung dengan Klub Sastra, kekaguman pada kesempurnaan Itsumi, sampai menyusun teori pembunuhan.

Di sinilah letak kejeniusan Akiyoshi Rikako yang membuat pembaca menerka-nerka hingga akhir bab. Terutama ketika pembacaan naskah keenam oleh Sumikawa Sayuri berjudul Bisikan dari Kubur, cerpen yang ditulis oleh Itsumi sendiri. Loh?

“Ah, sial. Ternyata…”

Saya tidak tahu banyak tentang sastra Jepang, tapi ada ketertarikan untuk membacanya. Novel ini adalah yang kedua, setelah sebelumnya saya menghabiskan Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga). Di lain waktu, mungkin saya ingin menyicipi karya-karya Haruki Murakami. Katanya sih fantasinya di luar nalar.

Sebagai penggemar serial Sherlock Holmes dan detektif-detektif Agatha Christie, Girls in the Dark berhasil menyajikan twist sempurna. Alur yang sulit ditebak, lengkap dengan petunjuk-petunjuk yang membingungkan.

Pembaca pun dibuat terhenyak karena ternyata setiap anggota Klub Sastra memiliki rahasia kelam. Topeng yang menutupi kebusukan hati. Misterinya berjalan lugas, tanpa bumbu thriller atau horor khas negeri sakura. Memang ada beberapa bagian yang salah ketik serta terlalu banyak penggunaan kata ganti “aku”. Sedikit mengganggu, tapi jadi tidak terasa karena gaya bahasa penerjemahannya yang kaya diksi dan membuat cerita mengalir dalam tempo cepat. Perpindahan sudut pandang pada setiap cerpen dibangun sedemikian rupa sehingga pembaca merasakan perbedaan karakter yang cukup dalam.

Novel ini tepat bagi dua orang. Pertama, para pecinta teka-teki. Kedua, mereka yang ingin belajar menguatkan karakter pada tokoh novel atau cerpen.

“Siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang memegang tongkat kekuasaan, siapa yang memilik wibawa… gadis-gadis itu mengendusnya, memilah-milahnya. Dan kalau ada kesempatan, mereka mengincar untuk merebutnya. Begitulah yang saya lihat tentang siswi SMA di Jepang.” (hal. 129)

“Pegang rahasianya, rebut tempatnya berada, dan sudutkan. Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam jiwanya. Tidak ada kepuasan yang melebihi kepuasan itu.” (hal. 227)

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 289 halaman
Cetakan: XII, Januari 2018
Nomor ISBN: 978-6027742-31-4

  • Previous
  • 1
  • 2

Recent Posts

  • Belajar Pajak Bisa Lebih Asyik, Seperti Main Game!
  • Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam
  • Resensi Novel Kisah Sang Penandai – Tere Liye: Sampai Kapan Kamu Mampu Percaya?
  • Resensi Novel Tentang Kamu – Tere Liye: Pilihan Di Tengah Luka
  • Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna

Recent Comments

  1. Gen Z Cari Kost? Jangan Cuma Nyaman, Sekalian Cuan di NgeKost D’Paragon dan Djurkam on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa
  2. Resensi Ayat-Ayat Cinta 2: Islamopobia, Amalek, dan Fahri yang Terlalu Sempurna on Resensi Novel Pergi: Memburu Makna Hidup di Belantara Shadow Economy
  3. Resensi Novel Memory of Glass: Mencari Pecahan Ingatan Seorang Pembunuh on Resensi Novel Girls in The Dark: Siapa Ingin Membunuh Siapa

Archives

  • August 2025
  • July 2025
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023

Categories

  • Books
  • Lifestyle
  • Thoughts
© 2026 HaryBlog.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme